it’s about all word’s

Ekuador, Brazil and Chevron

Posted on: January 20, 2012

Tahun ini Amerika Selatan rajin memberikan pil pahit berupa denda dalam jumlah super besar kepada korporasi raksasa minyak dan gas asal Amerika Serikat, Chevron. Pil pahit itu diawali keputusan pengadilan banding Ekuador pada awal Januari 2012.

Hakim menguatkan putusan bahwa Chevron Corp harus membayar US$18 miliar setara Rp165,24 trliun atas tuduhan pencemaran hutan Amazon dan merusak kesehatan masyarakat.

Keputusan yang mengagetkan karena pada Februari 2011, hakim hanya menjatuhkan denda US$8,6 miliar untuk tuduhan kerusakan lingkungan. Namun, dasarnya entitas Amerika Serikat, Chevron bandel dan menolak meminta maaf ke publik yang membuat hakim geram. Hasilnya denda ditambah berlipat-lipat.

“Kami meratifikasi putusan 14 Februari 2011 di semua bagian, termasuk hukuman untuk reparasi moral,” kata pengadilan di kota Amazon Lago Agrio seperti dikutip dari The Star.

Keputusan ini membuat perusahaan migas lain ketar-ketir karena bisa saja mereka dijerat tudingan serupa. Tidak heran, Chevron mengecam keputusan tersebut sebagai “tidak sah” dan “penipuan” dan memastikan akan terus mencari jalan melalui proses di luar negara tersebut.

Perusahaan minyak terbesar kedua AS itu juga bisa meminta intervensi dari Mahkamah Agung Ekuador untuk kasus hukum yang prosesnya telah berlangsung selama 18 bulan tersebut

Para penggugat menuduh Texaco, yang diakuisisi oleh Chevron pada 2001, menyebabkan minyak tercecer mencemari hutan, menyebabkan penyakit dan kematian penduduk asli Indian.

Mengomentari keputusan pengadilan banding itu, Presiden Ekuador Rafael Correa, mengatakan senang dan dia menggambarkan sengketa sebagai pertempuran ‘David dan Goliat’.

“Saya kira keadilan telah dilakukan. Kerugian yang disebabkan Chevron di Amazon tidak bisa dipungkiri,” kata Correa kepada wartawan di kota pesisir Guayaquil.

Selain di Ekuador, Chevron juga terjerat masalah di Brasil. Hampir bersamaan dengan keputusan pengadilan Ekuador, pengawas industri minyak Negeri Samba itu mengeluarkan denda atas kebocoran ladang minyak Frade yang dikelola Chevron di perairan Campos Basin, negara bagian Rio de Janeiro, yang berlangsung sejak 7 November 2011.

Jika sebelumnya Chevron hanya didenda sebesar US$28 juta atau sekitar Rp252,7 miliar, maka keputusan terakhir menyebutkan pengadilan Brasil mendenda Chevron senilai US$ 20 miliar.

Tak cukup Chevron, para penegak hukum Brasil tanpa ragu menindak perusahaan pengeboran Transocean yang mengerjakan proyek Chevron di perairan Campos Basin tersebut.

Menurut Badan Perminyakan Brasil (NPA), kebocoran itu menyebabkan gangguan produksi di kawasan kilang minyak Frade yang dimiliki perusahaan minyak Brasil, Petrobras, yang menggandeng konsorsium dari Jepang.

Dalam sehari, kebocoran di ladang Frade imenyemburkan minyak mentah sebanyak 200 hingga 330 barel. Sebagai perbandingan, tumpahan minyak di Teluk Meksiko yang disebabkan BP mencapai lebih dari 3.000 barel minyak per hari.

Pada puncak dari tumpahan di Rio de Janeiro, NPA melaporkan bahwa ada 200 hingga 330 barel minyak per hari yang bocor ke lautan.

Jumlah denda yang dijatuhkan seperti dikutip dari Rio Times tak kalah gilanya, mencapai US$10,8 miliar atau setara Rp97,2 triliun. Keputusan rasanya cukup berat bagi Brasil karena Transocean adalah pemain besar di bisnis minyak lepas pantai.

Per Agustus 2011, utilisasi atas fasilitas pengeboran lepas pantai di Brasil mencapai 95%, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia yang mencapai 80%, sementara harga sewa kapal sehari mencapai US$310.000 lebih mahal dibandingkan dengan rata-rata dunia yang mencapai US$230.000.

Bagi Transocean, operasional di Brasil menjadi penyumbang terbesar perusahaan yang bermarkas di Swiss tersebut disusul Amerika Serikat, Inggris dan India. Di Brasil, Transocean memiliki 10 rig lepas pantai, tujuh di antaranya dikontrak oleh Petrobras.

Rig Transocean paling mahal di Brasil dalam sehari harus dibayar US$535.000 dan tak satu pun dari sembilan rig lainnya yang disewa dengan harga kurang dari US$253.000.

Dengan ancaman denda dan larangan operasional di Brasil, utilitas rig Transocean diprediksi akan turun hingga separuh pada tahun ini dan membuat harga sewanya melorot hingga US$ 240.000 yang berimbas pada penurunan nilai saham hingga 10%.

Melihat aksi Ekuador dan Brazil, Indonesia mesti malu. Dalam kasus pencemaran minyak Montara di Laut Timor yang dilakukan perusahaan minyak dan gas asal Thailand, PTT Exploration and Production (PTTEP) ternyata Indonesia kalah telak.

Sayangnya, mirip pretasi sepak bola, tuntutan ganti rugi senilai Rp 23,27 triliun karena kebocoran di Blok Atlas, Australia Utara, pada 21 Agustus 2009 ternyata hanya angin lalu. Klaim yang diajukan pemerintah tak ditanggapi BUMN Thailand tersebut maupun Australia. Alias gagal total.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2012
M T W T F S S
« Nov   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d bloggers like this: