it’s about all word’s

Indonesia drift battle and lifestyle

Posted on: June 15, 2011

Mendung masih memburamkan langit Sentul. Bercak sisa deras hujan masih jelas, namun bumi terasa panas. Dua kuda besi menggeram kencang. Ledakan-demi ledakan dari dapur pacunya nyalang, keduanya saling meliuk, menari dengan decit dan deru ban riuh menggasak aspal, saling membuntuti tanpa berusaha saling mendahului.

“One More Time!” sebuah suara menggema di ujung pengeras suara. Sorak sorai dan tepuk tangan penonton semakin riuh. Hujan yang sempat mengguyur tak membuat penonton Achilles Drift Battle dan Achilles Corsa D3 round 1 bubar.

Sudah tiga kali juri drifiting, Rendison, Denny Pribadi dan Mark AW meminta One More Time (OMT) dalam pertarungan babak final antara Muhamad ‘Wawan’ Hermawan melawan Danny Ferdito.

Tiga kali OMT, tiga kali pula Wawan yang baru berusia 18 tahun harus bertarung dengan Danny yang berusia 21 tahun. Pertarungan sengit. Ini pertarungan gengsi antar dua pabrikan ban besar Tanah Air.

Wawan membela Achilles Drift Team sementara Danny membela GT Radial Drift Team. Tiga kali bertarung, akhirnya subyektivitas juri jatuh pada Wawan. Nilai? Poin? Ah lupakan! Ini soal cita rasa. Selera.

Drifting bagi penggila balap mobil adalah istilah umum. Bagi awam, bisa jadi yang terbayangkan justru adu kebut layaknya balap mobil biasa. Padahal justru di ajang drift melampui pebalap di depannya justru bukan fokus utama. Semakin lekat membuntuti justru menjadi prioritas.

Dalam kompetisi drifting biasanya setiap pebalap saling adu terampil mengendari mobil dengan cara mengendalikan mobil berada dalam posisi miring dan meluncur selama mungkin di lintasan yang telah ditentukan.

Satu pembalap di depan, lalu pebalap lain membuntuti. Setelah menyentuh garis akhir, posisi beralih. Pebalap yang awalnya di depan gantian di belakang, mengikuti teknik yang dimainkan pebalap di depannya. Demikian seterusnya sampai juri menentukan pemenangnya.

Tren nge-drift ini populer di Jepang, sebelum akhirnya merambah negara-negara seperti Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Sejak empat tahun terakhir, drifting menjadi tren tersendiri di kalangan penggemar balap amatir. Tren hidup karena tidak memerlukan banyak tetek bengek aturan. Cukup bermodal mobil prima dan kemampuan mengemudi mumpuni.

Layaknya mobil balap, mobil yang digunakan pun bukan mobil kebanyakan yang melintas di jalanan. Modifikasi membuat kaki-kaki lebih kekar, mesin lebih gahar dengan biaya mencapai Rp100 juta hingga Rp500 juta.

Soal ijin ngepot? Ah lupakan! Ini murni ajang uji terampil mengendalikan laju mobil dari balik kemudi, tanpa butuh lisensi khusus. Itu sebabya, peminat drifting semakin didominasi pebalap belia belasan tahun.

Demas Agil misalnya, mulai mengenal drifting pada 2009 saat usinya masih sekitar 17 tahun. Kini, di usia 19 tahun, Demas adalah senior di GT Radial Drift Team dan berkali-kali menyabet penghargaan dalam berbagai kejuaraan di tingkat nasional.

Simak juga Mico Mahaputra. Baru menapak usia 14 tahun, pelajar SMP Bhakti Mulya berjuluk ‘Crazy Kid ini sudah menyabet penghargaan nasional.

Menurut Anto, seorang mantan pembalap, tren drifiting di kalangan anak muda ini memberi dampak positif, terutama untuk ajang menuntaskan bakat atau kegemaran anak-anak di bidang balap mobil sekaligus menghindarkan pengaruh negatif pergaulan usia remaja.

“Kebanyakan anak-anak yang gemar drifting ini di dukung orangtuanya. Kebetulan mereka juga bekas pebalap. Prinsipnya, daripada terjebak hal-hal negatif, ya lebih baik ke arena balap,” ujarnya.

Mila Indrasari, ibu dari pebalap muda Demas Agil, mengatakan dirinya mendukung yang dilakukan anaknya dalam dunia drifting. Alasannya karena dengan mengarahkannya ke sirkuit, dirinya bisa mengurangi khawatir bila mereka melakukannya di jalan raya.

Agil mulai ikut dalam kegiatan otomotif sejak kelas 6 SD, meraih podium dengan ‘bonus’ patah tulang lengan kanan.

Sementara Ratih Widyawati, mantan model dan peslalom mengaku justru mengarahkan putranya, Mico Mahaputra untuk bertarung di arena drift. Tak tanggung-tanggung, Ratih justru sampai membuat tim drift untuk berlaga di arena nasional.

Soal hadiah yang diburu? Lagi-lagi lupakan saja. Jumlah hadiah yang diperoleh sangat tidak sebanding dengan modal yang harus dikucurkan. Ini soal kebanggaan dan memuaskan adrenalin.

*kerja bersama Stefanus Arief S & Rachmad Subiyanto versi lebih pendek dimuat Bisnis Indonesia 12/6/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2011
M T W T F S S
« May   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d bloggers like this: