it’s about all word’s

Asa besar bagi pembantu rumah tangga

Posted on: June 18, 2011

Orang Jawa menyebut pembantu rumah tangga sebagai batur. Dalam versi sastra Jawa, sosok ini mengejawantah dalam sosok Punakawan. Berstatus pembantu dan pengasuh setia tokoh ningrat Pandawa maupun Kurawa, posisi mereka justru kerap sentral.

Sebagai wong cilik, mereka menjadi corong sang dalang melontarkan wejangan dan kritik sosial kepada audien. Dalam sastra Inggris, fungsi penyentil Punakawan direprestasikan pada tokoh The Fool dalam lakon Shakespeare, si pembantu setia King Lear.

Hubungan serba ribet ini bisa juga dipinjam Umar Kayam dalam sosok Pak Ageng dan Mister Rigen untuk kolom legendarisnya di Kedaulatan Rakyat atau sosok Sentilun (Butet Kartaredjasa) dan pakde Soes yang diperankan Slamet Rahardjo.

Pada tataran nyata, porsi ideal sang pembantu rumah tangga (PRT) saat ini belum tercapai. Komisi Nasional Perempuan bahkan mencatat PRT di Indonesia adalah salah satu pekerjaan perempuan tertua tetapi penuh kerentanan.

Jaringan Advokasi untuk Kerja Layak Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT) mencatat sepanjang 2007-2011 terdapat 726 kasus kekerasan dan penganiayaan berat yang dialami oleh PRT a.l. jam kerja yang panjang, beban berlapis, eksploitasi dan kekerasan seksual, akomodasi dan upah tak layak, dll.

Padahal dalam catatan Komisi Nasional Perempuan, PRT Indonesia menopang 2,5 juta keluarga di Indonesia. Meski demikian PRT merupakan tenaga-tenaga tak terlihat (invisible powers).

Menurut Yuniyanti Chuzaifah, ketua Komnas Perempuan, peran PRT di Indonesia memungkinkan berjalannya kehidupan ekonomi negara dan menopang kerja publik melalui institusi domestik yaitu keluarga.

PRT menjadi tumpuan banyak perempuan karena mudah diakses dan menjadi alternatif pekerjaan. Sedikitnya tiap tahunnya ada 600.000 – 700.000 perempuan Indonesia mengadu nasib sebagai PRT migran.

Sayangnya, menjadi PRT di luar negeri tak mudah, justru banyak persoalan! Alhasil pekerjaan PRT di dalam negeri banyak dijadikan tumpuan terutama di saat kondisi PRT migran masih beresiko mengalami kekerasan berlapis.

Repotnya menurut Ketua Umum Yayasan Jati Diri Bangsa, Brigjen TNI (Purn) Soemarno Soedarsono suka tidak suka, bangsa Indonesia kini berkarakter sebagai PRT yang marjinal.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Jati Diri Bangsa, sebanyak 20% yang merupakan para ibu dari kelas menengah, pada umumnya menyerahkan pengasuhan anak kepada PRT, karena kedua orang tua sibuk beraktivitas.

Sementara sisanya yakni 80% adalah para ibu dari golongan masyarakat bawah yang tidak mampu menyewa PRT atau bahkan dirinya sendiri menjadi PRT. Pada kondisi itu, para ibu yang bekerja sebagai PRT, karena kondisi dan situasi rumah tangga, menelantarkan anaknya begitu saja.

Tidak heran jika Yuniyanti Chuzaifah menyatakan melindungi PRT artinya melindungi perempuan dan menghargai pekerjaan domestik. Membiarkan pekerjaan PRT dalam situasi kerja yang tak layak sama artinya negara melakukan pemiskinan yang sistemik.

Harapan Jenewa

Meski demikian, kondisi ini tidak mirip drama Menunggu Godot karya Samuel Barclay Beckett. Pekan lalu sebuah pijar menyala dari konferensi ke-100 konferensi perburuhan Internasional (ILC) yang digelar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mulai 14 Juni lalu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Palais des Nations, Jenewa, Swiss secara berani mengangkat isu kesulitan para pekerja migran dan pekerja domestik dalam salah satu pikiran utama dalam pidatonya.

Seperti dikutip dari situs resmi Presiden, SBY berharap semua pihak mendukung konvensi ILO untuk pekerjaan yang layak bagi para pekerja sektor domestik, yang akan diputuskan dalam konferensi kali ini.

“Saya percaya bahwa konvensi tersebut dapat memberikan panduan bagi pemerintah pengirim maupun penerima untuk melindungi pekerja domestik migran ini. Ini adalah isu penting bagi Indonesia, karena sebagian besar dari pekerja migran kami adalah pekerja domestik,” kata Presiden.

Presiden yakin dengan adanya konvensi ILO untuk pekerja sektor domestik tersebut akan membantu Indonesia dalam memformulasikan legislasi dan undang-undang nasional yang efektif.

Hasilnya Konvensi ILO 189 diterima peserta konvensi. Sebanyak 396 suara mendukung, 16 tidak mendukung dan 63 abstein. Tentu saja pengesahan Konvensi ILO 189 bukan sebuah hadiah, tetapi merupakan hasil perjuangan selama 70 tahun.

Sejak 1956, pembahasan tentang pentingnya standar kerja layak bagi PRT sudah dibahas dalam forum konferensi perburuhan Internasional namun berhenti menjadi perdebatan.

Konvensi ini memuat prinsip-prinsip dan standar penting untuk perlindungan kerja dan pemenuhan hak PRT yang mencakup optimalisasi peran negara untuk memastikan kerja layak PRT.

Arti layak a.l. upah layak sesuai dengan standar nasional, jam kerja manusiawi termasuk menghitung jam kerja “ambang” (menunggu untuk bisa diakses), libur minimum sehari dalam seminggu, hak cuti khusus, cuti dan jaminan melahirkan, akomodasi yang layak atau PRT berhak menentukan mau tinggal bersama majikan/pengguna jasa atau terpisah, hak privasi, hak edukasi, hak berorganisasi, hak sebagai warga negara.

Selain itu, konvensi juga menegaskan pentingnya peran negara untuk membangun jaminan sosial, pengawasan terhadap kondisi kerja, pengawasan terhadap agen, dan pemastian hak-hak tersebut dalam kontrak kerja, penghapusan pekerja anak, memastikan PRT bebas dari kekerasan.

Besar harapan ditekennya konvensi akan menciptakan hubungan tuan-pembantu yang elegan serupa sosok Alfred Pennyworth, pembantu setia jutawan Bruce Wayne si manusia kalong Batman pembasmi kejahatan.

Sayangnya, dalam catatan Yuniyanti Chuzaifah masih harus ditunggu wujud konkrit ratifikasi Konvensi ILO 189 tersebut dengan mengimplementasikan dalam kebijakan nasional hingga daerah.

Maklum, terlalu lama PRT di Indonesia diposisikan marjinal serupa Tarmijah, sosok rekaan Iwan Fals dalam tembang Tarmijah dan problemnya di album Opini (1982) yang jenial memotret kondisi PRT Indonesia adalah pekerja keras, bisa kena marah dengan harga teramat murah.

*edisi lebih pendek terbit di Bisnis Indonesia 17/6/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2011
M T W T F S S
« May   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d bloggers like this: