it’s about all word’s

Adu cakar di Laut China Selatan

Posted on: July 16, 2011

Jangan sebut Amerika Serikat jika tak gemar bikin ulah, jelang pembukaan pertemuan ASEAN Ministerial Meeting (AMM) ke-44 dan ASEAN Regional Forum (ARF) ke-18, negeri adi daya itu justru menggelar latihan tempur bersama dengan Vietnam.

Seperti dikutip dari rilis resmi pemerintah Vietnam yang diterima hari ini, AS mengirimkan tiga kapal perangnya ke Da Nang, Vietnam pada Jumat (15/7) untuk latihan dengan angkatan laut (AL) Vietnam selama tujuh hari pada pekan depan.

Tiga kapal tempur tersebut yaitu kapal penyelam USNS Safeguard dan dua kapal penghancur misil, USS Chung-Hoon dan USS Preble, bersama dengan 700 orang awak kapal.

Laksamana Tom Carney, pemimpin armada AS di Vietnam, mengatakan kedatangan AS adalah upaya membangun hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara pada bidang keamanan maritim.

Meski menjamin tidak ada peluru tajam yang akan digunakan, namun latihan bersama ini jelas sebuah langkah yang mengganggu upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Laut China Selatan. China telah menentang adanya aktivitas militer di wilayah tersebut.

“Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan aktivitas tersebut [latihan gabungan],” ujar pejabat tinggi militer China, Chen Bingde, seperti dikutip dari AP.

Ahli militer dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), Ralph Cossa, mengatakan AS tidak akan mendengarkan China. Dia mengatakan AS memiliki kepentingan yang besar di laut China Selatan.

Dengan mendekati beberapa negara kecil di Asia Tenggara, seperti Vietnam dan Filipina, Amerika Serikat berusaha lebih menancapkan taringnya di perairan yang diduga kaya gas alam ini.

Pangkal sengketa Laut China Selatan adalah Kepulauan Spratly yang dibatasi oleh wilayah perairan dari beberapa negara a.l. Filipina, Vietnam, Indonesia dan Malaysia. Kepulauan ini terletak kurang lebih 1.100 Km dari pelabuhan Yu Lin (Pulau Hainan, China) dan 500 Km dari pantai Kalimantan bagian Utara.

China terlibat klaim wilayah Kepulauan Spratly karena berbatasan dengan Kepulauan Paracel yang terletak di sebelah Utara Kepulauan Spratly, terletak 277,8 Km (Pulau Hainan, China). Dasar Klaim adalah sejarah penguasaan Paracel oleh Pemerintahan Dinasti Han antara 206 sebelum Masehi hingga 220 sesudah Masehi.

Sementara Vietnam, selain mendasarkan tuntutannya pada aspek hukum Internasional juga mengkombinasikan dengan aspek sejarah bahwa penguasaan atas kepulauan itu dilakukan sejak abad 17 di bawah distrik Binh Son.

Urusan minyak

Namun pangkal persoalan Laut China Selatan disebabkan adanya perkiraan cadangan minyak dan gas di Kepulauan Spratly yang besar. Analisis Clive Schofield dan Ian Storey di asiaquarterly.com menyebut 1-2 miliar barrel minyak dan 225 tcf (triliun cubic feet) gas alam.

Sementara estimasi lembaga statistic Amerika Serikat, Energy Information Administration (EIA) menyatakan di bawah Spratly terdapat sedikitnya 7 miliar barrel minyak dan 150,3 tcf (triliun cubic feet) gas alam.

Negara-negara yang berkepantingan atas cadangan migas di Laut China Selatan a.l. Brunei, China, Malaysia, Filipina, Taiwan, Thailand dan Vietnam. Dua negara yang paling kaya cadangan migas adalah Malaysia dan Brunei.

Malaysia berkepentingan atas cadangan 3 miliar barrel minyak dan 75 tcf gas alam sementara Brunei memiliki 1,4 miliar barrel minyak dan 13,8 tcf gas alam.

Sementara Indonesia sangat berkepentingan dengan Laut China Selatan disebabkan China memasukkan Kepulauan Natuna dalam peta tahun 1947 hingga 1995 dalam teritorial ZEE mereka.

Dari sisi perdagangan internasional, Laut China Selatan sangat vital karena merupakan jalur utama menuju kota-kota utama di Asia Timur. Lebih dari 25% dari perdagangan dunia melintasi jalur itu, termasuk 70% kebutuhan energi Jepang dan 65% kebutuhan energi China.

Gangguan terhadap komunikasi,pelayaran dan navigasi di kawasan ini dan berbagai ketegangan yang diakibatkannya akan memberi dampak yang merugikan bagi kepentingan Indonesia dan kestabilan regional.

Seperti Vietnam, Indonesia terganggu dengan ekplorasi migas yang dilakukan perusahaan minyak China (The Chinese National Offshore Oil Company) dan Crestone Energy Company dari Amerika Serikat pada 1992.

Meski eksplorasi tersebut dilakukan di kawasan seluas 25.000 km2 dalam wilayah Nansha di Barat Laut Cina Selatan yang dekat dengan Kepulauan Natuna, namun terdapat dugaan eksplorasi menyasar wilayah Indonesia.

Uniknya meskipun Vietnam-China-Filipina saling berseteru untuk urusan Spratly, ketiga negara diwakili Philippine National Oil Company, China Offshore Oil Corporation dan Vietnam Oil and Gas Corporation pernah melakukan kerjasama eksplorasi migas.

Perjanjian yang diteken pada 14 Maret 2005 di Manila itu berdurasi tiga tahun mencakup usaha pemetaan seismik wilayah seluas 143.000 kilometer persegi. Sialnya, bagai lalat. Dimana ada migas, di situ ada perusahaan migas AS. Bisa ditebak kenapa mereka ngotot di Laut China Selatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: