it’s about all word’s

Dua beruang di balik proyek gas Pakistan-Iran

Posted on: January 31, 2012

Pakistan belum bosan menjadi buah bibir dunia karena berani menentang Amerika Serikat sebagai negara donor mereka. Pada akhir 2011, Islamabad meminta AS dan NATO segera hengkang dari pangkalan militer mereka di Pakistan menyusul serangan yang menewaskan 24 tentara Pakistan.

Awal 2012, negara yang kini dipimpin Perdana Menteri Pakistan Yousuf Raza Gilani membuat keputusan tegas untuk memilih mengabaikan embargo ekonomi dan migas sekaligus menegaskan untuk meneruskan proyek gas dari Iran

Jubir Departemen Luar Negeri Pakistan, Abdul Basit seperti dikutip dari newspakistan.pk menyatakan tidak akan membatalkan proyek pipa gas bernilai multijuta dollar yang dijadwalkan rampung pada 2014.

“Pakistan berkomitmen penuh terhadap proyek ini dan sanksi [AS] tak akan bisa menutup kerjasama yang telah diteken. Tak ada perubahan pendirian dan kami tetep mengejar jadwal penyelesaian proyek pada 2014,” katanya, Sabtu 28 Januari 2012.

Pernyataan Pakistan jelas membuat Paman Sam berang. Setelah pangkalan untuk proyek perang Afghanistan diputus, kini Pakistan jelas-jelas membangkang perintah Washington yang dilihat mata dunia sebagai niat memutuskan hubungan.

Jalur Pipa Gas Iran-Pakistan-India (IPI) telah dirintis sejak 1993, ketika Pakistan dan Iran telah mengumumkan rencana untuk membangun pipa gas sejauh 2775 kilometer yang menghubungkan antara ladang gas di Pars selatan (sebuah provinsi di tenggara Iran) ke kota Multan dan Karachi di Pakistan.

Selanjutnya, Iran menawarkan kepada India untuk bergabung dalam proyek ini. Bila disepakati, pipa gas dari Multan akan diperpanjang hingga ke New Delhi. Sayang, pembicaraan kerjasama ketiga pihak berjalan berlarut-larut.

Baru pada 24 Mei 2009, Presiden Iran dan Pakistan bertemu di Teheran, menandatangani kontrak kesepakatan senilai US$7,5 miliar dan dijadwalkan selesai pada 2014 untuk mengalirkan gas Iran ke Pakistan sebanyak 8 juta kubik meter per tahun.

Selidik punya selidik, ada alasan besar di balik kepercayaan diri dengan sikap keras kepala Pakistan. Selain demi memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, ada hal lain yang tak kalah pentingnya.

Salah satunya adanya Beruang Panda alias China melalui konsorsium yang dipimpin oleh IBIC China dan Bank Habib Pakistan untuk mengatur pembiayaan proyek pipa gas Iran-Pakistan.

Koordinasi keduanya ditargetkan beres dalam waktu 12 bulan yang harus membuat proyek tersebut selesai secepat mungkin dan mulai mengimpor pasokan gas Iran pada Desember 2014.

Keputusan itu diambil dalam pertemuan komite pengarah dari komite koordinasi ekonomi Pakistan yang dipimpin oleh Menteri Perminyakan Hussain Asim dan forum antar-departemen yang dipimpin oleh Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani pada 22 Desember 2011 seperti dikutip dari Fars.

Dengan gelontoran dana tersebut, mengutip The Nation proyek besar ini mungkin akan selesai satu tahun lebih cepat dari jadwal, dan aliran gas akan mulai pada Juni atau Desember 2013.

Keterlibatan China dalam proyek ini sebenarnya sudah cukup lama dari keinginan Beijing sejak 2008 untuk terlibat dengan proyek senilai US$7,4 miliar tersebut. Maklum selain butuh suplai gas, China terlibat penggarapan ladang di Pars.

China memiliki kontrak eksplorasi di Pars senilai US$3,2 miliar. Selain China, bermain Total (Prancis) dan Shell (Belanda) yang dipastikan angkat kaki karena adanya embargo ekonomi Uni Eropa.

Beruang kedua yang tak kalah seram adalah Beruang Merah, Rusia yang menjadi faktor mengapa Pakistan gegas dengan rencana pipa Iran-Pakistan. Maklum bagi Rusia, proyek Iran-Pakistan akan menggagalkan proyek gas Turkmenistan-Afghanistan-Pakistan-India (TAPI) yang didukung oleh Amerika Serikat sejak 2008.

Maklum, bila TAPI terwujud Rusia akan kehilangan sumber gasnya, Turkmenistan. Selama ini Rusia membeli 70% gas Turkmenistan dengan harga sangat murah untuk kemudian dijual kembali ke Ukraina, Kaukasus, dan Eropa dengan harga mahal.

Selain itu, jalur Iran-Pakistan mengalihkan gas Iran ke Asia Timur, bukan ke Eropa, sehingga menjaga pasar gas Rusia di Eropa. Tak heran, raksasa migas pelat merah Rusia, Gazprom disebut-sebut terlibat dalam proyek gas Iran-Pakistan.

Bahkan disebut-sebut, faktor Rusia ini yang bikin Barack Obama kecut. Dunia masih mengingat bagaimana Kremlin memerintahkan serbuan ke Georgia saat Amerika Serikat dipimpin George W Bush tengah galak-galaknya di Irak dan Afghanistan.

Tanpa banyak omong pesawat pada 2008, Rusia, arteleri berat ditambah tentara bayaran menggasak Georgia yang ngeyel meneken proyek pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan yang mengganggu keuntungan ekonomi dari eksplorasi Rusia di Cekungan Kaspia.

Sampai kini, Ossetia Selatan masih diduduki Rusia tanpa pernah diutak-atik oleh Uni Eropa, Amerika Serikat dan PBB yang biasanya berani berkoar menegakkan ‘keadilan’ dan ‘kemanusiaan’ di mana-mana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2012
M T W T F S S
« Nov   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d bloggers like this: