it’s about all word’s

Totalitas Rafiq untuk olah raga berkuda

Posted on: October 31, 2011

Melatih rasa kepercayaan diri ternyata bisa juga dengan cara berkuda. Ini tak umum untuk masa ketika kuda gigit besi adalah sebuah kemewahan. Setidaknya kepercayaan diri itu kini ada dan melekat pada diri seorang pria yang sejak kecil sudah berkenalan dengan kuda yakni, Rafiq Hakim Radinal.

Sejak umur 4 tahun, pria kelahiran 8 Agustus 1963 diperkenalkan sang kakek pada kuda. Perlahan tapi pasti, dari hanya sekedar diajak main membuahkan rasa cinta, prestasi dan profesionalitas yang tak main-main.

Rafiq dengan keyakinan selama 17 tahun membangun Arthayasa Stables sebagai ekuestrian terbaik, tidak hanya di Indonesia. Mimpinya besar, ekuestrian diakui di di Asia Tenggara, satu langkah awalnya adalah menjadi lokasi pertarungan Sea Games 2011.

Demi mimpi itu, Rafiq mendirikan stable (kandang) pertama di Limo, Cinere pada 1992. Informasi ini kemudian menyebar dari mulut ke mulut hingga sahabat dan rekannya menitipkan kuda mereka hingga lahirlah Arthayasa Stables sekaligus sekolah berkuda.

Nama Arthayasa berasal dari kuda pertama yang ditunggangi oleh Rafiq kecil. Saat ini, setelah 17 tahun kemudian, Arthayasa adalah sebuah klub yang mewah dengan 14 hektar lapangan hijau, sebuah surga ekuesterian.

Sebagai arsitek jebolan New Hampshire College dan Universitas Trisakti, Rafiq mendesain dan membangun Arthayasa yang kini menampung sekitar 60 kuda latih dan kuda poni dengan kondisi sealami mungkin.

Sebagai sebuah sekolah berkuda, Arthayasa juga mengorganisasi pelatihan luar negeri dengan 30 sekolah kuda dan poni. Bila penunggang ingin mengambil level yang tinggi,
pengendara harus mengambil kuda baik itu dimiliki atau disewa sebagai mitra untuk berlatih terutama saat berlaga di ajang nasional maupun internasional.

Menyatu dengan kuda adalah sebuah kewajiban, sebagai sebuah olehraga keindahan para penunggang Arthayasa memegang kepercayaan bahwa dengan mengimprovisasi performa kuda.

Pelatihan internasional

Menurut Sekretaris Jendral Equestrian of Indonesia (EFI) agar maksimal untuk menjadi yang terbaik dapat diartikan sebagai belajar dari pelatih kelas atas yang sudah mendunia di tempat fasilitas kuda terlengkap.

Sejak 1992 Rafiq sudah mulai akfif di setiap kegiatan kuda khususnya setiap pertandingan equestrian, yang mengkhususkan lomba dispilin ketangkasan sehingga terlibat dalam pembentukan.

EFI adalah satu wadah kepanjangan tangan dari FEI Federation of Equestrian Internasional. Saat ini Irvan Gading menjabat President EFI Indonesia yang mendukung penuh penyelenggaraan cabang olahraga berkuda pada Sea Games 2011.

“Sebagai organisasi yang telah diakui dunia internasional dan berada di bawah naungan KONI dan KOI, mau tak mau EFI harus memiliki standar pelatihan yang tepat dan kuda yang berkualitas adalah kunci sukses dalam ekuestrian,” ujarnya.

Sayangnya, pada saat itu, lingkup ekuestrian di Indonesia tidak memiliki prasyarat atau aturan tersebut. Kondisi inilah yang membuat Rafiq mengubah stable (kandang kuda) miliknya sebagai fasilitas pengembang-biakkan kuda.

Program pengembang-biakkan kuda-kuda dengan kemampuan melompat dan cerdas di Arthayasa Stables dilakukan dengan menggunakan inseminasi buatan melalui impor sperma kuda dari Belanda dan Jerman.

Tentu saja sesuai aturan kuda turunan yang lahir di Arthayasa kemudian didaftarkan pada Dutch Studbook yang dikeluarkan oleh Koninklijk Warmbloed Paardenstamboek Nederland (KWPN) agar memiliki paspor KWPN sehingga bisa bertarung di ajang internasional.

Meski demikian, menurut Rafiq proses inseminasi buatan tidak cocok di Indonesia, salah satunya disebabkan kurangnya dokter hewan yang berkualitas dan peralatan yang minim sehingga tingkat keberhasilan menjadi rendah. Tercatat sejak 1996, Arthayasa telah mengembangbiakkan kuda dan melatih sekitar 25 kuda.

Sementara untuk kepelatihan, usai kontribusi besar dari seorang pelatih berkuda asal Belanda Erik Naberink, banyak pelatih Eropa yang sering berkunjung ke Arthayasa a.l Gunter Treiber (Jerman), Barnabas Mandy(Hungaria),Michael Kraemer (Jerman), Harry Wouters Oedenweijer (Belanda), Jean Marc Nicolais (Prancis), Polly Anne Huntington (Australia) , Pieter Jan Berker (Belanda)

Kehadiran pelatih asing membuka jalan untuk anggota Arthayasa dan instruktur untuk memiliki kesempatan dan mengembangkan skill dari skala waktu 2 ke 4 kali dalam setahun.

Lewat perjuangan EFI, atlet berkuda Indonesia mampu untuk bersaing di ajang nasional dan internasional seperti PON, World Jumping Challenge, Test Ground dan FEI World Challenge.

“Tak perlu diragukan sudah banyak atlet Indonesia yang mampu mengharumkan nama Indonesia,” paparnya yang berharap atlet Indonesia meraih emas pada Sea Games 2011.

Jika ditanyakan apa kendala Rafiq mengembangkan Arthayasa Stables, Rafiq langsung menyebut biaya yang tak sedikit, terutama untuk kebutuhan kuda.

“Saya berharap berbagai pihak mendukung. Dengan itu akan memudahkan kita menembus semua lapisan di dunia yang mengadakan perlombaan equestrian,” ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: