it’s about all word’s

Indonesia Optimis: sebuah pledoi

Posted on: August 21, 2011

Judul: Indonesia Optimis
Penulis: Denny Indrayana
Terbit: Agustus 2011
Tebal: 251 Halaman
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer

Upacara dirgahayu Indonesia ke 66 tahun, seperti biasanya diperingati dengan meriah. Satu hal menarik, hari jadi republik tersebut sebagai sebuah hari sakral ternyata menjadi tempat sejumlah entitas bisnis menjual diri.

Selain itu, di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, 17 Agustus yang menjadi pesta bangsa menjadi tempat peluncuran buku bagi orang-orang yang dekat dengan kekuasaan.

Jika tahun lalu, buku mengenai Agus Harimurti Yudhoyono, putra sulung Presiden SBY dibagikan bersama satu paket souvenir, tahun ini giliran buku Denny Indrayana. Secara fisik, kedua sampul buku bahkan identik, berkelir Merah dan Putih.

Hampir semua orang di republik ini tentu mengenal sosok Denny Indrayana, Staf Khusus Presiden. Dengan posisinya tersebut, tidak aneh—bahkan sebuah kewajiban–jika kemudian buku bertajuk Indonesia Optimis merupakan sebuah pledoi, sebuah pembelaan.

Pembelaan yang menurut definisi Denny merupakan dedikasinya untuk mengimbangi berbagai pemberitaan yang mengesankan Indonesia—di bawah pemerintahan SBY–melulu berisi masalah tanpa capaian.

Lewat buku setebal 251 halaman ini, penulis berharap dapat membuka cakrawala baru agar Indonesia sangat berhak untuk optimistis terhadap capaian yang selama ini lewat begitu saja tanpa apresiasi yang memadai.

Dibagi menjadi lima bab, Denny sebagai sosok berlatar akademis secara lincah menjalin fakta dengan sodoran fakta yang ditunjukkan dengan angka statistik yang selama ini alpa diperlihatkan oleh pengamat politik yang dikutip mentah-mentah dan disebarluaskan oleh media.

Bab pertama diberi judul Menolak Pesimisme yang boleh dikata berupa pandangan kritis penulis tentang posisi media sebagai pilar keempat demokrasi untuk mengontrol kerja eksekutif, legislatif dan yudikatif dalam pandangan ‘benar’ menurut penulis.

Bab berikutnya yang dibagi menjadi ‘Reformasi Tidak Mati Suri’, ‘Tantangan Presiden Reformasi’, ‘Indonesia Bukan Surga Koruptor’ dan ‘Indonesia Optimistis’ sangat menarik karena penulis memberikan banyak fakta yang merupakan fakta yang tidak banyak terungkap, bahkan diketahui publik.

Hanya saja melihat motivasi peluncuran buku ini, penulis terlihat kurang cerdas dalam memaknai media massa saat ini, sejak berakhirnya rezim SIUPP sebagai sebuah agora, sebuah tempat pertemuan ide dan wacana.

Dengan melemahnya kontrol kekuasaan terhadap pers sebagai pilar keempat demokrasi, motivasi penulis menjadi naïf jika melihat tipikal peliputan politik untuk merekonstruksi realitas politik yang akan selalu melibatkan tiga uncur bahasa politik (politic language), strategi pembentukan kerangka (framing strategies), dan perencanaan agenda (agenda setting).

Jika melihat tujuan pembentukan wacana yang diniatkan penulis, media massa merupakan industri yang memproduksi wacana yang berlangsung dalam hitungan hari bahkan setiap detik.

Dengan sekadar meluncurkan sebuah buku, dalam sebuah acara seremonial pula. Buku Denny Indrayana bak tsunami lokal yang berhadapan dengan arus sungai pemberitaan yang melihat masa kedua pemerintahaan kedua SBY adalah fase ‘banyak visi dan janji minim aksi dan bukti’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2011
M T W T F S S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Advertisements
%d bloggers like this: