it’s about all word’s

Bercermin di Layar: Realita Antar Cerita

Posted on: July 14, 2011

Judul: Bercermin di Layar: Realita Antar Cerita
Kumpulan Tulisan Jilid 1
Penulis: Rohmad Hadiwijoyo
Editor: Hadi Mustofa, Gregory Churchill, Susy Magdalena, Sarwono
Tebal: 214 halaman
Penerbit: PT Tatanusa, Juli 2011

Mewartakan dunia lewat wayang

Sudah jadi hal umum Indonesia adalah negara penuh ironi. Kerap mengaku-aku memiliki kebudayaan asli, bahkan jika perlu dengan marah sekaligus gusar jika jirannya mengaku kebudayaan tersebut namun pada praktik keseharian lupa memelihara kebudayaan tersebut.

Wayang adalah salah satu contoh ironi Indonesia. Diakui sebagai budaya bangsa, bahkan ditahbiskan oleh Unesco sebagai karya agung warisan budaya lisan dan tak benda pada 7 November 2003, namun nasibnya justru marjinal.

Tidak saja terpinggirkan hanya sekadar jadi tontonan klangenan orang-orang tempo dulu atau hiburan etnik bagi bule, nilai tuntunan dan tatanan dalam medium abstrak-simbolis tersebut semakin sayup dalam tuntutan hiburan modern yang ringan nan gamblang.

Secara kuantitas, bisa dihitung dengan jari jumlah media massa cetak yang masih membawa wacana wayang dalam kolom mereka. Jikalau pun ada, masih harus dipilah antara wacana menggunakan kisah wayang betulan dan wayang-wayangan sekadar banyolan.

Buku kompilasi artikel kolom Bercermin di Layar: Realita Antar Cerita karya pebisnis Rohmad Hadiwijoyo, bos PT Resources Jaya Teknik Management Indonesia (RMI) yang diterbitkan Juli 2011 bisa menjadi jalan tengah antara dialektika serius dan hiburan.

Menulis kolom secara teratur di Media Indonesia, Republika, Suara Karya dan Bisnis Indonesia jebolan School of Business and Public Management George Washington University di Washington, AS dan tengah menempuh program Doktor Ilmu Lingkungan di Universitas Diponegoro itu dituntut aktual.

Maklum saja Ketua Pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), bos Lontar Foundation hingga lembaga pemikir Center Indonesia for Development and Studies (CIDES) selain pebisnis adalah dalang betulan didikan Ki Joko Edan.

Dengan pengetahuan Barat dan Timurnya dan pergaulannya antara komunitas wayang yang grass root dan pebisnis yang kaum jetset tentu ada tuntunan dengan ‘sentuhan lain’ yang dia bisa bagikan bagi pembaca media massa.
Alhasil Rohmad tanpa ragu dengan lincahnya mengoceh lewat perspektif wayang yang identik jadul untuk memotret kondisi kekinian politik, ekonomi dan sosial yang kosmopolitan.

Wayang sebagai sebuah budaya bangsa yang telah melalui proses asimiliasi dan akulturasi memang memiliki relevansi kuat dengan dunia kontemporer bisa menjadi alat menelisik fenomena kekinian.

Pendek kata, meminjam istilah sosiolog Prancis, Émile Durkheim. Jika dalam pertunjukan wayang tradisional, urusan surgawi (sacred) dan duniawi (profan) dapat ditemukan benang merahnya. Maka oleh Rohmad, bentangan filsafat wayang dibentangkannya dengan urusan duniawi kekinian.

Dalam tulisan-tulisannya, Rohmad dengan renyah membicarakan sengkarut Bank Century, pemilihan Kapolri yang pelik, Gus Dur yang nyleneh, koalisi partai yang njlimet hingga menyentil paduka Presiden yang gemar obral janji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: