it’s about all word’s

Sistem pasar unggas perlu restrukturisasi

Posted on: October 31, 2011

Masyarakat Indonesia telah memelihara ayam dalam waktu yang sudah lama. Peneliti Biologi LIPI, Syamsul Arifin Zein menyatakan hampir setiap keluarga di Indonesia memelihara ayam di rumahnya. “Biasanya, mereka memelihara ayam kampung di belakang rumah,” katanya.

Dia menyebutkan di era 1970-an, ayam ras mulai dikenal publik ketika bimbingan masyarakat (Bimas), sebuah program untuk memandu masyarakat, pertama kali diresmikan pemerintah. Produksi ayam ini kemudian diikuti oleh pertumbuhan investasi asing. Pemerintah Indonesia melakukan intervensi dalam industri unggas ini untuk menghasilkan produksi ayam secara lebih besar karena daging ayam disukai banyak orang
Model produksi ayam bukan hanya sebatas pada pemeliharaan ayam untuk konsumsi di skala kecil saja. Kehadiran investasi baru di sektor ini menciptakan sebuah kemitraan dalam bentuk Perusahaan Inti Rakyat Perunggasan (PIR-Perunggasan).

PIR-Perunggasan adalah kemitraan antara perusahaan peternakan skala besar dengan infrastruktur yang tepat untuk produksi unggas, dan peternak kecil. Perusahaan di sini dianggap sebagai inti dan peternak disebut plasma.

Pertumbuhan industri ini pernah menghadapi masa pasang surut. Pertama, saat terjadi krisis keuangan pada 1997, tetapi industri ini bangkit lagi di era pascareformasi. Kedua, pada 2003 saat wabah virus H5N1 atau dikenal dengan virus flu burung merebak. Jutaan unggas dimusnahkan pada skala nasional.

Lebih jauh lagi, penyakit ini diyakini masih mengancam manusia sampai saat ini seperti yang terjadi di Bali baru-baru ini.

Namun, para peternak di skala industri dan akar rumput, organisasi nonpemerintah, serta lembaga penelitian mencoba untuk memecahkan masalah dengan mengubah fasilitas produksi bersama dengan proses pemasaran dan distribusi terpadu.

Artinya, perlunya restrukturisasi rantai pasar unggas.
Para pemain di sektor ini dibagi menjadi dua. Industri skala besar dan skala kecil.

Para peternak kecil disebut peternak mandiri dan plasma. Para peternak plasma adalah orang-orang yang menghubungkan satu peternak dengan pihak lain dalam hal penyediaan fasilitas produksi ayam.

Contoh dari hubungan antara peternak industri besar dan peternak kecil dapat ditemukan di banyak daerah di Pulau Jawa a.l. Bogor, Tangerang dan Bekasi.

Ada dugaan, keberadaan industri yang lebih besar itu menjadi penyebab peternak kecil mengalami tekanan. UU No. 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan sebagai perubahan UU no. 6/1967 memungkinkan industri besar untuk mengembangkan budi daya dan pasar produksi sendiri.

Akibatnya, industri besar semacam ini juga mengisi pasar dari peternak kecil. Peternak kecil dan industri yang lebih besar memiliki cara yang berbeda dalam melakukan perdagangan. Para peternak kecil tidak memiliki kemampuan untuk menjangkau pasar konsumen secara langsung.

Namun, masalah wabah seperti flu burung menjadi faktor pengganggu tambahan untuk produksi peternak kecil, bahkan membuat kapasitas industri mereka semakin merosot. Jutaan unggas mati di kedua sektor, peternak kecil dan industri, ketika kasus wabah flu burung ditemukan pada 2003.

Pada 2010, tinggal 4.000 peternak aktif. Jumlah itu setengah dari jumlah peternak yang ada pada 5 tahun sebelumnya. Namun, industri peternakan skala besar lebih mampu untuk bangkit lagi dan memperbaharui teknologinya. Era krisis ekonomi dan wabah flu burung telah mengurangi jumlah peternak kecil.

“Sierad juga terpengaruh dengan adanya wabah flu burung, bahkan dapat dikatakan kita hampir berhenti beroperasi. Namun, setelah pulih pada 2007, kami memulai usaha peternakan lagi,” kata Elisina Desiree Normarna, QA / QC / RnD Senior Manager, PT Sierad Produce Tbk.

Elisina menambahkan ketika mereka memulai bisnis lagi sejak 2007, 30.000 ayam diproduksi Sierad dalam sehari. “Pada 2007 kami berhasil mencapai keuntungan total Rp27,5 miliar,” tambah Elisina.

Pada Agustus 2009, perusahaan mencatatkan pertumbuhan usaha 7% untuk pembibitan day old chicken (DOC) dan 7% lainnya untuk pasar pakan ternak. Tahun ini, mereka memproduksi 60,000-70,000 ayam per hari.

Namun, yang kecil? Untuk itu, seperti dikatakan Kepala Urusan Epidemiologi dan Surveilans, Kementerian Pertanian, Mastur AR. Noor mengatakan perlunya restrukturisasi usaha.

Esensi dari restrukturisasi dalam sistem pasar unggas sebenarnya sederhana. Yakni bagaimana mengubah pasar tradisional yang becek dan kotor dapat terorganisir menjadi industri yang bersih, sehat, dan nyaman.

Dia menambahkan, upaya yang paling signifikan untuk mengatasi penyakit adalah membersihkan ‘kepala’-nya. Di sini, ‘kepala ayam’ berarti sumber asal muasal seluruh proses rantai pasar seperti pada peternak unggas.

“Ini hanya contoh, itu mengapa kita terus berhati-hati dalam menangani masalah ini dengan para peternak. Saat kami melakukan perubahan harus mudah dipahami, seperti yang bertujuan untuk pengendalian penyakit apapun terhadap unggas rumahan seperti ayam, bebek, dan segala macam unggas lain,” katanya di Bekasi.

Tugas lain adalah pelatihan biosekuriti untuk menghindari kontak antara hewan dan organisme mikro. Pada dasarnya, hanya ada dua cara biosekuriti. Pertama, dengan mencegah infeksi pada unggas dan kedua membatasi penyebaran jika terjangkit infeksi. Tindakan berikutnya adalah deteksi, pelaporan, dan sistem penanganan darurat awal. Kegiatan pelatihan ini melibatkan 2.253 petugas di 29 provinsi.

Ketua Pinsar, Hartono menjelaskan flu burung tidak akan mengganggu setiap telur dan daging ayam dalam produksi skala nasional. Dia menghitung populasi ayam sekarang mencapai 500 juta, termasuk 200 juta ayam kampung, 150 jutaan ayam pedaging, serta 15 juta ayam petelur.

Namun, dia mendesak agar pemerintah dapat lebih berperan aktif dalam mengantisipasi wabah lainnya di masa mendatang. Ide sistem kandang yang sehat dan bersih dengan menerapkan teknik biosekuriti memberikan konsekuensi dalam penganggaran. “Tidak semua program pemerintah dapat dioperasikan karena tidak tersedianya anggaran,” ujar Hartono.

Peraturan harus standar untuk semua kandang, termasuk dalam memberikan fasilitas penyemprot untuk menciptakan biosekuriti yang baik. Sebab semua itu membutuhkan investasi yang besar dan menyulitkan peternak kecil.

Hartono berharap pemerintah akan memberikan dana bagi mereka, tetapi juga harus pada sasaran yang tepat.
“Banyak program pemerintah yang dianggap tidak fokus dan tidak tepat sasaran. Hanya pihak tertentu yang mendapat informasi dan dapat mengakses sumber daya serta sumber dana tersebut. Ironisnya, peternak kecil belum pernah mendengar tentang itu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: