it’s about all word’s

Dede Gustiar dan patung wayang Purwakarta

Posted on: October 13, 2011

Ahad, 18 September 2011, sejak pagi jari jemari Dede Gustiar lincah mengurut tanah liat membentuk citra wajah Presiden RI pertama, Soekarno di usia 40-an. Dede memang dikejar target menyelesaikan patung sang Proklamator.

Namun sebuah tayangan di televisi swasta membuat jari jemarinya bergetar terhenti. Napasnya tercekat. Sekelompok orang tak dikenal merobohkan, membakar dan menghancurkan patung-patung wayang yang dibuatnya untuk menghiasi Kota Purwakarta.

Di bawah terik matahari sosok ksatria bapak-anak Bima, Gatotkaca dan Antareja yang perkasa tumbang, Semar lambang kebijaksanaan pasrah berkeping dijadikan sasaran kemarahan.

Dedi hanya menghela napas panjang, sementara salah satu putrinya menangis melihat karya sang ayah menjadi korban vandalisme.

Beruntung, aparat sipil, kepolisian, tentara dan masyarakat asli di kota kecil itu gegas bergerak. Lima patung lain masih terselamatkan meskipun Yudhistira sempat dirusak dan Kresna jadi berkeping. Teriak kebencian masih mengudara namun bubar saat hujan mendera tak lama berselang.

Versi resmi pemerintah Purwakarta menyatakan kerugian yang diderita mencapai mencapai Rp345 juta. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan empat patung tersebut dibangun menggunakan anggaran daerah 2009, 2010, dan 2011.

Pasca perusakan untuk sementara patung-patung yang hancur tidak akan dibangun penggantinya. Pasalnya, tidak ada anggaran lagi untuk tahun ini untuk membangun patung

Suara Dede masih bergetar saat menceritakan tragedi itu. Kerut di wajahnya bekerja keras menahan air mata tertumpah. Gurat merah di matanya terlihat jelas, berkaca-kaca di balik kaca mata minusnya.

“Yah itu semua karena masalah komunikasi saja. Patung wayang golek hasil karya seni dirusak sedemikian rupa dengan alasan agama,” tutur pria kelahiran Plered, Purwakarta 16 Oktober 1961 tersebut.

Soal komunikasi memang menjadi jawaban Dede kepada setiap orang yang bertanya padanya termasuk pada rekan-rekan seniman di Bandung yang dekat dengannya. “Saya kecewa, tetapi tidak pada tempatnya memanaskan suasana.”

Namun ayah dua putri dan kakek dari satu cucu itu memilih tak larut dalam kesedihan. Dirawatnya Yudhistira yang terbuat dari komposit dan serbuk baja hingga kembali cakap, dijumputnya kepingan tubuh Kresna yang dibentuk dari komposit dan serbuk mutiara itu disusun dan dikembalikan sempurna.

“Kresna sudah pulih sempurna, tapi masih saya simpan di studio. Belum dipasang selama belum ada kepastian keamanan. Percuma saja kalau nanti dirusak lagi,” papar pria jebolan IKIP dan ITB Bandung itu.

Dedi memang kaget dengan aksi perusakan tersebut. Maklum saja sejak memutuskan untuk berkonsentrasi sebagai pematung. Baru kali ini patung karyanya dituding sebagai sebuah karya yang menyinggung keyakinannya sendiri.

Patung pertamanya, Parasamya Purna Karya Nugraha yang dikerjakan bersama seniornya, Bambang Nurcahyo di Bandung sejak 1990 sampai saat ini tetap tegak berdiri. Satu karya lagi, Patung Satria Tadulako di Palu sejak 2009 tetap gagah menantang.

Dedi yang menekuni material komposit itu memang tak mau larut dalam kesedihan, selain patung sang Proklamator, dia juga dikejar target menyelesaikan patung setengah badan Jenderal Sarbini yang akan dipasang sehari sebelum ulang tahunnya setengah abad.

M. Sarbini adalah seorang jenderal purnawirawan yang dilahirkan di Kebumen, Jawa Tengah dan banyak mengabdi selama masa perjuangan baik di bidang militer maupun pemerintahan RI.

Aksi Sarbini yang terkenal adalah saat menjadi salah satu aktor peristiwa palagan Ambarawa. Pada masa Soekarno dia menjadi menteri pertahanan yang kemudian digantikan oleh Letnan Jendral Soeharto.

Namanya diabadikan sebagai nama gedung veteran atau balai Sarbini yang berada di kawasan Semanggi, Jakarta Pusat, sekolah SMK Jenderal M. Sarbini dan akhir pekan ini diabadikan dalam sebuah taman di Kebumen.

“Proses pembuatan patung Sarbini cukup sulit berkali-kali dilakukan revisi karena proses interpretasi sosok diri adalah sebuah pekerjaan yang panjang hingga mencapai mufakat,” ujarnya.

Saat ditanya obsesinya bagi karya patung, Dedi hanya berharap suatu hari nanti bisa membangun sebuah patung setinggi 25 hingga 30 meter yang akan menjadi tengara kota Purwakarta. “entah kapan, yang jelas terus berkarya!”

Advertisements

1 Response to "Dede Gustiar dan patung wayang Purwakarta"

kenapa musti sedih pak,,, patung itu kan simbol bisu,, simbol tuli,, komersialisasi patug bapak mngkin bisa diterima di daerah yg berbasikan budaya murni,, jgn dipaksakan di daerah purwakarta yg berbasisikan agama,, tdk perlu larut dalam kesedihan,, apalah arti sebuah patung,,, khazanah budaya islam tidak mngenal patung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: