it’s about all word’s

Arshad Chaudhry on interview

Posted on: June 18, 2011

Akhir 2010 PT Nestle Indonesia mewujudkan komitmennya untuk mengurangi produk impor dan meningkatkan penggunaan hasil bumi Tanah Air untuk mendukung lini produksinya. Untuk mengetahui perkembangan hal tersebut, saya ‘berbincang’ dengan Presdir PT Nestle Indonesia Arshad Chaudhry, berikut kutipannya:

Nestle mengembangkan kemitraan dengan para peternak sapi perah dan koperasi susu yang hingga 2009 mencapai jumlah sekitar 33.000 peternak yang tergabung dalam 31 koperasi dengan hasil produksi sekitar 650.000 liter susu segar per hari. Bagaimana tahun ini?

Untuk jangka panjangnya, kami berharap dapat meningkatkan pembelian susu segar dari para peternak sapi perah hingga 1,5 juta liter per hari.

Kami telah berkolaborasi dengan para peternak sapi perah, koperasi-koperasi dan pemerintah propinsi untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas susu segar di Jawa Timur.

Kami berharap dapat meningkatkan penerimaan pasokan (absorpsi) susu segar sekurang-kurangnya 10% setiap tahun.

Tahun lalu Nestle melakukan investasi senilai US$100 juta untuk membangun pabrik susu di Jawa Barat bagaimana perkembangannya? Kapan produksi perdana?

Kami berharap dapat menyelesaikan pembangunan pada akhir 2012 dan mulai kegiatan produksi komersial pada saat itu.

Berapa karyawan yang diserap?

Kami akan mempekerjakan sekitar 300–500 karyawan pada tahap awal. Kami akan memproduksi minuman MILO chocolate malt dan sereal bayi di pabrik ini.

Sejak 1994, Nestlé melalui tim agriservice memberikan bantuan teknis tentang cara memelihara kopi yang baik kepada 10.000 petani kopi di Tanggamus, Lampung. Berapa produksi yang diserap Nestle dan berapa target produksi kopi petani Tanggamus?

Kami membeli langsung sekitar 12.000 ton traceable green coffee atau kopi biji kopi yang bisa ditelusuri asal usulnya, karena kita mau menghindari pembelian kopi yang tidak merusak lingkungan terutama hutan dari para petani kopi di Lampung.

Produksi rata-rata per hektare pada 1994 hanyalah 400 kg, sejak itu kami telah memberikan dukungan teknis untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kopi di Lampung, dan sekarang produksi per hektarnya telah meningkat ke sebanyak 1-1,5 ton.

Tahun lalu Nestlé Internasional membeli sedikitnya 380 000 ton coklat. Berapa dari Indonesia?

Nestlé S.A membeli sekitar 360.000 ton Cocoa Bean Equivalent bubuk kakao dan produk-produk kakao lainnya dari seluruh pemasok di dunia termasuk dari Indonesia. Dari Indonesia mencapai sekitar 72.000 ton. Faktor penentu pembelian adalah kualitas dan harga.

Tahun depan Nestle diketahui menginvestasikan sedikitnya CHF 110 juta untuk program coklat internasional hingga 2022, bisa diceritakan hal itu?

Mengenai Rencana Kakao Nestlé, bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (ICCRI) di Jember, Jawa Timur.

Kerjasama dengan ICCRI sudah dilakukan sejak 1997 untuk membantu meningkatkan produktivitas dan kualitas produksi kopi dan kakao di Indonesia.

Kerja sama ini mencakup transfer teknologi metode inovatif perbanyakan tanaman secara In Viro (Somatic Embryogenesis) yang diaplikasikan untuk kopi dan kakao.

Dengan teknologi Somatic Embryogenesis, ICCRI telah berhasil dengan memperbanyak klon tanaman kopi dan coklat unggul untuk dijadikan jutaan bibit dengan cepat setiap tahunnya.

Untuk Rencana Kakao Nestlé kami berencana untuk memulai zona pilot, dan kami berharap dapat meraih sukses dalam mengembangkan bibit yang produktif dan memberikan dukungan teknis untuk mencapai target 1.000 ton/tahun untuk tahun pertama, untuk selanjutnya diimplementasikan di lokasi lain.

Bisa diceritakan lebih lanjut?

Sejak 2008, melalui teknik yang telah dipatenkan oleh Nestlé, ICCRI bekerja sama dengan pemerintah Indonesia telah sukses memproduksi lebih dari 45 juta bibit kakao dan lebih dari 2,5 juta bibit kopi.

Produksi bibit-bibit ini turut mendukung program pemerintah “Gernas Kakao” yang bertujuan untuk merevitalisasi perkebunan kakao di Indonesia. Usaha ini akan membantu meningkatkan daya saing para petani Indonesia di pasar internasional.

Target produksi kakao dari program ini?

Pada 2011, ICCRI berencana untuk memproduksi sekitar 70 juta biji kakao untuk program revitalisasi perkebunan di Indonesia.

Adakah universitas yang digandeng?

Mengenai kemungkinan keterlibatan universitas, kami perlu mengkaji komitmen dan kompetensi dari universitas tersebut.

Bisa disebutkan di wilayah mana program ini akan dimulai?

Terkait lokasi program, kami saat ini tengah mengkaji lokasi kakao di daerah.

*Edisi lebih pendek terbit di Bisnis Indonesia 17/6/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2011
M T W T F S S
« May   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d bloggers like this: