it’s about all word’s

Hashim Djojohadikusumo on interview

Posted on: February 26, 2012

Dalam trah keluarganya, Hashim Djojohadikusumo bukan hanya pewaris kepiawaian sang ayah dan kakeknya dalam berbisnis, tetapi juga dalam semangat dan komitmennya terhadap Bangsa Indonesia.

Ayah Hasjim adalah begawan ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo yang juga arsitektur ekonomi Orde Baru, sedangkan kakeknya Margono Djojohadikusumo yang tak lain pendiri Bank BNI 1946 dan mantan ketua DPAS 1945.

Sentuhan langsung dari sang kakek dan kesetiaannya mengikuti sang ayah ke mana pergi telah membentuk sosok Hashim yang telah mengenal ekonomi kerakyatan sejak kecil.

Setelah banyak menghabiskan riwayat pendidikan formalnya di luar negeri, Hashim pulang ke Indonesia tatkala sang ayah tak lagi menduduki jabatan menteri, dan langsung menempati posisi direktur Indo Consult—perusahaan milik ayahnya.

Setelah merambah sektor perdagangan, sayap bisnis Hashim cepat melebar ke sektor perkebunan, manufaktur, dan industri perbankan. Namun, krisis moneter yang menghantam Indonesia pada 1997 turut merontokkan bisnis Hashim. Dia bahkan sempat masuk penjara Salemba.

Hashim mulai bangkit kembali dengan Nations Energy untuk mengendalikan sejumlah bisnis kompetitif di Kazahktan, Inggris, Kanada, hingga Yordania.

Setelah menjual Nations Energy seharga US$1,91 miliar, Hashim kembali ke Indonesia sekaligus menyelamatkan perusahaan milik Prabowo Kiani Kertas yang telah dililit utang di Bank Mandiri senilai Rp1,9 triliun.

Perusahaannya pun menggurita di perkebunan, konsesi hutan, pertambangan batu bara, gas dan minyak bumi, hingga bisnis berbasis gula aren. Aset di banyak perusahaan yang ditaksir tidak kurang dari US$850 juta, membuat Hashim ditahbiskan masuk 10 orang terkaya di Asia versi Globe Asia.

“Kita perlu banyak kapitalis di Indonesia, tetapi kapitalis baik,” katanya. Dalam wawancara dengan saya, Hashim tak hanya bercerita tentang kapitalisme yang dianutnya, tetapi juga ikhwal bisnis dan cintanya pada Indonesia, lilitan utang, penjara Salemba, IMF, hingga hingga bisnis aren. Berikut Petikannya:

Ketika Anda memulai bisnis, apakah link dari Pak Sumitro menjadi bagian memulai bisnis atau dari awal sekali Anda memulai?

Justru karena ayah saya pejabat waktu itu, saya tunda pulang untuk bisnis. Ayah saya kan masih mentetri waktu itu. Saya mulai bisnis kan pada 1976, waktu itu saya lulus dapat gelar S1. Saya putuskan tidak jadi pulang dan lebih banyak belajar di luar negeri saja, dan magang di salah satu bank, karena ayah saya menteri.

Banknya apa?

Lazard. [Lazard Freres Et Cie—bank swasta investasi di Prancis. Hasjim bekerja sebagai analis keuangan].

Kapan jadi pulang ke Indonesia?

Ayah saya berhenti di pemerintahan pada 1978. Saya pulang pertengahan 1978, memulai bisnis. Dan link dengan ayah saya tidak ada langsung.

Karena ayah saya, saya menjadi pengusaha pertama dari keluarga Djojohadikusumo, sebelumnya tidak ada. Di keluarga saya, hampir semua pegawai negeri, tentara, guru, atau profesor. Priyayi ya, keluarga kami kan priyayi.

Kalau dari keluarga ibu saya ada pengusaha. Karena dari Minahasa, Manado, tidak ada tradisi pegawai negeri.

Dulu yang prestisius kan menjadi pegawai negeri. Tetapi karena saya dididik di luar negeri, tidak ada [keinginan menjadi pegawai negeri]. Dan di Amerika, menjadi pengusaha itu mulia. Banyak orang yang the best and brightest masuk bisnis. Tidak ada masalah budaya.

Tetapi kalau di Indonesia kan tersentuh uang belum begitu [pengaruh], ya kurang terhormat dulu. Ini kan masih tahun 1970-an. Saat 1978 itu awal-awal industrialisasi pada orde baru. Repelita I, II, lebih banyak untuk pertanian. Tahun 1970-an baru mau swasembada. Kita baru swasembada pangan pada 1983-1984.

Bagaimana ketika itu Anda memulai bisnis di Indonesia?

So, saya mempunyai bisnis mulai trading, domestik dulu, lalu masuk perdagangan internasional. Terus berkembang untuk imbal beli tahun 1980-an, dan masuk ke perkebunan sawit. Waktu itu saya berbisnis dengan kelompok dari Malaysia yang mempunyai Shangrila Hotel, Robert Kuok. Nah pada 1988 saya masuk industri, Semen Cibinong.

Itu seiring dengan Pakto 1988? Perbankan?

Nggak, kebijakan yang lain. Pakto 88 tidak ada hubungannya dengan industri. Waktu itu ada hubungan dengan Indonesianisasi. Saat itu Semen Cibinong dimiliki oleh kelompok bisnis dari Amerika namanya Kaiser Semen. Nah itu diakuisisi tahun 1987 oleh kelompok bisnis dari Inggris, Hansot Trust. Dan konglomerat Inggris ini tidak berminat untuk bisnis di Asia, tahun 80-an. Sekarang kan, mereka menyesal.

Mereka lebih banyak konsentrasi di Amerika Utara, Eropa, Amerika Selatan. Mereka mau lepas, mereka mau divestasi semua aset mereka di Asia. Maka pabrik semen mereka di Thailand mereka jual. Pabrik semen mereka di Indonesia, namanya Semen Cibinong.

Waktu itu ditawarkan antara lain kepada saya. Saat itu Mitsubishi Mining dari Jepang mau beli juga. Saya bersaing dengan multinasional dari Jepang. Kita menang waktu itu, kita yang beli. Penawaran kita lebih bagus. Kita tawarkan harga sama dengan Mitsubishi Mining. Dan waktu itu di BKPM ada ketentuan, kalau mau masuk sebagai investor asing, pada masa tertentu, waktu itu 15 tahun, setelah 15 tahun harus dijual kepada pihak Indonesia.

Kita berhasil membeli dengan harga yang sama yang ditawarkan Mitsubishi Mining. Itu tahun 1988. Maka tahun 1988, saya sudah di industri, pertanian, perkebunan, dan perdagangan.

Setelah Semen Cibinong, bergerak ke mana lagi?

Masuk ke industri petrokimia, saya memiliki pabrik propilin dengan beberapa partner dan kami berkembang. Waktu krisis moneter 1997, saya sedang membangun pabrik petrokimia di Tuban. Sekarang kan, sudah jadi. Sayangnya, saya harus lepas pastisipasi di situ.

Selain itu, saya masuk perbankan. Bank Pelita, Bank Industri, Bank Niaga. Bank Niaga kan masih ada, sekarang milik Malaysia, CIMB.

Di Bank Niaga, sialnya, saya deal dengan keluarga Tahija 2 minggu sebelum krisis moneter. Ya, yang untung keluarga Tahija. Okelah saya senang juga. Itu bukan salah mereka, tetapi karena krisis moneter.

Nah, waktu membeli Bank Niaga itulah saya umumkan rencana merger di antara semua bank di grup, Bank Niaga, Bank Pelita, dan Bank Papan Sejahtera, kecuali Bank Industri karena bank ini mayoritas dimiliki BRI.

Kami umumkan tanggal 29 Juli 1997. Kalau tidak salah, itu rencana pertama merger. Tanpa dipaksa oleh BI lho. Kemudian bank-bank lain kan merger karena dipaksa, Bank Permata, Bank Mandiri, Bank Danamon. Kami sukarela untuk merger. Anyway, itu kan masa lalu ya.

Saat dipanggil oleh Bank Indonesia, Anda menghadapi langsung apa bagaimana?

Ya. saya hadapi langsung. Oktober, November 2007. Ketua pertama BPPN itu Pak Iwan Prawiranata, beliau Direktur Bank Indonesia. Waktu itu, Mas Drajat [Sudrajat Djiwandono] kan Gubernur BI. Bank Industri ditutup waktu beliau Gubernur BI. Ada 16 bank ditutup.

Nah itu, kami menyesal di situ. Tanggal 1 November 1997, ada 16 bank ditutup. Kenapa? Ditutup karena belum ada asuransi deposan. Orang tidak bisa menarik depositonya dari bank. Sebanyak 16 bank itu beku.

Panik?

Panik. Dan waktu itu ada isu bank pemerintah mau ditutup, bank ini mau ditutup, deposan melarikan uangnya ke Singapura dan Hong Kong. Waktu itu bank-bank di sini jadi kosong uangnya. Panik, akibat itu. Dan itu saya dengar karena dipaksakan oleh IMF. Sampai sekarang saya sakit hati dengan IMF.

Karena modelnya begitu? Dibekukan?

Iya, dibekukan. Belum ada asuransi, deposito dan sampai sekarang kan tidak ada kontrol devisa. Kalau ada kontrol devisa orang tidak bisa melarikan uangnya keluar. Kontrol devisa dilarang oleh IMF. IMF melarang ada kontrol devisa.

Maka kenapa Mahathir, PM Malaysia, ribut dengan IMF. Dia berlakukan kontrol devisa, IMF tidak setuju. Mahathir yang bener. Dan kemudian IMF secara terbuka mengatakan Mahathir yang benar. Tetapi sudah rusak ekonomi kita. Uang deposan dilarikan ke luar negeri semua, takut dibekukan sama bank.

Waktu itu kan ada bank pemerintah bermasalah. Bukan hanya bank swasta. Bank Bumi Daya sekarang jadi Bank Mandiri. Bapindo mana? Bank Dagang Negara mana? Ada empat bank pemerintah. Lari deposan. Itu [karena] IMF. Itu kenapa saya masih sakit hati dengan IMF.

Seharusnya mereka kontrol devisa. Kalau mau simpan uang di Indonesia, ya simpan di bank-bank Indonesia. Jangan di Singapura, Hong Kong.

Saat itu seorang Sudrajat Djiwandono gimana? Apakah sempat diskusi?

Sama saya? Tidak. Waktu itu saya mau ketemu tidak boleh. Saya tidak boleh ketemu. Dia tidak mau terima saya. Mungkin tidak enak ya. Tapi tidak apa-apa. Saya bisa mengerti. Dia cerita depresi berat. Pressure-nya berat dari IMF.

Hanya bisa seorang pemimpin negara?

Ya, tetapi Pak Harto tidak menolak IMF. Pak Harto ada penasihat-penasihatnya dan mungkin mereka setuju.

Itu kan masa-masa sulit Anda?

Sangat sulit, apalagi dikaitkan dengan politik. Soeharto lengser, Prabowo dipecat. Waduh, susah sekali waktu itu.

Keluarga sendiri bagaimana?

Saling mendukung. Kita kompak. Tetapi susah, ayah saya, ibu saya. Bukan masalah ekonomi, tetapi waktu itu masalah politik. Pergantian Presiden, Prabowo [Subijanto] kakak saya dipecat, saya diangkat sebagai duta besar. Tetapi ada yang bilang itu kan permen, supaya keluarga Sumitro tidak marah. Life is up and down kan?

—-Off the record—

Ketika itu, kan banyak yang bergantung pada Anda secara ekonomi. Apakah Anda turun langsung pada anak buah dan mengatakan bahwa semua berjalan dengan baik tidak seburuk yang dikira. Kan semua takut ketika krisis. Ketika itu gimana?

Oh, saya harus PHK berapa orang tuh. Berat, karena saya tidak suka mem-PHK orang. Misalnya, kita punya anak perusahaan yang membuat beton. Kan ada semen. Dan cukup besar. PT Trumiks Beton, kita juga punya armada truk. Makanya mempunyai supir, kenek. Angkat turun barang.

Waktu Juli 1997, kami masih menjual 140.000 m3 beton setiap bulan. Pada Desember 1997 hanya menjual 5.000. Dalam 5 bulan bisnis anjlok. Bukan cuma saya tetapi semua.

Kita tunda PHK orang, mudah-mudahan situasi membaik. Situasi tidak membaik beberapa tahun. So pada 2000, sekitar 2 tahun kemudian, saya terpaksa harus PHK. Dari 140.000 orang menjadi 5.000 orang dan itu lama.

Pada 2001, terpaksa Semen Cibinong kita jual. Berat. Komeksindo ratusan [orang terkena PHK], Trumiks 1.200 orang. Kalau Wahana Tanstama tidak ada PHK, karena tetap angkut semen. Walaupun sedikit armadanya tetap.

Itu akibat IMF paksa pemerintah kita menaikkan suku bunga. Can you imagine? Ini coba kita perhatikan ya.

Mereka, di Indonesia 1997, di negara sendiri 2008. Kan di Amerika krismon. Mungkin 100 kali, 1.000 kali lebih besar dari kita. Apa yang terjadi di Amerika? Suku bunga diturunkan. Kita dipaksa naik, sampai 70% per tahun. 1997, 1998. Gila itu IMF.

Ya, Pak Harto ikuti, ada tekanan dari Clinton, ada tekanan dari Barat luar biasa. Itu resep IMF. Di Amerika ada krismon yang lebih dahsyat, apa yang mereka lakukan? Yang benar, suku bunga diturunkan, likuiditas tetap, supaya orang [bisa hidup]. Masa [di sini] dicekekin, orang sudah mau mati. Ini betul saya kira, banyak kawan saya kira ada tujuan politis IMF.

Supaya Pak Harto turun?

Jatuh dan Indonesia bisa dikendalikan

Bagaimana urusan dengan BPPN?

Kegagalan karena ada krismon, dan bukan hanya saya di IBRA (Badan Penyehatan Perbankan Nasional). Ada 1.700 pengusaha yang bermasalah. Saya nomor 7.

Saya sebetulnya tidak merasa [gagal], ini konsekuensi. Wirausaha adalah orang yang ambil risiko. Kalau untung kita mendapat uang besar. Saya seorang kapitalis. Seorang kapitalis take risk untuk bisnis, resiko apa? Bisa pailit, karena ekonomi, politik. Saat krisis moneter itu kan campur karena ekonomi dan politik. Politik karena Pak Harto lengser dan juga ekonomi.

Saya kira semata-mata bisnis saya harus dilunasi. Waktu itu saya berurusan dengan tujuh ketua BPPN. Ini saya ingat. Pak Iwan, Wiranata sampai terakhir Sjarifudin. Luar biasa. Sebanyak tujuh ketua, dan ada ketua BPPN dilantik setiap 6 bulan. Karena ganti-ganti setiap kali diganti perjanjian berubah semua, kan frustasi kita.

Kita mau niat baik, tetapi frustasti. Sikap beberapa pejabat BBPN tidak kooperatif. Bukan kami tidak koperatif. Ada yang sombong. Inisial EB. Orang jawa bilang kere dadi ratu.

Pada 2002 saya pulang. Saya dipanggil kasus kecil, saya dianggap melanggar BMPK (batas maksimum pemberian kredit). Saya selalu datang dan penuhi panggilan dari Jenewa.

Ada kasus orang lain, Kredit Asia Finance Limited [milik] Agus Anwar. Saya datang dan langsung ditahan, masuk [penjara] Salemba lagi. Biasanya kan masuk tahanan kota atau apa.

Sempat 2 minggu. Saya jadi korban mafia peradilan. Ini masalah lama. Pengusaha-pengusaha menjadi target sasaran pemeresan. Kenapa? Karena kalau berbulan-bulan dalam sel, kan tidak bisa bisnis. Saat itu saya sedang dalam perundingan masalah ini kan?

Saya bisa selesaikan semua kewajiban kepada negara pada 2004. Waduh, saya kesel sekali dan saya sakit hati. Kita mau berbuat baik kok dipersulit, diperas.

Masalah arca, kita mau buat baik kok diperas. Itu kan sama. Saya dianggap sebagai penadah. Saya beli dari orang Belanda, orang Belanda yang beli dari Solo, masa saya yang jadi target. Orang Belanda tidak disentuh loh. Gak dipanggil, tidak diapain-apain.

Ketika bapak merasa kecewa dengan konsisi Indonesia yang tak mendukung pengusaha, sistem dibuat mempersulit, kenapa seorang Hasjim tetap ke Indonesia?

Karena saya tetap cinta bangsa saya. Saya cinta rakyat saya, bangsa saya. Yang saya cinta adalah negara saya.

Apakah itu hasil yang diajarkan seorang Sumitro?

Sebelumnya ada Mas Margono [Djojohadikusumo]. Itu kakek saya. Memang dari kecil, saya mengikuti bapak ke mana-mana. Bukan hanya sejarah, tetapi juga ekonomi kerakyatan. Saya sudah kenal ekonomi kerakyatan sejak kecil.

Ayah saya kolektor buku-buku, dan naskah kuno. Dia perlihatkan satu buku yang ditulis kakek saya tahun 1940 dan dicetak 1941 sebelum Jepang masuk dan Belanda masih berkuasa di Indonesia. Judul buku itu 10 Tahun Koperasi Indonesia, 1930-1940.

Jauh sebelum M. Hatta ya?

Itu bareng sama Bung Hatta. Bung Hatta itu sahabat, bolo. Dan, waktu itu sudah ada ekonomi kerakyatan. Sekarang orang bilang ini idenya Prabowo. Bukan, bukan ide dia. Ide pendahulu kita. Sebagai bagian partai yang dirikan Prabowo, saya, dan kawan-kawan, ingin menerapkan ide-ide itu. Kenapa saya kembali 2002, 2006, masuk ke Kertas Nusantara, karena kita merasa terpanggil.

Saya kapitalis, suka uang, kenapa membantah. Saya menjadi pengusaha untuk menjadi kaya kok. Untuk menjadi kaya itu mulia. Kita harus bangga juga itu. Saya memang sakit hati, [dipenjara] 2 minggu di Salemba.

Anda juga tidak mau membaca koran ya? Bacanya tabloid?

Ya, bacanya Cek n Ricek. Kan harus ada hiburan di penjara. Kalau tidak [ada hiburan] bisa gila. Sampai sekarang saya suka baca itu. Jadi, tahu siapa yang cerai dengan siapa. Menarik.

Masih sampai sekarang?

Ya, berkat itu. Terus terang lebih menarik itu dibandingkan dengan membaca Gayus Tambunan, Sjahrir Johan, apalagi yang Bank Century. Saya baca itu menjadi sedih dan stress.

Saya bisa menghayati kenapa media itu bisa laris, karena masyarakat kita sudah bosan dan muak membaca yang gini-ginian. Baca Century, Gayus Tambunan, berarti apa? Pajak saya sebagian diselewengkan dan dicuri Gayus Tambunan. Marah saya, sebagai orang yang taat membayar pajak.

Di koran, ada 520 anak kurang gizi di NTT. Dengan uang yang ada di rekening Gayus, berapa anak yang bisa diselamatkan? I’m so angry. Biar tidak terlalu marah jadi bacanya Cek n Ricek. Saya suka bola, suka Barcelona. Coach-nya sangat rendah hati.

Kalau boleh tahu, setahun Anda bayar pajak berapa dari usaha?

Rahasia negara. Yang jelas cukup lumayanlah.

Kalau bisnis minyak gimana? Sejak kapan?

Oh, kalau upstream hulu. Sejak 1997. Di Asia Tengah, Kazakhtan. Awal 2003 masuk Asarbaja. Sudah dijual 2006. Kita punya di Brunei, Papua, Madura. Tapi itu semua ekspor asing.

Kazakhtan kenapa dilepas?

Harga bagus.

Kapitalis sekali jawabannya?

Kita perlu banyak kapitalis di Indonesia, tetapi kapitalis baik. Jangan kapitalis pembalak liar. Kita butuh kapitalis yang bertanggung jawab.

Nah ini bisnis ekologi gimana?

Itu bukan bisnis. Bukan tujuan utama. Sudah berapa tahun saya pelajari aren, dengan pohon aren. Ternyata banyak potensi besar. Karena bisa menghasilkan bahan bakar nabati, namanya bioetanol. Juga bisa menghasilkan gula yang bagus untuk diabetes, itu yang bisnisnya.

Tetapi kan ada dampak positif untuk lingkungan hidup. Pohon aren akan kita tanamkan secara tumpang sari. Kita akan ajukan ke Kaltim. Sudah ketemu menteri, beliau tawarkan di Lampung. Kita akan pelajari dulu.

Pak Awang [Faroek Ishak] sudah tahu tentang aren. Tapi kita sedang susun rencana. Menteri kehutanan kami sudah bicara. Dan beliau sambut baik.

Puluhan hektar yang rusak perlu kita reboisasi berdasarkan penanaman pohon aren dan 150 jenis pohon lain. Konsep kami 150 jenis dan pohon aren banyak, termasuk pohon duren, salak, eboni, jati, dan meranti. Nanti kita silang. Itu bagus sekali. Akan dan sudah terjadi, itu lahan gundul, pada 2004 hanya ada alang-alang. Jarang hujan. Setelah 4-5 tahun pohon sudah tinggi, mulai hujan banyak. Ini karena ada korelasi. Dengan pohon ada lembab. Lahan yang tidak ada air, sekarang sudah kembali lagi. Semakin banyak reboisasi, semakin banyak air hujan, semakin banyak air untuk minum. Satwa liar juga kembali. Jadi mengatasi masalah lingkungan hidup, mata air langka. Hutan ditebang, air kering. Ini fakta.

Kaltim pasti dilaksanakan. Di Lampung belum, tetapi menteri yang menawarkan. Ada lahan konservasi untuk harimau. Dengan semakin banyak reboisasi, berikan habitat, untuk satwa liar. Misalnya orang utan. Dengan reboisasi mereka bisa punya tempat.

Semakin banyak sawit atau karet, semakin terpinggir. Mereka tidak bisa makan buah sawit. Buah-buahan harus ada. Sayangnya pejabat banyak tidak peduli dengan itu.

Kalau kita lihat ASEAN 2015. Ke depan pemerintah sebaiknya bagaimana?

Ok saya kira. Kita semua tahu, masalah peradilan, masalah aturan, masalah hukum yang tidak pasti. Kita tahu sekarang korupsi. Itu yang membuat high cost economy. Namun yang bisa kita harapkan, ini misalnya kita berhadapan dengan RRC, ACFTA, salah satu kendala pengusaha kita kan bunga yang relatif tinggi. Nah ini yang kita sesalkan.

Sah-sah saja ada proteksi?

Sah-sah saja. Nanti saat Indonesia sama kuatnya dengan mereka, kita lepas. Tetapi selama India ada proteksi, RRC ada. Itu maaf, Korea ada proteksi. Jepang ada proteksi. Ini jangan kita terlalu baik. Indonesia jangan terlalu baik tetapi merugikan diri sendiri. Itu nice. Anak manis Indonesia ini.

2 Responses to "Hashim Djojohadikusumo on interview"

[…] Hashim Djojohadikusumo on interview « it's about all word's […]

Good Sharing,,,, Pak Hashim…………………………….,,, .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2012
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  
%d bloggers like this: