it’s about all word’s

Hanya menonton Bakun beroperasi?

Posted on: August 17, 2011

Oktober 2011, Proyek PLTA Bakun di Malaysia dijadwalkan resmi operasional. Proyek memanen energi dari sungai Balui yang dibiayai China Exim Bank, Sinohydro, Norinco dan CNEEC berbiaya US$1,2 miliar tersebut akan menghasilkan daya hingga 2400 Mw.

“Ini proyek yang luar biasa dan harus dilihat hingga belasan tahun ke depan. Dengan skala daya yang dihasilkan, tim kemenlu menghitung akan ada 1,6 juta lapangan kerja baru dari operasionalisasi Bakun,” ujar Wamenlu RI Triyono Wibowo dalam pidato pembukaan Seminar dan peluncuran buku “ASEAN Connectivity in Indonesian Context: a Preliminary Study on Geopolitics and Maritime Transport”

Proyek PLTA Bakun, lanjut Triyono, yang membuka lapangan kerja sedemikian besar tersebut bukan tidak mungkin membuat Indonesia kembali direpotkan dengan arus TKI mencari kerja.

Buku “ASEAN Connectivity in Indonesian Context: a Preliminary Study on Geopolitics and Maritime Transport” adalah hasil kajian tim Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK), lembaga pemikir Kemenlu. Untuk menghasilkan kajian geopolitik ini sebuah riset panjang dilakukan.

Menurut Wardana, Kepala BPPKebijakan, riset lapangan dilaksanakan oleh Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia-Pasifik dan Afrika (P3K2 Aspasaf), BPPK-Kementerian Luar Negeri, sejak Desember 2010 hingga Juli 2011.

Studi lapangan ini dimulai di Greater Mekong Sub-region (GMS), Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) dan Brunei-Indonesia-Malaysia-Filipina-East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA).

“Tim P3K2 Aspasaf juga melakukan pemantauan konektivitas di wilayah Pasifik, pedalaman Papua, serta pulau-pulau yang membentang dari Bali ke Dili,” ujar Siswo Pramono, Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika

Lontaran pernyataan Triyono Wibowo jelas menarik. Dengan daya hingga 2400 Mw, adalah jaminan daya bagi berputarnya industri telah menarik sejumlah investor kakap dari seluruh penjuru mata angin.

Tercatat raksasa Australia, Rio Tinto sudah meneken Nota Kesepahaman (MoU) dengan Cahya Mata Serawak untuk membangun pabrik pengolahan aluminium senilai US$2 miliar.

Selain Rio Tinto, raksasa industri mangan, OMH Holding dari Australia sudah memastikan tekad mereka., raksasa kimia Jepang, Tokuyama Corporation tak ketinggalan.

China sebagai pihak yang berinvestasi besar-besaran tak kalah, raksasa aluminium Chinalco bersiap menyusul aliansi Aluminium Corp of China dengan Gulf International Investment Group Holdings Sdn Bhd dan miliader UEA, Mohamed Ali Rashed Alabbar.

Selain industri-industri pengolahan metal, industri-industri lain di Negeri Tirai Bambu sudah dipastikan menyerbu, maklum industri China mulai berancang-ancang melakukan relokasi seiring melambungnya gaji buruh.

Bagaimana Indonesia? Sejauh ini masih tanda tanya besar yang menggantung. Merah Putih nampaknya—lagi-lagi—hanya akan dikibarkan oleh para buruh Indonesia di jiran. Padahal teknologi PLTA sudah digeluti Indonesia sejak era 1970-an.

Satu indikasi jika Indonesia menangkap peluang dari PLTA Bakun hanyalah PT PLN. Itu pun sekadar kerja sama jual beli tenaga listrik dengan Malaysia yang besarnya sekitar 100-200 megawatt (MW).

Kerjasama itu pun baru bisa terealisasi mulai awal 2013, guna memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di wilayah perbatasan Kalimantan Barat-Serawak. Sekadar jual beli listrik!

Padahal jika melihat geografi dan keamanan sumber daya air, PLTA Bakun sangat bergantung pada Indonesia sebagai pemilik kedaulatan hulu mata air bahan baku PLTA Bakun.

Dari peta Kalimantan jelas terlihat, ada 200.000 kilometer persegi hutan lindung, lima diantaranya ada di wilayah Indonesia, sebagian besar di Malaysia dan Brunei yang mendukung terjaganya aliran 14 sungai, termasuk sungai Balui yang memutar generator Bakun.

Adanya sumber daya yang dimiliki Indonesia, menurut Siswo Pramono memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk melibatkan diri dalam proses tiga pihak dalam pengelolaan PLTA Bakun.

Dia memberikan contoh pengelolaan sungai Mekong yang melibatkan secara aktif pemerintahan Myanmar, Laos, Kamboja dan China dalam pembangunan PLTA. “Artinya ada proses diplomasi yang berjalan untuk mencari jalan terbaik.”

Untuk proyek di sungai Irrawaddy dan sungai N’Mai di Myanmar, dibangun mega proyek yang akan menghasilkan 13.360 Mw dan 11.760 Mw. Sementara proyek PLTA Sambor di Kamboja akan menghasilkan daya 7.110 Mw, sementara proyek PLTA Pak Beng dan Pak Lay di Laos akan memproduksi 1.320 Mw dan 1320 Mw.

Belum lagi sejumlah proyek-proyek PLTA kecil hingga sedang yang dikerjakan oleh keempat negara tersebut bersama China. Tujuannya, selain jual beli listrik, tiga negara anggota Asean itu mempersiapkan diri menuju industrialisasi di masa datang.

Bagaimana Indonesia? Lagi-lagi baru berkutat dengan mimpi dan rencana memanen energi dari sungai-sungai di Papua seperti Memberamo dan Urumuka, atau memproduksi listrik dari batubara, gas bumi, minyak bumi yang sudah pasti sulit diharapkan panjang usia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2011
M T W T F S S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: