it’s about all word’s

Berharap api tak menyalak di Bahrain

Posted on: August 26, 2011

Menjelang Idul Fitri yang jatuh pekan depan, bumi Timur Tengah masih membara di Suriah dan Libya. Diam, tanpa banyak bicara negara kerajaan Bahrain cemas menanti api kembali menyalak.

Surat kabar Libanon, The Daily Star pada 26 Agustus 2011 menulis hal menarik perihal tetangga mereka yang mungkin terbelah akibat pemilu parlemen yang akan digelar pada 24 September.

Hingga kemarin, ada 83 calon eksekutif yang terdaftar. Calon-calon tersebut akan berebut menggantikan anggota parlemen rendah yang berjumlah 40 kursi yang akan bekerja selama empat tahun.

Bahrain sebagai negara mayoritas Syiah yang diperintah rezim minoritas Sunni menerapkan sistem bikameral, anggota majelis rendahnya (Majlis al-Nuwab) dipilih langsung oleh rakyat, sedangkan majelis tingginya (Majlis al-Shura) ditunjuk oleh penguasa Bahrain, Raja Hamad bin Isa Al Khalifa.

Melihat pentingnya posisi parlemen rendah di tengah menguatnya perlawanan Syiah, calon-calon yang akan terlibat pada pemilu mendatang langsung diboikot, oposisi Syiah dari partai Al-Wefaq yang menguasai 18 kursi.

Alasannya? Menurut pentolan Al-Wefaq, Khalil Marzouq, profil calon yang maju tidak mewakili mayoritas rakyat Bahrain yang 70% adalah Syiah. “Tidak ada calon yang signifikan antara kandidat.”

Ini bukan aksi boikot pemilu pertama Al Wefaq, pada pemilu 2002, pemilihan parlemen pertama yang diselenggarakan di negara itu sejak 1973, partai Syiah tersebut beraksi. Alasan mereka konstitusi memberikan kekuasaan terlalu banyak kepada Majlis al-Shura.

Tanda-tanda ketidakpuasan mayoritas Syiah memang telah terasa sejak Al-Wefaq menolak hasil dari dialog nasional yang diadakan pada Juli lalu atas inisiatif raja yang dilakukan sebagai proses reformasi politik di Bahrain.

Sudah jadi rahasia umum, meskipun Bahrain mengadopsi sistem bikameral dengan alasan terwakilinya suara minoritas, pada kenyataan sistem yang ada menjadi alat dinasti Al-Khalifa untuk melanggengkan kekuasaan.

Dukungan Arab Saudi

Keluarga Khalifa, yang telah memerintah Bahrain sejak abad ke-18, adalah Sunni Muslim dan telah lama memiliki hubungan yang kurang mulus dengan mayoritas Syiah negara itu.

Demi melanggengkan kekuasaan, Raja Hamad bin Isa Al Khalifa merekrut orang asing untuk menjadi polisi daripada memberikan kepercayaan bagi warga Syiah untuk mengenakan seragam dan membawa senjata.

Total penduduk kerajaan kepulauan ini berjumlah 1,3 juta orang, separuhnya adalah orang Bahrain, sisanya adalah pekerja asing. Syiah membentuk 70% dari populasi.

Pada tahun 2001, para pemilih sangat menyetujui piagam nasional untuk memimpin jalan menuju perubahan demokratis. Tetapi setahun kemudian, raja memberlakukan konstitusi yang membatalkan kesepakatan itu sekaligus memblokir kesempatan Syiah menjadi mayoritas di parlemen.

Seperti halnya Mesir yang penting bagi Israel, Bahrain adalah pion penting bagi Amerika Serikat karena menjadi rumah bagi Armada ke V Angkatan Laut AS.

Dominasi minoritas Sunni membuat, gelombang protes Syiah merebak. Puncak gerakan terjadi Februari lalu membuat negara-negara Arab beraliran Sunni a.l. Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman dan Qatar mengirim tentara dan mesiu ke Manama yang kelimpungan oleh aksi demonstrasi di Pearl Square.

Bahrain memang persoalan pelik akibat segregasi Arab Saudi dan Iran. Kedua negara telah berdebat sejak Revolusi Iran 1979 yang menciptakan sebuah teokrasi muslim Syiah di Teheran versus monarki Sunni yang sangat konservatif di Riyadh.

Permusuhan itu terlihat dalam dukungan Arab Saudi untuk Irak selama perang dengan Iran dan diperuncing dengan pengiriman tentara ke Bahrain. Sementara, Iran mendukung Hizbullah di Libanon untuk mengganggu Israel.

“Jika oposisi politik di Bahrain menang, [Arab] Saudi kalah dalam konteks regional,” kata Mustafa el-Labbad, direktur Al Sharq Pusat Studi Regional dan Strategis di Kairo, Mesir seperti dikutip dari New York Times.

Tidak mengherankan jika Barack Obama menampakkan wajah datar saat Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon meradang melihat intervensi militer negara-negara Arab ke Bahrain.

Sekjen asal Korea Selatan itu berang karena AS jelas-jelas membiarkan aksi koboi Raja Abdullah dan sekutu Arab terjadi. Isu hak asasi manusia yang kerap diekspor AS ke seluruh penjuru dunia, tenggelam tanpa suara.

Maklum saja, bagi Paman Sam, Arab Saudi adalah sekutu terbesar mereka di Teluk yang menjamin pasokan minyak dan mitra melindas terorisme Islam radikal di wilayah tersebut.

Sikap AS dan Arab Saudi yang terang-terangan mendukung rezim Al Khalifa, menurut Abbas Milani, direktur studi Iran di Universitas Stanford membuat peluang Iran sebagai musuh Barat untuk mengail simpati.

“Sebagai rezim otoriter yang paling brutal di wilayah ini, [Iran] akan memiliki kesempatan untuk tampak berdiri dengan aspirasi demokratis rakyat, dan melawan otoritas yang menempel pada kekuasaan,” paparnya.

Melihat kondisi terakhir di Timur Tengah, pemilu di Bahrain nampaknya justru menjadi bara di dalam sekam yang akan memicu api menyalak lebih riuh di wilayah tersebut. Semoga tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2011
M T W T F S S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: