it’s about all word’s

naik lagi-naik lagi harga karcis bioskop

Posted on: August 17, 2011

Diam tak bersuara disodok kiri-kanan untuk urusan industri film, pemain terbesar perbioskopan dalam negeri, 21 Cineplex akhirnya tampil. Direktur 21 Cineplex, T.R Anitio menemui nyamuk-nyamuk pers yang menanti kehadirannya.

Maklum selama lima bulan terakhir ini kisruh mengenai pemutaran film impor marak dibicarakan. Pasalnya, Motion Pictures Association (MPA) menghentikan impor (commercial hold) terhadap film-film dari studio besar Hollywood yaitu Sony/Columbia, Universal, Paramount, Disney, 20th Century Fox, dan Warner Bros.

Akibatnya, masyarakat Indonesia tidak dapat lagi menikmati film-film blockbuster seperti Black Swan, King Speech, Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides, Thor dan masih banyak lagi.

Angin segar sempat berhembus setelah Menteri Kebudayaan dan Pariwisata menyatakan film impor tersebut sudah masuk kembali ke Indonesia. Terhitung sejak 15 Juli 2011 commercial hold itu telah dicabut oleh MPA.

Alhasil sejak 29 Juli 2011 dua film box office yaitu Harry Potter: Deathly Hollow Part 2 dan Transformer 3 sudah boleh kembali diimpor, langsung diputar dan diserbu penonton.

Pada kesempatan tersebut dia menyebutkan bahwa pelaku usaha impor film yang mendapat kepercayaan sebagai mitra terbesar studio Hollywood yang dinaungi MPA untuk mengimpor film blockbuster adalah PT Omega Film.

Selain Harry Potter dan Transformer 3, KungFu Panda 2 dan satu film lagi yang belum disebutkan judulnya sudah siap diputar.

Namun, kembali beredarnya film keren tersebut mematik api baru. Kehadiran PT Omega Film ini ditenggarai sebagai wajah baru dari distributor film yang tersandung masalah pajak.

Maklum, dari urusan pajak ini pula permasalahan dimulai saat distributor film terbesar Indonesia yang mendatangkan film-film Hollywood yaitu PT Camila Internusa Film, PT Satrya Perkasa Esthetika Film, dan PT Amero Mitra Film terkena tudingan belum menyelesaikan pembayaran pajak bea masuk.

Pada awal 2011, PT Amero Mitra Film pemegang distribusi The Weinstein Company, Lionsgate, Screen Gems, Summit dan CBS sudah menyelesaikan tunggakannya. Namun dua perusahaan lain, masih menunggak dengan nilai mencapai Rp 30 miliar (dalam kurun waktu dua tahun) ditambah denda 1000 kali lipat.

Dari sini Kementrian Keuangan mengeluarkan larangan impor film sebelum tunggakan bea masuk dibayar. Hal yang menurut Direktur 21 Cineplex, T.R Anitio sebuah keputusan yang ajaib.

“Untuk aturan saja masih belum jelas. Beberapa aturan malah bertabrakan dengan aturan Organisasi Perdagangan Bebas (WTO). Belum lagi, dalam sengketa pajak ada proses yang harus dijalani. Tidak kemudian mengeluarkan larangan,” paparnya.

Namun, Menkeu ngotot menjalankan perintahnya. Alhasil film-film blockbuster menghilang dari layar bioskop Tanah Air.Maklum, PT Camila Internusa Film adalah distributor film keluaran Sony/Columbia, Universal, dan Paramount. Sedang PT Satrya Perkasa Esthetika Film memegang film keluaran 20th Century Fox, Disney, dan Warner Bros.

Tambah mahal

Johnny Syafruddin, Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia, mencatat sejak impor film dihentikan, pengusaha bioskop menepuk jidat. Maklum, dari 676 layar bioskop, 80% layar dimiliki grup 21 dan XXI, 10% dimiliki Blitz Megaplex, dan sisanya dimiliki perusahaan lainnya.

Film asing memang tetap beredar, sayang tidak menjual. Selama Januari – Juli 2011 jumlah film impor mencapai 75 judul yang diimpor oleh sembilan perusahaan impor film yang aktif dari 65 perusahaan impor film yang terdaftar.

Para importir tersebut a.l. Jive Entertainment yang mendatangkan film-film non Hollywood, PT Parkit Film dengan film Bollywood dan keluaran studio indie Hollywood, PT Teguh Bakti Mandiri yang khusus film Mandarin dan PT Rapi Films.

Munculnya, PT Omega Film yang disebut menjadi mitra major studio Hollywood dan MPA jadi lirikan. Dengan nomor identitas kepabeanan (NIK) pada 3 Mei 2011, Omega bisa melakukan impor.

Namun, sebuah telisik Bea Cukai ke kantor Omega membuat mereka diblokir sehari pada 1 Juli. Pemberhentian itu dicabut dengan alasan dokumentasi sudah lengkap. Sehingga pada 15 Juli sudah bisa melakukan importasi.

Alhasil sampai 19 – 26 Juli Omega telah 15 kali melakukan importasi untuk empat judul film. Selain Omega ada lima importir film baru yang mendaftar. Boleh dikata, hak menikmati hiburan masyarakat kini kembali terjamin.

Namun, siap-siap saja merogoh kocek lebih dalam. Apa pasal? Adanya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 90/PMK.011/2011 yang mengatur perubahan mendasar dalam sistem penghitungan bea masuk film impor dari sistem metric menjadi durasi dan dari sistem tarid Ad Valerum menjadi tarif spesifik.

Alhasil tarif baru impor film yang berlaku sejak 16 Juni 2011 itu kini merupakan tarif spesifik yang artinya, tarif bea masuk film kini adalah Rp21.450 per menit. Hitung saja tariff baru itu dengan mengalikannya dengan durasi film yang diputar? Selamat menonton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2011
M T W T F S S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: