it’s about all word’s

Peter Carey: Long way for Diponegoro

Posted on: October 13, 2011

Pangeran Dipanegara atau biasa disebut Pangeran Diponegoro, demikian pria bernama kecil Raden Mas Ontowiryo itu menggetarkan Tanah Jawa sepanjang 1825-1830 yang memaksa Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) merogoh dana perang hingga 20 juta gulden.

Diponegoro lahir 11 November 1785 sebagai putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir), R.A. Mangkarawati dari Pacitan.

Mirip Patih Gajah Mada, Diponegoro mewarisi darah Sumbawa dari sang nenek buyut, Ratu Ageng Tegalrejo yang merupakan komandan pasukan Srikandi—seperti Korps Wanita Angkata Darat—yang membuat pemimpin pasukan Inggris, Thomas Raffles terpukau dengan ketangguhan bala tentara Srikandi tersebut.

Selain mewarisi darah Sumbawa, Diponegoro juga berdarah Pamekasan yang berasal dari nenek buyut, ibu dari kakeknya, Ratu Kedaton yang merupakan generasi keenam Pangeran Cakraningrat dari Tunjung Madura.

“Dengan darah campuran, Diponegoro secara genetis mewarisi ketangguhan, sementara dari sisi psikologi karena statusnya yang berasal dari istri selir, Diponegoro bisa mengambil jarak dari kekuasaan,” papar Peter Carey lincah.

Saya bertemu Carey dalam seminar nasional yang digelar Universitas Diponegoro. Selain Carey hadir Wakil Menteri Pendidikan, Fasli Jalal. Sayang pendukung acara tersebut, pebisnis Hasyim Djoyo Hadikusumo urung hadir.

Sudah 35 tahun Peter yang bule Inggris, kelahiran Rangoon, Birma, 30 April 1948 ini menggeluti soal Diponegoro sejak jatuh cinta pada pandangan pertama ketika membuka buku an Introduction to Indonesian Historiography karya H.J de Graff.

Menekuni sosok Diponegoro sendiri disebut Carey mirip sebuah takdir. Carey yang tengah bersiap menggarap tesisnya usai pulang dari Universitas Cornell, AS, tentang Revolusi Prancis di Trinity College, Oxford diajak berdiskusi dengan pembimbingnya, John “Jack” Andrew Gallagher sembari minum bir.

Sang profesor yang mendalami imperialisme di Afrika itu juga mengajak rekan peneliti, Profesor Richard Charles Cobb yang khatam sejarah Revolusi Prancis. Dalam diskusi serisu namun santai itu Carey mendapat saran untuk mendalami soal Perang Jawa yang belum banyak dipelajari.

Tentu saja untuk mempelajari sejarah Perang Jawa, Carey harus belajar bahasa Belanda dan bahasa Jawa termasuk membaca buku karya H.J de Graff yang menjadi buku pengantar.

“Ketika membuka buku itu pertama kali, terlihat lukisan Pangeran Diponegoro. Ada perasaan yang tak bisa saya lukiskan. Seperti jatuh cinta atau kerasukan pada sosok Pangeran Diponegoro, setelah itu sejak saat ini saya terus meneliti sosok Diponegoro,” kenang Carey.

Lebih lucu lagi, gara-gara menekuni Diponegoro pula, Carey bisa bertemu pendamping hidupnya dari Surakarta dan dianugerahi dua anak lelaki. “Tanggal 14 Februari 1972. Saya ingat betul tanggal itu.”

Tanggal itu, Peter Carey yang datang ke Indonesia untuk pertama kalinya pada 1970 untuk mengumpulkan data berburu Babad Dipanegara di pasar loak Klitikan, Solo. Buku berharga itu ditemukannya dengan harga teramat murah karena sang penjual menganggap buku itu tak bernilai.

Selama memburu Diponegoro memang sempat menetap di Yogyakarta selama dua periode. Yang pertama pada 1971 hingga 1973 dan 1976 hingga 1977 terutama untuk mengumpulkan data yang tersimpan di Arsip Nasional RI.

Babad Dipanegara sendiri diyakini adalah autobiografi yang ditulis Diponegoro dengan aksara Arab Pegon selama masa pembuangan di Menado. Sebuah autobiografi yang ditulis dengan sangat naratif dan santai.

Lewat autobiografi itu dia menjawab tudingan pembangkangannya kepada Sultan, takdirnya sebagai orang yang terpilih untuk menggegerkan Tanah Jawa hingga yang unik seperti jari lentik perempuan Tionghoa yang membuat pasukannya keok di Gowok pada ada 15 Oktober 1826.

“Diponegoro ini sejatinya tak bisa membaca dan menulis. Namun sepanjang perjalanan ke Makassar dia membaca—dengan bantuan ajudannya–dua buku yaitu buku tentang agama Budha di Srilanka dan Perang Salib pertama,” ujar Carey dengan kagum.

Sepanjang pengasingannya, Diponegoro menghadapi hal tersebut dengan kepasrahan. Sang pangeran tak tenggelam dalam dendam seperti halnya Kyai Mojo atau harus menyerah pada Belanda.

Setidaknya hal itu dinyatakan lewat surat putra mahkota Kerajaan Belanda, Hendrik sang Pelaut kepada sang ayah yang menyatakan dalam pengasingannya mata Pangeran Diponegoro tetap menyala sebagai seorang pria.

Untuk kegilaannya itu Carey memang sangat pantas disejajarkan kegilaannya sejahrahwan asal Belanda, Harry A Poeze atas diri Tan Malaka. Seperti halnya Poeze, Carey kini juga tengah disibukkan dengan proyek alihbahasa Babad Dipanegara.

“Saya sedang mencari penyandang dana yang mau membantu untuk membiayai cetakan kedua karena edisi pertamanya sudah dibiayai pemerintah Inggris,” harap Peter Carey.

4 Responses to "Peter Carey: Long way for Diponegoro"

Ah..andai saja saya bisa berdiskusi dan berbincang-bincang langsung dengan Peter Carey..soal sosok yang sama-sama kami kagumi dan kami hormati..pasti luar biasa.Indonesia saat ini membutuhkan sosok seperti Pangeran Diponegoro

“Diponegoro ini sejatinya tak bisa membaca dan menulis”
Wah, masak sih, harusnya kalau beliau mengerti agama secara mendalam dan mempelajarinya, apalagi jadi santri dalam waktu yg tidak pendek, kalau tidak bisa baca tulis huruf arab adalah hal yg sangat aneh.
Mungkin maksudnya adalah dalam huruf latin, dan bukan berarti sama sekali tidak bisa membaca-menulis.
*sekedar opini saja

peter carey meneliti diponegoro dari literatur primer selama 30 tahun…tapi saya sangat berharap mas’e bisa mematahkan teori pak carey…itu pasti mangnus opus bagi sejarahwan indonesia…

kemarin 14 mei 2012 peter carey kembali hadir di Diponegoro Univercity loh. dia pembicara semangat Diponegoro di Gedung Prof Sudarto UNDIP. bnyak bnget penanya yg antusisas. hmm… termasuk gw.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: