it’s about all word’s

Indonesia & 100 tahun Kim Il Sung

Posted on: July 30, 2011

Tanggal 13 dan 15 April 2012 akan menjadi dua tanggal penting bagi Indonesia dan Korea Utara. 13 April, 46 tahun silam adalah saat ketika Soekarno melekatkan sosok Indonesia di hati pemimpin Korut, Kim Il Sung lewat diplomasi bunga.

Sementara 15 April 2012 adalah perayaan besar-besaran 100 tahun Kim Il Sung, sekaligus, mungkin serah terima tampuk kekuasaan Kim Jong Il kepada generasi ketiga dinasti komunis, Kim Jong Un yang telah disepakati dalam pertemuan Partai Buruh Korea Utara, September tahun lalu.

Perayaan 100 tahun Kim Il Sung menjadi penting bagi Indonesia sebagai mitra yang tidak pernah putus berhubungan diplomatik dengan negara yang terbentuk pada tahun 1948 tersebut.

Bandingkan dengan hubungan diplomatik RI-China yang pernah putus dengan alasan komunisme. Pendek kata, belum pernah bendera yang didominasi warna merah bergaris biru dengan bintang merah itu turun dari sebuah bangunan di bilangan Teluk Betung No.1-2, Menteng, Jakarta Pusat.

Lekatnya hubungan RI-Korut bahkan memicu tudingan Jakarta jadi tempat Pyongyang menggangsir fulus untuk tujuan haram, seperti ditulis wartawan Sydney Morning Herald, Tom Allard, melalui bisnis restoran.

Toh, lewat hubungan mesra itu, Indonesia lagi-lagi selalu menjadi tempat berpaling bagi dunia terutama Amerika Serikat untuk melunakkan sikap keras kepala para jenderal Kim Jong Il.

Sebut saja saat krisis Semenanjung Korea, pasca tenggelamnya kapal perang Korsel, Cheonan, secara mengejutkan Pyongyang di ajang Asean Regional Forum ke-17 di Hanoi, Vietnam memilih Indonesia sebagai mitra dialog.

Begitu juga untuk urusan senjata nuklir yang selalu diributkan pemilik senjata nuklir terbesar di dunia, apalagi kalau bukan Amerika Serikat. Korut, memilih Indonesia sebagai mitra dan Jakarta sebagai tempat pertemuan.

Meskipun dekat dengan biang komunis tersebut, Jakarta juga tetap menjaga jarak. Buktinya Jakarta—secara resmi—tidak mengambil tawaran senjata dengan harga pertemanan dari Korut. Jenis alutsista yang ditawarkan saat itu di antaranya kapal selam dan radar pasif.

Diplomasi beras

Hanya saja, tahun ini hubungan RI-Korut akan kembali diuji dengan permintaan kerjasama pangan yang diajukan Korea Utara yang secara resmi mengajukan permintaan kerjasama pangan kepada Pemerintah Indonesia dalam pertemuan antar Menlu dalam ajang ASEAN Ministerial Meeting (AMM) ke-44 di Nusa Dua, Bali, pekan lalu.

Permintaan tersebut menurut Menlu Marty M. Natalegawa, langsung disampaikan Menlu Pak Ui Chun dalam pembicaraan. “Korea Utara menyampaikan permintaan kerjasama pangan.”

Menanggapi permintaan kerjasama pangan tersebut, Marty saat berbincang dengan Bisnis terlihat hati-hati menjawab dan menyatakan terlebih dahulu akan melaporkan hal tersebut kepada Presiden untuk kemudian dibahas di tingkat kerja (working level) untuk mencari hal yang bisa ditawarkan Indonesia kepada pihak Korut.

Sayang, rombongan Korea Utara tidak memberikan konfirmasi apapun perihal permintaan kerjasama pangan tersebut. Seperti biasanya, Pak Ui Chun bungkam dan memilih bergegas menjauhi kuli tinta yang memburunya.

Urusan pangan memang jadi hal vital bagi Korut jelang peringatan 100 tahun pemimpin Korut, Kim Il Sung pada 15 April 2012, Negara komunis di Semenanjung Korea itu sibuk meningkatkan persediaan pangan mereka dengan cara meminta bantuan pangan untuk mendukung perayaan besar-besaran itu

Kepada Thomson Reuters Foundation, pemerintah Korut pada awal Juli 2011 bahkan memohon agar bantuan pangan diberikan sesegera mungkin karena rakyat Korea Utara telah menderita kelaparan hebat setelah gagal panen di tahun-tahun belakangan ini.

Tidak cukup itu saja, mengutip KBS, untuk memberi makan 24 juta penduduknya, Pyongyang bahkan sampai meminta bantuan pangan dari beberapa negara miskin Afrika, salah satunya Zimbabwe.

Seoul pernah memberi hampir setengah-juta ton beras kepada tetangganya itu, tapi bantuan itu dihentikan ketika hubungan memburuk pada 2007 karena negara komunis terpencil itu justru meningkatkan program nuklirnya.

Organisasi pangan PBB (WFP) menjalankan kegiatan di Korut hanya bertanggung jawab menyediakan asupan pangan bagi 3,5 juta anak-anak, ibu menyusui dan orang sakit. Untuk operasional tersebut, dalam sebulan WFP membutuhkan dana sedikitnya US$18 juta.

Soal diplomasi beras, ini bukan pengalaman pertama Indonesia. Pada era Soekarno dilakukan pengiriman beras ke India meski wilayah udara-laut RI diblokade Belanda, di jaman Soeharto beras dikirimkan ke Ethiopia, lalu di masa Susilo Bambang Yudhoyono, beras dikirimkan ke Jepang yang tersambar tsunami.

Indonesia tentu akan berhitung perihal permintaan kerjasama pangan Korut kali ini. Akankan alasan kemanusiaan sebagai kawan lama ataukah memilih hubungan mesra dengan Barat yang mengembargo Korut.

Uniknya, jika Barat disebut mengembargo Korut, seperti dikutip dari kantor berita KCNA sejumlah negara Barat terlibat dalam Pyongyang Spring International Trade Fair yang digelar di Three-Revolution Exhibition pada 16 Mei 2011 lalu a.l. Jerman, Swiss, Inggris, Australia, Austria, Italia dan Prancis.

Fakta lain, permintaan pangan ini tidak diajukan Korut kepada Brazil, China ataupun Thailand yang sampai saat ini dikenal akrab. Korut yang terasing itu justru datang ke Indonesia. Kita tunggu diplomasi beras tersebut.

*Terbit dng judul berbeda di Bisnis Indonesia edisi 30/7/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: