it’s about all word’s

Akhir manis Ali Abdullah Saleh setelah 33 tahun ?

Posted on: January 31, 2012

Pada 22 Januari 2012 Presiden Ali Abdullah Saleh berpamitan ke rakyatnya. Dengan suara bergetar Saleh di depan televisi milik pemeritah meminta maaf atas “setiap kekurangan” dalam 33 tahun kekuasaannya sebelum meninggalkan Yaman untuk berobat ke Amerika Serikat.

“Insya Allah, saya akan berangkat perawatan [medis] di Amerika Serikat dan saya akan kembali ke Sanaa sebagai kepala partai Kongres Rakyat Umum,” katanya kemarin (22/1).

Kepergian Saleh memberikan jalan bagi transfer kekuasaan sepenuhnya setelah satu tahun kerusuhan sekaligus memenuhi janjinya menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya Abd-Rabbu Mansour Hadi, November lalu.

Hadi akan membentuk sebuah posisi yang dipimpin pemerintah nasional dan mengatur pemilihan presiden sejak selama 60 hari sejak perjanjian diteken Saleh disaksikan utusan PBB Jamal Benomar.

“Saya meminta pengampunan dari semua orang Yaman dan perempuan untuk setiap kekurangan yang terjadi selama 33 tahun pemerintahan saya. Sekarang kita harus berkonsentrasi pada martir dan terluka,” tuturnya.

Pidato Saleh terdengar menyejukkan, namun tak lebih sekedar hasil transaksi politik. Pasalnya, satu syarat mutlak dari Saleh untuk menekn kesepakatan perjanjian mundur adalah pemberian kekebalan dari penuntutan berdasarkan hukum yang disahkan oleh parlemen.

Parlemen Yaman lewat pemungutan suara yang berlangsung Sabtu (21/1) akhirnya sepakat memberi kekebalan dari tuntutan hukum kepada Presiden Ali Abdullah Saleh dan sejumlah pembantu Presiden Saleh–termasuk beberapa anggota keluarganya–namun bersifat terbatas sehingga bukan merupakan kekebalan hukum secara total.

Kesepakatan peralihan kekuasaan sebelumnya mencakup kekebalan hukum atas semua orang yang ‘pernah bekerja dengannya’.

Masalah ini menjadi isu yang sensitif karena Yaman sedang berada dalam proses transisi politik dan banyak pengunjuk rasa yang tetap menuntut agar Presiden Saleh harus diadili.

Unjuk rasa menentang kepemimpinan Presiden Saleh sudah berlangsung sekitar setahun. Pemerintah mengerahkan aparat keamanan untuk membasmi aksi unjuk rasa dan ratusan orang meninggal.

Presiden Saleh berkuasa sejak 1978 dan dia beserta keluarganya mengendalikan aparat keamanan Yaman yang sebagian besar merupakan jebolan perang Afghanistan seperti Ali Muhsin sebagai pemimpin militer dan Tariq al-Fadhli.

Dengan tangan besi, Yaman dengan komposisi penganut Sunni dan Syiah mencapai titik terpanas sejak Husein Al-Houthi di Yaman Utara melakukan pembangkangan pada 2004. Pangkal persoalan adalah diskriminasi ekonomi pemerintah Yaman atas wilayah utara yang didominasi Syiah.

Konflik semakin panas pada 2009, saat pemerintah Yaman menuduh Houthi menculik sembilan turis di Provinsi Sa’dah yang berujung perintah Saleh agar dilakukan Operasi Bumi Hangus (Scorched Earth) pada 11 Agustus yang menelan banyak korban di Yaman Utara.

Tak heran sejumlah pihak menentang pemberian kekebalan hokum, namun banyak yang berpendapat bahwa hal tersebut dibutuhkan agar Yaman bisa melangkah maju menuju demokrasi.

Rencananya Yaman akan menggelar pemilihan presiden pada 21 Februari namun menteri luar negeri sudah memperingatkan penundaan dengan alasan keamanan belum sebenuhnya diatasi.

Maklum saja unjuk rasa antipemerintah di Yaman bukan rahasia juga dimanfaatkan oleh kelompok militan yang punya kaitan dengan al-Qaeda. Mereka dilaporkan sudah menguasai beberapa kota di bagian selatan negara itu. Salah satunya, Radda, 170 km sebelah tenggara Sanaa.

Yaman yang didominasi kelompok Salafi yang dikelola jenderal Ali Muhsin diketahui intim dengan al-Qaeda. Salah satunya adalah ketika pada 2000 kapal perang Amerika Serikat USS Cole yang tengah sandar di Aden disodok bom yang menewaskan 17 pelaut mereka.

Tak heran masih banyak pihak yang khawatir kepergian Saleh hanya omong kosong. Pasalnya meski ke AS, Saleh masih tetap kepala negara selain itu masih ada 23 juta tentara terpecah, sebagian setia pada Saleh, sebagian menentang.

Faksi penentang umumnya adalah tentara terdidik seperti anggota angkatan udara. Mereka sempat melakukan aksi duduk di landasan, menuntut pengunduran diri komandan mereka yang merupakan saudara tiri Saleh

Pada sisi lain, kaburnya Saleh ke Amerika Serikat bisa menjadi batu ujian apakah penegakan HAM yang marak dikampanyekan Paman Sam ke seluruh dunia benar-benar dilaksanakan di Tanah Amerika.

Hukum di dalam negeri mungkin saja memberi mereka imunitas bagi “motif politik” kejahatan yang dilakukan saat melakukan tugas resmi. Namun hukum internasional seharusnya tidak. Kita tunggu saja akhir perjalanan Presiden Ali Abdullah Saleh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2012
M T W T F S S
« Nov   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d bloggers like this: