it’s about all word’s

Tak gentar pasar tradisional menantang

Posted on: June 22, 2011

Boleh-boleh saja kencang suara yang menuding bangsa Indonesia sudah kehilangan identitasnya. Lupa budaya dan kebarat-baratam. Namun, survei membuktikan, identitas tradisional bangsa Indonesia masih terlalu tegar.

Studi Nielsen Shopper Trends yang baru saja dirilis mendapati para pembelanja Indonesia konsisten dengan think globally act locally. Berpikir internasional, bertindak lokal. Setidaknya, ini tergambar dalam survei tiga tahun terakhir.

Dalam survei di lima kota besar di Indonesia a.l. Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Makassar dan Medan yang pekan ini dirilis mendapati gejala perkasanya saluran tradisional sebagai tujuan belanja bahan-bahan segar para pembeli Tanah Air.

Boleh saja masyarakat menengah Indonesia wangi bermobil sambil menenteng Blackberry, namun konsumen kita masih setia kepada tukang sayur keliling, warung atau pasar tradisional.

Yang hebatnya, pasar tradisional alias pasar yang identik dengan becek dan riuh rendah transaksi pembeli dan penjual justru paling gagah perkasa. Sejak 2008 hingga 2010, persentase pasar tradisional sebagai rujukan pembelian bahan segar terus menjulang.

Untuk komoditas sayur segar, pasar tradisional bergerak dari 34% pada 2008, kemudian 46% dan pada 2010 menyentuh 53%. Sementara untuk komoditas daging, persentase bergerak dari 62% hingga 70%. Angka serupa ditunjukkan pada komoditas ikan yang bergerak dari 55% hingga 67%.

Angka cukup menyedihkan dialami warung dan tukang sayur keliling yang cenderung mengalami penurunan. Meski demikian, jika digabungkan angka preferensi tujuan belanja, saluran tradisional masih gagah perkasa dibandingkan pasar modern.

Untuk tujuan belanja daging, sayuran dan ikan, saluran tradisional ada di angka yang bisa berarti sangat dipercaya kualitasnya. Bahkan untuk survei terakhir, saluran tradisional mencapai kisaran antara 85% untuk sayuran, 89% untuk daging dan 94% untuk ikan.

Pada sisi lain, data dari AC Nielsen pada 2006 menunjukkan pertumbuhan pasar modern per tahun mencapai 31,4 %, sedangkan pasar tradisional justru menyusut 8,1 % per tahun.

Sedangkan dari sisi pangsa pasar tahun 2009 pasar tradisional masih mendapat 80% dan pasar modern mendapat 20%, namun untuk 2010 sampai 2015 pangsa pasar tradisional terus mengerut. Menjadi 70% sampai 67%, sebaliknya pasar modern meningkat menjadi 30% sampai 37%.

Perlawanan ekonomi

Melihat persaingan pasar tradisional dan modern, kita seperti disuguhi teori Julius Herman Boeke tentang Indonesia yang mengalami dualisme ekonomi atau dua sistem ekonomi yang berbeda dan berdampingan kuat.

Teori yang dikemukakan meneer Boeke yang dipengaruhi Werner Sombart pada 1910, merupakan pisau analisis untuk menjawab ekonomi Indonesia yang merupakan pertemuan pasar yang kapitalistik dan tradisional.

Antara yang berangkat lewat dukungan regulasi dengan memiliki banyak kapital dan yang bergelut dengan keterbatasan kapital namun memiliki akar tradisional.

Namun, jika melihat sosiologi asal Prancis Pierre Bourdieu, pasar tradisional dengan keterbatasan kapital akan tetap bertahan dalam lewat kekurangan sekaligus kelebihannya di dalam masyarakat Indonesia yang ternyata memiliki kemampuan kapital baru sebatas di pasar tradisional.

Sehingga, jika studi Nielsen Shopper Trends menjadi rujukan pembangunan yang Pancasilais alias berpihak terhadap rakyat, tingginya kepercayaan pembeli Indonesia atas kualitas produk segar yang disediakan pasar tradisional bisa meyakinkan pemerintah untuk serius dengan program revitalisasi pasar tradisional.

Dalam catatan Kementerian Perdagangan mayoritas atau sekitar 95% dari 4.000 pasar tradisional kondisi fisiknya sudah tidak layak. Untuk itu Kementerian Perdagangan mengalokasikan anggaran sekitar Rp200 miliar di luar jumlah Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk revitalisasi sejumlah pasar tradisional tahun depan. Adapun DAK untuk revitalisasi pasar mencapai Rp500 miliar.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyebutkan DAK berfokus untuk memperbaiki 246 pasar. Sedangkan di luar DAK, kementerian menargetkan 120 pasar, dan 10 diantaranya akan menjadi pasar percontohan.

Maklum saja, meminjam pernyataan Guru Besar FE-UGM Yogyakarta, Mubyarto perekonomian Indonesia disamping bersifat dualistik juga bersifat “menolak”, dan berusaha “melawan” kekuatan ekonomi dan modal asing yang mencengkeramnya.

Jadi, jika boleh disimpulkan, ekonomi Indonesia adalah anti penjajahan termasuk terhadap kekuatan modal kuat di dalam negeri sendiri yang semakin dalam menancapkan kuku berkat rejim ekonomi yang liberal.

1 Response to "Tak gentar pasar tradisional menantang"

yang menjadi tantangan pasar tradisional itu hypermart dan minimart…mereka seringkali dekat dengan pasar tradisional. Banyak pemerintah daerah cuek dengan hal ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2011
M T W T F S S
« May   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d bloggers like this: