it’s about all word’s

Borok di balik bisnis air Jakarta

Posted on: January 31, 2012

Indonesian Corruption Watch (ICW) diketahui melaporkan kasus dugaan korupsi bisnis air Jakarta dalam kerjasama Perusahaan Daerah Air Minum Daerah Khusus Ibukota Jakarta, PT Aetra Air Jakarta dan PT PAM Lyonnaise Jaya.

Bocoran informasi yang diterima Bisnis menyebutkan ICW pada Kamis mendatang (26/1) akan menyerahkan dokumen-dokumen kerjasama antara PAM Jaya dan kedua mitra swasta kepada Komisi Pemberantasan Korupsi.

Dalam dokumen tersebut dijabarkan Perusahaan Daerah Air Minum Daerah Khusus Ibukota Jakarta (PAM JAYA) bila melajutkan kerja sama, maka pada akhir masa kerja sama PAM JAYA akan memiliki utang shortfall kepada swasta sebesar Rp 18,2 triliun yang terbagi atas Rp 10,9 triliun kepada Palyja dan Rp 7,3 triliun kepada Aetra.

Kerugian tersebut diakibatkan sejumlah praktek yang diduga dilakukan PT Aetra Air Jakarta dan PT PAM Lyonnaise Jaya secara sengaja dan terus menerus membuat keuangan PAM Jaya tergerogoti.

Salah satu praktek tersebut adalah Rebasing, proses penetapan basis baru perhitungan berbagai parameter yang akan dijadikan acuan kerjasama untuk periode lima tahunan.

Proses rebasing sudah terjadi dua kali yaitu Rebasing 2003 – 2007 dan Rebasing 2008 – 2012. Hasil rebasing dikukuhkan sebagai addendum terhadap Perjanjian Kerjasama tentang Penyediaan dan Peningkatan Pelayanan Air Bersih di Wilayah Barat dan Timur Jakarta (PKS).

Rebasing 2003 – 2007, ditandatangani oleh tiga pihak yaitu PAM JAYA dan dua mitra swastanya serta Gubernur DKI Jakarta pada masa itu yaitu Sutiyoso. Gubernur dalam hal ini berlaku sebagai saksi dan memberikan persetujuan. Sementara untuk Rebasing 2008 – 2012 hanya ditandatangani oleh dua belah pihak.

Dalam proses ini diduga cukup banyak pejabat PAM JAYA yang memperoleh keuntungan dengan cara membuat target-target yang lebih longgar dan menyetujui dimasukkannnya berbagai kebutuhan biaya ke dalam imbalan (water charge) yang akhirnya membuat nilai water charge menjadi tinggi.

Rebasing telah dilakukan dua kali dan sebanyak dua kali pula beberapa target berhasil dilonggarkan sehingga menguntungkan pihak swasta. Pengurangan target tersebut terjadi pada target volume air yang terjual dan tingkat kebocoran.

Dengan nilai imbalan yang berlaku di Jakarta, pada 2010, PAM JAYA mengalami kerugian Rp 637.8 miliar karena harus membayar imbalan yang nilainya di luar kewajaran

Selain itu, temuan masuknya biaya -biaya yang dikeluarkan untuk tenaga bule yang tidak terkait langsung dengan biaya operasional perusahaan a.l biaya sewa rumah, biaya rumah tangga, perjalanan udara pribadi hingga bayar sekolah anak yang nilainya mencapai Rp3,8 miliar.

Termasuk adanya dugaan penyelewengan asset yang dilakukan PT PAM Lyonnaise Jaya (PT Palyja) yang nilainya mencapai Rp 4,3 miliar, sementara PT PAM Lyonnaise Jaya mencapai Rp3,.2 juta.

Dugaan penyelewengan disebabkan penjualan aset baru ini tidak diberikan kepada PAM JAYA melainkan masuk ke dalam rekening kedua mitra swasta dan dicatat sebagai pendapatan PT Palyja dan Aetra.

Ada Bakrie & Astra

Indonesian Corruption Watch (ICW) boleh-boleh saja melaporkan melaporkan kasus dugaan korupsi bisnis air Jakarta ke KPK, namun tembok tebal sudah menghadang.

Tembok tebal tersebut adalah entitas bisnis raksasa di balik mitra swasta yang bekerjasama dengan Perusahaan Daerah Air Minum Daerah Khusus Ibukota Jakarta (PAM Jaya) yaitu PT Aetra Air Jakarta dan PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja).

Perjanjian dimulai pada 6 Juni 1997 saat PAM JAYA menandatangani perjanjian kerjasama dengan PT Garuda Dipta Semesta (GDS) dan PT Kekarpola Airindo/Thames Water (KATI).

Pada 17 Juli 1998 GDS berubah menjadi PT. PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) dan KATI berubah menjadi PT Thames PAM JAYA. Pada 2006, Thames kemudian berubah nama menjadi PT Aetra Air Jakarta setelah Thames Water menjual sahamnya ke Acuatico Pte Ltd., konsorsium yang terdiri atas Recapital Advisors (Recapital Group) dan Glendale Partners dari Indonesia.

Dua tahun berselang, PT Bakrieland Development Tbk mengakuisisi 75% saham PT Alberta Utilities yang memiliki 5% saham perusahaan air bersih, Aetra. Meski minoritas, Presiden komisaris PT Aetra Air Jakarta notabene adalah orang Bakrie, Edgardo Bautista yang sejak 2007 adalah Komisaris Bakrieland.

Sementara kepemilikan Astra di Palyja dimulai sejak 2010, saat PT Astra International Tbk membeli 19% saham milik Citigroup Financial Products Inc (Citigroup) di PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja).

Astra International, melalui anak usahanya PT Astratel Nusantara, menguasai 30% saham Palyja. Pemegang saham lainnya adalah Suez Environment sebesar 51% dan Citigroup 19%.

Masuknya Astra, terlihat dari digenggamnya jabatan Wakil Presiden Direktur Aetra oleh Herawati Prasetyo yang merupakan Direktur PT Astratel Nusantara sejak 2007 dan orang lama Astra sejak 1984.

Tembok tebal tersebut sudah terbukti saat Gubernur DKI, Fauzi Bowo yang angkat tangan, mengaku tak tahu menahu jika Dirut PAM Jaya, Mauritz Napitulu dicopot. Padahal tanda tangannya ada di surat Asisten Sekda DKI Bidang Perekonomian dan Administrasi, Hasan Basri Saleh.

Bukan rahasia lagi, Mauritz yang merupakan Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta pada masa kepemimpinan Sutiyoso, bersama almarhum Aurora Tambunan (Kepala Dinas Pariwisata dan Permuseuman DKI) adalah anak emas Gubernur dengan ciri khas kumis melintang itu.

Jadi, kita tunggu saja seberapa tajam taring KPK saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2012
M T W T F S S
« Nov   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d bloggers like this: