it’s about all word’s

Repotnya meliput Asean Summit

Posted on: April 28, 2011

Ajang pertemuan regional bangsa-bangsa Asia Tenggara (Asean Summit) ke-18 kurang dari sepekan digelar di Jakarta pada 4 Mei hingga 8 Mei 2011, namun para jurnalis peliput justru masih disibukkan dengan pengurusan kartu identitas peliputan.

Pendaftaran kartu peliputan Asean Summit sendiri dibuka pada 24 April dan ditutup pada 30 April. Seluruhnya dilakukan secara online. Setiap wartawan harus menyertakan lampiran digital surat tugas, pas foto, identitas diri dan identitas wartawan.

Sepintas hal ini praktis. Namun fakta menjawab lain ketika saya mencoba melakukan registrasi pada 25 April seluruh proses terlihat lancar-lancar saja namun mengkhawatirkan, maklum tidak ada pengumuman apakah pendaftaran tersebut berhasil ataukah gagal.

Jelas ini merepotkan karena pihak International Institute for Journalism (IIJ) of GIZ – Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH, Jerman sebagai pemberi beasiswa peliputan pun mengaku bingung dengan situasi ini.

“Tolong Anda berusaha secepatnya melakukan pendaftaran. Kami dari pihak GIZ tidak memiliki akses tersebut,” ujar penghubung GIZ dalam surat elektronik.

Menghitung hari tanpa pemberitahuan sama sekali, tiga hari berlalu tanpa perkembangan akhirnya saya mencoba menghubungi seorang kolega di media Jepang. Jawaban wartawati berambut ikal itu tak melegakan. “Saya mencoba mendaftar tapi gagal terus!” keluhnya sembari memberikan nomor telepon genggam sejumlah orang yang harusnya bertanggung jawab dalam pendaftaran kartu peliputan tersebut.

Sigap saya coba hubungi, sebut saja F, seorang pejabat di Kominfo yang bertanggung jawab. Gagal. Telepon genggam tak bereaksi. Kemudian saya coba nomor kedua, sebut saja W, pejabat di Kemenlu. Hasilnya sama. Telepon genggam keduanya tidak bisa dihubungi.

Akhirnya, demi menghindari dosa melanggar asas praduga tak bersalah saya mencoba mengirimkan surat elektronik kepada alamat sekretariat Asean. Hasilnya dalam hitungan kurang dari sejam, diberitahukan pendaftaran saya telah diterima, namun dokumen scan kartu wartawan saya gagal dilampirkan.

Belum juga kaget itu hilang, datang email dari seorang jurnalis asal Filipina yang kerepotan karena Kedutaan Besar RI di Manila mensyaratkan visa wartawan bagi mereka jika meliput Asean Summit.

Ini jelas sesuatu hal yang konyol mengingat RI dan Filipina bersama empat negara lain sudah memberlakukan bebas visa kunjungan bagi masyarakat Asean sejak 2006. Empat negara Asean lain yang belum memberlakukan undang-undang bebas visa kunjungan adalah Myanmar, Kamboja, Laos dan Vietnam.

Toh aturan ini rupanya tak berlaku, ketika saya terpilih International Institute for Journalism (IIJ)-Internationale Weiterbildung und Entwicklung gGmbH (Inwent), Jerman untuk meliput Asean Regional Forum (ARF) di Hanoi, Vietnam tahun lalu aturan visa wartawan tidak diterapkan.

Bahkan proses pendaftaran bagi jurnalis peliput terasa mudah di ajang yang dihelat pada 17 Juli hingga 24 Juli 2010 itu, Bisnis dan media-media lain cukup melakukan pendaftaran secara elektronik dengan melampirkan foto dalam bentuk digital.

Selesai mengisi seluruh formulir dan melampirkan foto, wartawan akan mendapatkan kode pendaftaran yang digunakan untuk melakukan pengecekan apakah permohonan kartu identitas tersebut sudah disetujui.

Saya yang kebetulan ceroboh, justru melupakan mencatat nomor registrasi tersebut sehingga harus dag dig dug menuju dan sesampainya di negeri sosialis yang mempecundangi Amerika tersebut.

Maklum, ARF kali itu sangat ketat karena sangat ditunggu-tunggu seluruh pihak. Mulai dari krisis penenggelaman kapal perang Korea Selatan, tudingan pengembangan senjata nuklir oleh Korea Utara hingga Myanmar yang akan menggelar Pemilu.

Belum lagi kehadiran wakil-wakil dari raksasa dunia seperti China dan Rusia, dan tentu saja polisi dunia, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton. Pendek kata, tanpa identitas bisa dipastikan tidak bisa masuk ke lokasi.

Alhasil batik yang sengaja dikenakan untuk pamer di depan delegasi Malaysia tidak membuat percaya diri tumbuh, justru resah dan gelisah ketika menuju lokasi digelarnya ARF. Maklum di leher ini belum tergantung identitas resmi.

Beruntung, begitu sampai di lokasi. Identitas peliputan telah siap sedia. Hati senang menjalankan tugas melaporkan jalannya sidang meski harus bertemu para penjaga yang tak mampu berbahasa Inggris.

Namun kali ini, di negara sendiri yang menyandang gelar kehormatan Keketuaan Asean, tahap awal untuk melakukan tugas peliputan justru terasa tidak ringan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: