it’s about all word’s

Kusut pembelian tank: Leopard hingga Scorpion

Posted on: January 20, 2012

Meski butuh uang, rencana pembelian 100 tank Leopard bekas milik Belanda oleh Indonesia telah ditentang parlemen Belanda dengan alasan HAM yang dimotori Fraksi Kiri Hijau, Arjan El Fassed.

Indonesia diketahui berencana membeli 100 Main Battle Tank (MBT) Leopard, terdiri dari 50 unit tipe 2A4 dan 50 unit tipe 2A6 bekas dari Belanda yang tahun ini mengurangi anggaran pertahanan mereka.

Untuk tipe 2A4, harga yang akan dibayarkan sekitar 700.000 euro atau setara Rp8 miliar per unit, sementara tipe 2A6 800.000 euro atau sekitar Rp9,2 miliar per unit. Itu belum termasuk biaya overhaul 800.000 Euro per unit tank berbobot sekitar 60 ton tersebut.

Sampai saat ini Indonesia masih mengandalkan Main Battle Tank (MBT) PT-76 buatan Rusia yang uzur, sementara tank termodern Indonesia adalah tank ringan AMX-13 buatan Prancis dan FV-101 Scorpion Inggris. tank ringan AMX-13 menarik karena kendaraan tempur berbobot tempur 14,5 ton, diawaki 3 kru, senjata tambahan berupa senapan mesin kaliber 7,62 mm yang koaksial dengan meriam di turet ini berasal dari Belanda.

Seperti diketahui pembelian tank bekas dari Belanda bukan pertama kali terjadi, sampai saat ini AMX-13/150 Prancis adalah armada terbesar tank ringan AD Indonesia. Tank dengan meriam kaliber 105 mm berjumlah 130 unit juga dibeli bekas dari Belanda pada 1980-an. Sementara versi self-propelled gun AMX-13 Mk-61 sebanyak 50 unit, juga dibeli bekas dari AB Belanda pada 1984.

Saat itu hubungan Belanda-Indonesia sangat erat karena sejak 1967 hingga 1991, Belanda menjadi ketua Intergovernmental Group on Indonesia, IGGI, kelompok negara dan lembaga internasional yang memberi bantuan pembangunan pada Indonesia.

Pembelian AMX-13 sendiri saat itu tak kalah ramainya diberitakan karena aktivis HAM Belanda mengecam Operasi Pembunuhan Misterius (Petrus) pada eran 1980-an.

Hubungan Belanda-RI akhirnya retak setelah Belanda resmi mengecam keras peristiwa penembakan terhadap para demonstran di kompleks pemakaman Santa Cruz Dilli, Timor Timur pada 12 November 1991. Dihujat kanan-kiri, akhirnya pada Maret 1992, Soeharto memutuskan membubarkan IGGI.

Ingat Scorpion

Mungkin sudah warisan sejarah, pembelian tank Indonesia selalu penuh lika-liku. Saat ini rencana pembelian Leopard bekas asal Belanda lagi-lagi marak tak hanya karena urusan uang tapi juga isu HAM.

Agar tak lupa, sebelum membeli kucing baja Leopard mesti diingat kasus pengadaan tank yang ramai dan berlarut-larut tak berujung ketika Indonesia membeli 123 unit FV-101 Scorpion Inggris yang dipesan pada 1994 yang kemudian datang berbondong-bondong pada 1997-1999.

Beragam tipe hadir mulai dari Scorpion Tank (FV101) berkanon Cockerill 90 mm, Stormer APC ( Armored Personel Carrier/ FV103 Spartan), Stormer Recovery (FV106 Samson), Stormer Logistic, Stormer Bridge dan Stormer Ambulance (FV104 Samaritan).

Tank Scorpion merupakan salah satu jenis tank ringan dari jenis Combat Vehicle Reconnaisance Tracked (CVRT), yang berarti kendaraan intai tempur beroda rantai. Tank ringan ini berasal dari Inggris dan diproduksi oleh Alvis Vickers, belakangan Alvis Vickers ini diakuisisi oleh BAE Systems Land System (Weapon & Vehicles).

Sekilas pembelian tank ringan ini sempurna, belakangan ramai menuai sumpah serapah. Pasalnya ternyata Indonesia membayar satu tank senilai US$2,5 juta, sedangkan Singapura pada tahun yang sama membeli dengan harga hanya US$1 juta.

Puncak sumpah serapah publik terjadi setelah artikel harian The Guardian menyengat tajam adanya praktek broker. Bukan main-main yang disengat adalah Siti Hardiyanti Rukmana, putri sulung mantan Presiden Soeharto alias Tutut.

The Guardian mengikuti kasus gugatan Chan U Seek, Direktur Avimo Singapura, seorang broker perdagangan senjata di Singapura, menggugat Alvis Plc di pengadilan Inggris karena Alvis tidak membayar komisi dalam penjualan tank Scorpion tersebut.

Dalam artikel di The Guardian, 8-9 Desember 2004, dalam persidangan di Inggris, Alvis Plc dituding Chan justru memberikan komisi kepada Siti Hardiyanti Rukmana yang berperan sebagai konsultan penjualan tank itu.

Guardian menulis bahwa dalam pembelian 100 tank Scorpion sebesar Rp 2,8 triliun, Siti Hardiyanti Rukmana, putri sulung mantan Presiden Soeharto alias Tutut memperoleh komisi 10% atau senilai 16,5 juta poundsterling atau setara—saat itu–Rp291 miliar.

Kasus yang disidik macan ompong KPK pada 2004 ini selain menyeret Tutut, juga menyeret sejumlah petinggi TNI a.l. Jenderal TNI (Purn) R Hartono, Jenderal TNI (Purn) Wismoyo Arismunandar dan Direktur Utama PT Surya Kepanjen Widorini S Sukardono. Tentu saja, seperti biasa kasus ini menguap begitu saja. Dasar KPK!

Advertisements

1 Response to "Kusut pembelian tank: Leopard hingga Scorpion"

mbt harus di beli, kalo leopard 2 ga bs, ms ada leclerc atau k1a1 dan k2. tuh LSM2 mang ga suka kalo Indonesia kuat. mwnya ngikutin kemauan negara2 barat terus, mereka tuh mw menjatuhkan pancasila dan menghancurkan pengaruh2 islam. mbt harus beli segera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2012
M T W T F S S
« Nov   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Advertisements
%d bloggers like this: