it’s about all word’s

Jauh api konflik Iran-AS menyambar

Posted on: January 20, 2012

Persia atau Iran. Tanah para Arya. Tempat asal tiga orang Majus dari Media yang mengunjungi bayi Isa yang lahir di kandang. Tanah yang kaya raya tempat para bangsawan yang tak pernah bosan bergolak.

Pergolakan tak pernah lepas dari Iran modern yang menjadi rebutan karena kekayaan minyaknya. Nama-nama seperti Mohammad Reza Shah Pahlavi, Mohammed Mosaddegh hingga Ayatullah Agung Ruhollah Khomeini tercatat dalam sejarah Iran yang getir.

Namun kiprah barat juga tak lepas dari sejarah Iran yang penuh darah. Alexander The Great atau Iskandar Agung berpendapat tanpa melibas Persia sebagai representasi Timur, Kerajaan Romawi di Barat tak akan pernah menjadi penguasa tunggal.

Iran modern juga tak lepas dari pengaruh barat. Inggris dan Uni Soviet di masa Reza Shah, penggulingan Shah Pahlavi hingga aksi Amerika Serikat-Inggris menekuk Mosaddegh yang dekat dengan Uni Soviet pada 1953.

Namun Barat lupa dengan adanya sosok pemimpin Syiah, Ayatullah Khomeini di Prancis menggelorakan revolusi Iran yang berhasil menggulingkan Shah Pahlavi pada 1979, mendirikan Republik Islam Iran sekaligus memulai perang berkepanjangan dengan Barat hingga saat ini.

Namun, perseteruan Iran dan Barat kini semakin meruncing dengan setelah Presiden Amerika Serikat, Barack Obama memberikan ‘hadiah tahun’ bagi Iran dengan menandatangani sanksi anti-Iran.

Keputusan Paman Sam memaksa negara dunia memilih bertransaksi dengan Iran atau Amerika. Undang-undang tersebut akan diberlakukan 60 hari sejak diteken atau pada awal April 2012.

Iran sendiri langsung meradang, mengancam akan menutup Selat Hormuz, tempat lalu lintas minyak dunia, hal serupa pernah dilakukan Inggris-AS saat perusahaan minyak mereka dinasionalisasi Mosaddegh pada 1951.

AS jelas tak sendiri, Uni Eropa pun dipaksa mengikuti langkah mereka. Alhasil Pemerintah UE bakal menggelar pertemuan konsultatif pada 23 Januari. Kabar terakhir, Presiden UE saat ini, Denmark mengajukan sanksi bagi Iran dimulai pada 1 Juli.

Pada 2010, minyak dari Iran memenuhi 5,8% total impor Uni Eropa atau pemasok terbesar kelima setelah Rusia, Norwegia, Libya dan Arab Saudi. Minyak Iran terbanyak dikonsumsi Spanyol (14,6%), Yunani (14%) dan Italia (13,1%).

AS tekan Asia

Usai menekan Uni Eropa, AS bergerak ke Asia khususnya Jepang, Korea Selatan dan China. Untuk menekan Jepang dan China, Washington mengutus Menteri Keuangan Amerika Serikat Timothy F. Geithner. Sementara untuk Korsel, cukup penasehat Mendagri urusan pengawasan senjata Robert Einhorn.

Ketiga negara Asia itu memang dikenal rakus minyak. Jepang dalam sehari mengkonsumsi 314.000 barrel minyak Iran, sementara Korea Selatan 247.000 barrel per hari sementara China mengimpor 420.000 barel per hari

Ditekan AS, Pemerintah Jepang dan China sudah menegaskan akan mengurangi ketergantungan mereka terhadap minyak mentah Iran. Namun Korsel mengaku kesulitan melakukan langkah serupa.

Maklum, selain impor minyak Seoul juga terlibat kerjasama dengan Teheran dalam proyek pembangunan pipa minyak sepanjang 1.680 kilometer untuk membawa minyak dari Laut Kaspia di Utara ke Laut Oman di Selatan.

Proyek pipa minyak senilai US$3,3 miliar hingga US$3,7 miliar itu akan menyalurkan minyak mentah dari pelabuhan Neka di wilayah paling utara Iran ke pelabuhan Jask di Selatan Iran.

Bos Perusahaan Minyak Iran (NIOC), Ahmad Qale seperti dikutip dari Press TV menyatakan proyek pipa dengan Korsel dalam sehari bisa mengangkut minyak sebesar 200.000 barel per hari pada 20 Maret 2012 untuk diangkut Hyundai Oilbank dan diolah oleh SK Innovation.

Satu-satunya negara besar Asia yang sudah menolak langkah AS adalah India. Bukan karena India mendukung Teheran, tetapi karena punya utang US$9 miliar atau setara Rp76 triliun atas minyak Iran.

Selama 2011, India dipasok minyak oleh Iran sebesar 400.000 barel per hari dan tunggakan itu telah berjalan tujuh bulan dan baru dicicil US$100 juta lewat bank Turki.

Selain raksasa Asia, negara-negara anggota ASEAN juga kena getah sanksi AS. Singapura menjadi negara yang merasakan pertama kali saat Kuo Oil Pte Ltd kena sanksi karena merupakan salah satu importir terbesar minyak dari Iran.

Bagaimana negara lainnya? Malaysia dan Indonesia tinggal menunggu saja. Pasalnya Petroliam Nasional Bhd (Petronas) punya saham di lapangan minyak Azadegan, South Pars dan proyek impor minyak.

Bagimana Indonesia? Tercatata Pemerintah Indonesia dan Iran mendirikan perusahaan patungan, Banten bay Refinery di Bojanegara, Banten. Dalam perusahaan patungan senilai US$ 4 miliar itu, PT Pertamina dari Indonesia sama-sama berbagi saham dengan National Iranian Oil Refining and Distribution Company sebesar 40%.

Sementara Petrofield dari Malaysia yang juga terlibat memiliki 20% saham. Untuk proyek ini, Iran berkomitmen memasok minyak mentah sebesar 150.000 barel per hari untuk masa 20 tahun sejak proyek dioperasikan.

Repotnya, selain menjalin kerjasama di Bojanegara, PT Pertamina (Persero) juga mengimpor minyak dari pasar internasional yang sebagian berasal dari Timur Tengah, jika Selat Hormuz ditutup Iran artinya kiriman minyak itu terganggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2012
M T W T F S S
« Nov   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d bloggers like this: