it’s about all word’s

Menyambut semilir angin Shopaholic

Posted on: June 21, 2011

Pecinta dunia sastra dan film ngepop yang gaul tentu akrab dengan tokoh Rebecca Bloomwood, sosok fiksi dalam Confessions of a Shopaholic yang kemudian sukses dilayarlebarkan oleh sutradara P.j. Hogan dengan bintang Isla Fisher.

Sastra renyah karya jurnalis finansial asal Inggris Madeleine Wickham alias Sophia Kinsella ini sederhana, berkisah tentang Bloomwood,seorang penulis yang kecanduan berbelanja, ingin mengobatinya dan untungnya berakhir happy ending.

Hebatnya ketika dilayarperakkan, Confessions of a Shopaholic yang diproduseri sosok spesial film laris Jerry Bruckheimer memang berhasil mencuri perhatian. Maklum sang pemeran Bloomwood, Isla Lang Fisher asal Australia adalah penulis.

Shopaholic sendiri adalah sebuah istilah gaul bagi kondisi psikologi compulsive buying disorder (CBD) atau gangguan membeli tanpa terencana yang ditandai dengan obsesi terhadap kegiatan belanja dan membeli.

Perilaku yang lumrah disebut ‘lapar mata’ ini memiliki konsekuensi yang merugikan diri sendiri dan bisa merembet ke orang lain. Bagi diri sendiri mulai dari kantong kering, kantong jebol hingga diburu debt collector kekar, seram nan kejam—jika terlalu asyik menggesek kartu kredit.

Nah repotnya, gejala shopaholic atau lapar mata ini diam-diam semakin menggejala. Studi Nielsen Shopper Trends atas lima kota besar di Indonesia a.l. Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Makssar dan Medan yang kemarin dirilis mendapati 21% pembelanja semakin impulsif.

Dari lima kota yang disurvei pada Desember 2010 hingga 2011 dengan total 1.804 responden, kebiasaan membeli tanpa pikir panjang atau rencana ini banyak ditemui di Jakarta, Bandung, dan Surabaya..

Menurut Febby Ramaun, Associate Director dari Retailer Services di Nielsen gejala ini jelas lonjakan yang cukup berarti. Dia membandingkan ketika pada 2003, 15% dari pembelanja mengatakan bahwa mereka merencanakan apa yang akan mereka beli dan tidak pernah membeli barang tambahan.

“Tapi tahun ini ketika kami menanyakan pertanyaan yang sama, hanya 5% yang mengatakan mereka merencanakan apa yang akan mereka beli,’ ujarnya.

Pada 2011, 39% responden mengatakan meskipun mereka biasanya merencanakan apa yang akan dibeli, mereka selalu membeli barang tambahan, dibandingkan dengan 13% pada 2003.

“Pada 2003, 69% dari pembelanja mengatakan mereka mungkin membeli barang tambahan, tapi saat ini 39% mengatakan mereka selalu membeli barang tambahan.

Menurut Febby dengan perubahan perilaku ini, artinya pengecer harus menyediakan promosi dan kegiatan dalam toko yang efektif untuk mendorong pembelian yang lebih besar. Produsen juga perlu menciptakan produk inovatif dan berkolaborasi lebih banyak dengan pengecer untuk dalam menciptakan komunikasi dalam toko yang kreatif.

Pria mulai tergoda

Temuan menarik lain adalah pria-pria di lima kota yang disurvei Nielsen mulai tertular gejala gatal mata. Nielsen mendapati satu dari empat mereka yang melakukan belanja rumah tangga adalah pria atau naik 19% jika dibandingkan tahun lalu.

Pria makin menikmati kegiatan belanja, dengan sepertiga dari pembelanja pria mengaku benar-benar menikmati atau menyukai kegiatan belanja dan hanya 15% mengatakan mereka tidak menyukai belanja.

Mungkin temuan ini mengejutkan. Namun, dalam penelitian Jay H. Baker dari kampus Wapres RI Boediono, Wharton School yang dibukukan dengan judul ‘Men Buy, Women Shop’ dijabarkan psikologi belanja perempuan dan pria.

Menurut temuan tersebut perempuan senang berliku-liku meyusuri rimba koleksi pakaian dan aksesori atau bagian sepatu. Mereka suka untuk meluncur naik eskalator melewati kaca grand piano, atau semprot sana sini sampel parfum hingga kemudian melakukan pembelian.

Pria? Lebih mudah. Kegiatan belanja adalah sebuah misi. Ada target dan harus diselesaikan sesingkat singkatnya. Pendek kata: ‘Beli barang dan melarikan diri toko secepat mungkin!”

Febby menuturkan, dengan adanya temuan ini produsen dan pengecer dapat mengambil keuntungan dari meningkatnya jumlah pembelanja pria dengan menciptakan ‘kemudahan’ berbelanja bagi pembelanja pria.

“Sifatnya grab-and-go, atau membuat suasana belanja yang lebih ‘ramah-bagi-pria’ sehingga pria lebih menikmati kegiatan menyusuri toko,” lanjut Febby.

Fakta lain, dalam temuan tersebut, menurut Febby adalah kecenderungan pria untuk setia dengan pusat perbelanjaan. “Sekali merasa nyaman. Pria cenderung akan setia berkunjung.” Jadi wahai kaum pria mari belanja!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2011
M T W T F S S
« May   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d bloggers like this: