it’s about all word’s

Industri pendidikan yang membebaskan

Posted on: June 23, 2011

Pemain bass sekaligus penulis lirik jenial dari band legendaris Pink Floyd yang beraliran progresif rock, Roger Waters mungkin memang punya visi lebih saat menulis tembang Another Brick in the Wall (Part 2) untuk album The Wall yang dirilis pada 1979.

We don’t need no education! Kami tak butuh pendidikan yang mengungkung. Begitu pesan mudah dari Waters dalam single yang merajai tangga lagu dunia yang saat itu gelisah dengan pertentangan komunisme dan kapitalisme yang terwujud dalam Tembok Berlin.

Mungkin, dugaan saya demikian, semangat pendidikan yang membebaskan ini yang menginspirasi APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komputer) yang beranggotakan 850 Kampus Informatika dan Komputer serta 1560 Program Studi.

Lewat program NEXSUS (National E-ducation Xchange System for Undergraduate Studies) sehingga perguruan tinggi anggota APTIKOM di seluruh Nusantara dapat saling tukar mata kuliah melalui mekanisme credit earning dan credit transfer.

Dalam program NEXSUS semua mata kuliah perguruan tinggi peserta didaftarkan agar dapat saling dipertukarkan dengan perguruan tinggi lain dan di luar negeri serta diakui sebagai kredit.

Hal itu berarti bahwa seorang mahasiswa di daerah pedalaman, dimana kampusnya memiliki keterbatasan sarana dan prasarana, dapat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh transkrip akademik yang lebih berkualitas, karena di dalamnya terdapat mata kuliah unggulan dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia maupun dari luar negeri.

Dari mana asal mata kuliah tersebut beserta nama perguruan tingginya akan dituliskan di dalam transkrip nilai. Mata kuliah tersebut dapat diambil melalui mekanisme e-learning yang tentu saja berbasis aplikasi Opencourseware dengan konsep mirroring dengan memanfaatkan Content Delivery Network (CDN).

Wakil Mendiknas Fasli Jalal menyatakan sangat atusias dengan program ini karena memberikan solusi bagi masalah kesenjangan kualitas pendidikan serta tantangan keterbatasan infrastruktur internet yang selama ini jadi perhatian utama.

“Program ini bisa diintegrasikan dengan program Jardiknas [Jejaring Pendidikan Nasional], sistem ini juga mendukung program universitas terbuka,” paparnya, beberapa waktu lalu.

Jardiknas adalah program pengembangan infrastruktur jaringan online skala nasional (National Wide Area Network) yang tahun ini ditargetkan mencapai 56 Perguruan Tinggi Nasional sebagai backbone dan lebih dari 300 PTN/PTS sebagai sub local nodes..

Bahkan dengan sistem NEXSUS, mahasiswa Indonesia berkesempatan untuk mengikuti mata kuliah di perguruan tinggi luar negeri tanpa harus menjadi mahasiswa atau mengikuti perkuliahan reguler sehingga biayanya akan lebih terjangkau.

Universitas Terbuka

Menurut Ninok Leksono, rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN) kemajuan teknologi seharusnya mempermudah sistem pendidikan. “Kami tertarik bergabung dengan sistem ini.”

Dia tak menampik, UMN memiliki peluang memanfaatkan jaringan yang dimiliki Kompas Gramedia untuk melakukan pendidikan jarak jauh. Baik dalam bentuk kursus maupun perkuliahan.

Integrasi sistem NEXSUS dan Jardiknas, di masa datang memang potensial untuk mendukung Universitas Terbuka (UT), yang menerapkan sistem belajar jarak jauh (distance learning) dan saat ini tengah menyiapkan sistem Electronic Learning (E-Learning).

Mendiknas M. Nuh memiliki target jumlah dan kualitas UT bisa menggenjot angka partisipasi kasar (APK) mahasiswa hingga 30% pada 2014-2015 untuk mengatasi minimnya penyebaran perguruan tinggi.

Dengan adanya UT tersebut, bisa mengatasi persoalan pembangunan perguruan tinggi konvensional yang harus berhadapan dengan biaya pengadaan fisik bangunan.

Nuh menjelaskan angka partisipasi kasar (APK) mahasiswa hingga 2010 baru berkutat di angka 23%. Dalam hitungan Kemendiknas, tiap satu persen berarti setara dengan 400.000 mahasiswa.

Artinya, jika target 30% tercapai, maka ada 12 juta mahasiswa tiga tahun ke depan yang belajar dengan paket pendidikan yang lebih hemat tanpa perlu terkungkung kotak bernama kelas.

Meminjam filsafat Paulo Freire, penulis Pedagogy of the Oppressed, dengan sistem informasi teknologi, akses bagi siswa yang berpendapatan rendah bisa lebih terbuka lebar. Bersiap-siap sajalah, universitas bertarif mahal!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2011
M T W T F S S
« May   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d bloggers like this: