it’s about all word’s

napas panjang Bashar al-Assad

Posted on: August 19, 2011

Semerbak revolusi melati nampaknya enggan hilang dari langit Timur Tengah. Setelah menjungkirkan kuasa di Tunisia dan Mesir, merongrong Libya dan Bahrain, revolusi melati kini mengusap Suriah.

Damaskus kini semakin gerah, posisi Presiden Suriah Bashar al-Assad di puncak kekuasaan warisan dari sang ayah, Hafizh al-Assad kini semakin goyah setelah Amerika Serikat dan Eropa menyerukan kata mundur bagi sang Presiden.

Presiden Barack Obama seperti dikutip dari VOA memberikan suara keras setelah presiden dengan gelar dokter spesialisasi mata itu melindas demonstran di Hama dan Deir al-Zour. Tidak cukup itu saja, embargo impor minyak dari Suriah ditetapkan.

“Waktunya telah datang untuk Presiden Assad untuk minggir,” ujar Obama dalam sebuah pernyataan resmi, yang kemudian disusul pernyataan senada dari Menlu AS, Hillary Clinton.

Segera setelah Paman Sam bersikap, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama bahwa Assad telah kehilangan legitimasinya.

Sikap AS dan Eropa, disusul PBB yang hari ini mengirim sebuah misi kemanusiaan ke Suriah untuk melihat situasi di negara tersebut. Bashar Al-Assad menjanjikan akses penuh kemana pun bagi misi PBB kepada Sekjen PBB Ban Ki-moon.

Sebelumnya PBB sudah berkali-kali minta diberi jalan untuk masuknya tim kemanusiaan, namun selalu ditolak. Maklum, para penyelidik PBB sudah menyimpulkan bahwa kekerasan di Suriah “bisa jadi mencapai skala kejahatan kemanusiaan”

Sayangnya, seperti halnya Libya dan Bahrain, menyelesaikan persoalan Suriah bak memakan buah simalakama. Ada persoalan yang saling kait mengait di wilayah yang penting bagi politik dan ekonomi bagi AS, Uni Eropa dan Israel tersebut.

Pakar Suriah Andrew Tabler dari The Institut Washington untuk Kebijakan Timur Tengah mengatakan tindakan AS membuat transaksi minyak di Suriah berisiko bagi perusahaan-perusahaan Eropa dan lainnya.

“Ini memaksa banyak perusahaan mereka untuk membuat pilihan. Apakah mereka melanjutkan bisnis yang relatif kecil di Suriah atau melakukan pembelian minyak mentah Suriah, atau apakah mereka mempertahankan hubungan mereka dengan Amerika Serikat? Ini adalah dilema,” ujarnya

Untuk mengembargo minyak Suriah, Paman Sam tak ada masalah karena keterkaitan bisnis migas dengan Suriah kecil. Satu operator besar di bisnis sedot minyak, Gulfsands Petroleum yang sebelumnya bermarkas di Houston pindah ke Inggris pada 2008 untuk menghindari sanksi AS pada Rami Makhlouf, sepupu Assad.

Eropa gigit jari

Jika Obama bisa lantang, sebaliknya, dari seluruh impor minyak Eropa, 95% berasal dari Suriah. Shell (Belanda) dan Total (Perancis) merupakan dua pemain besar di Suriah. Dalam sehari suriah memproduksi 400.000 barel yang dikelola BUMN migas Suriah, Sytrol dan Mahrukat.

IMF mencatat dalam sehari ada 148.000 barel minyak mentah jenis ‘Souedie’ Suriah senilai 2,1 miliar euro yang diekspor ke Eropa untuk diolah oleh perusahaan-perusahaan di Jerman, Italia, Perancis dan Belanda.

Kondisi Suriah yang tak pasti juga akan membuat mega proyek jalur pipa gas alam sepanjang 3.100 mil melintasi Iran ke Irak, Suriah, dan negara-negara Eropa yang dijadwalkan dibangun Maret 2012 akan terganggu.

Padahal pipa gas yang diminati tujuh investor internasional dan telah disepakati ketiga negara tersebut dengan nilai kontrak US$10 miliar itu akan mengangangkut 110 juta meter kubik gas alam dari Iran Selatan ke Eropa dan pabrik petrokimia di Irak.

Kondisi semakin ruwet karena, tetangga Suriah yang ngebet bergabung dengan Uni Eropa, Turki akan mendapat imbas langsung di bidang ekonomi. Hingga akhir tahun lalu, perdagangan antara Turki dan Suriah mencapai US$2 miliar, membuat Turki salah satu mitra dagang terbesar Suriah.

Sementara sekutu Yahudi Amerika Serikat, Israel tak kalah repotnya. Jatuhnya Bashar al-Assad bisa membuat milisi Hisbullah yang sebelumnya dapat dikontrol semakin bebas bergerak.

Ancaman lain dari barat, Irak, seperti dikutip dari theglobeandmail.com terdapat indikasi peningkatan intesitas kegiatan Al-Qaeda seiring rencana penarikan mundur tentara AS dan sekutu dari wilayah tersebut.

Belum lagi, menurut analis Ed Husain dari Dewan Hubungan Luar Negeri AS, turunnya Assad akan memicu perang antar etnis. “Jika Assad jatuh, akan ada pertumpahan darah antara Alawi dan Druze, minoritas lain serta mayoritas Sunni.”

Data CIA menunjukkan Suriah dihuni 90,3% etnis Arab sementara sisanya adalah Kurdi, Armenia, dan etnik minoritas lain. Sementara agama di wilayah itu didominasi Islam aliran Sunni (74%), Islam aliran lain Alawi dan Druze (16%), sementara Kristen dan Yahudi mencapai 10%.

Melihat statistik penduduk yang ada, menurut Ed Husain untuk alasan-alasan jangka pendek, Bashar Al-Assad tetap menjadi pilihan terbaik dari yang paling buruk bagi Suriah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2011
M T W T F S S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: