it’s about all word’s

Behind Muammar Gaddafi lines

Posted on: June 15, 2011

Pemimpin Libya, Muammar Gaddafi sungguh perkasa. Borbardemen berton mesiu dari udara oleh NATO dan gempuran pasukan binaan negara-negara Barat sejak Februari lalu tak kunjung kuasa menjungkalkannya.

Sebagian memuji Muammar Gaddafi karena memiliki tentara yang sangat terlatih dan loyal. Sebagian pihak lagi menuding karena besarnya dana Libya yang beredar di dan dikelola oleh lembaga swasta Barat.

Ada pula yang menuding karena Barat setengah hati melibas Libya karena perang kepentingan. Maklum ada cadangan minyak yang selalu menjadi rebutan Barat tiap kali melakukan invasi dengan topeng penegakan HAM.

Media sebagai pintu informasi pun terbelah antara yang rajin memberitakan kekejaman tentara Libya dan tentu saja yang mengabarkan aksi obral bom NATO yang mengakibatkan rakyat sipil tewas.

Usul punya usut ternyata di balik kisruh Libya terdapat aksi para ahli komunikasi. Seperti halnya kampanye dan pemilu, para ahli komunikasi yang digunakan Libya tersebut berperan menciptakan disinformasi atau mengontrol pemberitaan.

Para ahli komunikasi itu bagaikan tangan-tangan di balik kegagahan sosok Gaddafi dan dipercaya masih berperan hingga saat ini yang konyolnya seperti dikutip dari Guardian, perusahaan humas yang digunakan oleh Libya tak lain dan tak bukan berasal dari Amerika Serikat.

Tercatat di balik Perang Teluk 1991, Kerajaan Kuwait menyewa Hill & Knowlton untuk melakukan kampanye kekejaman Saddam Husein, kemudian invasi AS ke Irak 2003 beraksi The Rendon Group yang bermarkas di Washington

Sementara untuk Libya berperan Monitor Group yang meneken dana kehumasan bagi Libya senilai US$3 juta plus biaya akomodasi untuk mempercantik kesan Libya di dunia internasional.

Pada sisi lain, Monitor Group tidak saja menjadi humas bagi Libya karena ternyata Monitor Group terdaftar sebagai perusahaan lobi negara asing di bawah Foreign Agents Registration Act (FARA) yang dikontrol oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat.

Penggunaan jasa agen lobi di arena politik AS memang sah karena tercatat. Seperti dikutip dari laman pribadi Andreas Harsono, Bob Dole, mantan anggota senat Republik bos dari perusahaan lobi Alston & Bird LLP dibayar US$1 juta oleh pemerintah Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Andreas mengutip dokumen FARA mendapati kontrak yang diteken pada 1 Februari 2003 tersebut dimaksudkan untuk melonggarkan embargo bantuan militer AS bagi TNI. Sebuah kontrak mahal yang berhasil.

Menjangkau elit

Monitor Group adalah lembaga humas yang berdiri di Cambridge, Massachusetts pada 1983. Sosok di balik lembaga ini a.l. Mark Fuller, Michael Porter, Joseph Fuller, Stephen Jennings, Thomas Craig, Mark T Thomas.

Hingga saat ini Monitor Group memiliki lebih dari 30 kantor di 26 kota dunia termasuk Indonesia, dengan 1.500 karyawan. Antara 2006 hingga 2008, perusahaan ini secara resmi meneken kontrak dengan rezim Gaddafi senilai US$3 juta.

Dana tersebut dibayarkan untuk menggaji akademisi dan pembuat kebijakan di AS. Orang-orang penting itu difasilitasi untuk pergi ke Tripoli untuk bersua Gaddafi dan putranya, Saif al-Islam.

Tercatat nama-nama penting pembuat kebijakan AS yang menikmati duit tersebut a.l. Francis Fukuyama penulis buku The End of History, Richard Perle penasehat Presiden George W Bush yang dipercaya menjadi sosok di balik aksi pengganyangan Irak.

Sementara sejumlah akademisi terkenal yang ikut bergembira dengan gelimang uang Libya a.l. Anthony Giddens (London School of Economics), Benjamin Barber (Rutgers University), Joseph Nye (Harvard’s Kennedy School), Robert Putnam dan Michael Porter (Harvard Business School).

Tentu saja, reaksi orang-orang yang pernah sukses digaet Monitor Group tersebut beragam. Ada yang membantah, ada pula yang memilih diam. Ada pula yang secara kesatria mengakui.

Fukuyama salah satunya yang memilih bungkam. Sementara Putnam si profesor tenar Harvard itu berkilah ke Tripoli untuk melakukan studi tentang Libya termasuk bertemu perawat Gaddafi yang berasal dari Bulgaria tersebut.

Sementara Nye mengakui menerima bayaran untuk konsultasi yang dia berikan ketika pergi ke Libya pada 2007. “Sebagai seorang yang menulis politik internasional, saya tentu penasaran ingin bertemu Gaddafi.”

Nye atas ‘bantuan’ Monitor Group akhirnya bertemu Gaddafi untuk beberapa jam dan menulis sebuah artikel untuk The New Republic.

Monitor Group juga berperan menggarap buku biografi Gaddafi dan melobi kampus London School of Economics dalam hal penggarapan disertasi Saif al-Islam. Kedua proyek ini boleh dibilang gagal.

Serupa The Rendon Group yang memfasilitasi sejumlah jurnalis untuk meliput perang Irak, hal serupa dipercaya dilakukan Monitor Group dengan indikasi media yang meliput ke Libya hanya sampai ke Tripoli.

Melihat besarnya cakupan kerja Monitor Group dan dukungan Libya, tidak heran jika mantan jubir Presiden Abdurrahman Wahid dan bos perusahaan humas Intermatrix, Wimar Witoelar kerap berkicau di akun twitter menuding adanya rekayasa dalam pemberitaan kondisi dalam negeri Libya. Bisa jadi benar.

*dimuat di bisnis indonesia 11/6/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2011
M T W T F S S
« May   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d bloggers like this: