it’s about all word’s

Bob Carr

Posted on: March 11, 2012

Sukses menekuk perlawanan mantan Perdana Menteri sekaligus mantan Menlu Australia Kevin Rudd, Perdana Menteri Australia Julia Gillard, Jumat (3/3) menunjuk mantan pemimpin New South Wales Bob Carr sebagai Menlu baru Australia.

Seperti dikutip dari ABC, Carr menggantikan Kevin Rudd yang mengundurkan diri dari jabatannya dua pekan lalu. Dalam dunia politik Australia, Carr bukan sosok yang bau kencur, bahkan boleh dibilang dia sudah sangat matang.

Mantan jurnalis radio ABC di era 1969-1971 itu telah menduduki berbagai macam jabatan publik, termasuk pemimpin di New South Wales, negara bagian Australia yang beribukotakan Sydney itu.

Selain menempati pos baru sebagai Menlu Australia, Carr juga dipilih menjadi senator rmenggantikan posisi politisi Partai Buruh Mark Arbib yang juga mengundurkan diri usai kekisruhan di partainya beberapa minggu lalu.

“Saya harus mempertahankan keutuhan tim di pemerintahan ini sehingga dapat memberikan layanan terbaik bagi rakyat Australia. Bob Carr akan menjadi anggota senat dan juga Menteri Luar Negeri,” jawab Gillard saat dicecar pertanyaan wartawan soal reshuffle kabinet yang dinilai banyak pihak agak dipaksakan itu.

Pria dengan nama lengkap Robert John “Bob” Carr jelas politisi yang kenal Indonesia karena mendampingi Perdana Menteri Paul Keating saat meneken perjanjian kerjasama dengan Indonesia pada 1995 yang dianggap sebagai masa keemasan hubungan RI-Australia.

Saya mencatat, Keating yang menjabat sebagai PM untuk periode 1991-1996, sampai dua kali berkunjung ke Indonesia pada Oktober 1993 dan Desember 1995. Bahkan kunjungan keduanya adalah untuk menandatangani Perjanjian kerjasama bidang keamanan di tengah kencangnya isu separatisme Timor Timur dan Papua.

Kebijakan Keating, bahkan membuat penggantinya dari Partai Liberal, John Winston Howard—yang kurang nyaman berhubungan dengan Indonesia–tidak memiliki pilihan lain untuk harus meneken perjanjian Australian-Indonesian Development Area (AIDA) pada Oktober 1996 dan Perjanjian Batas Maritim di Perth pada Maret 1997.

Sayangnya dengan rekam jejak partai Buruh di era Keating yang menjalin hubungan hangat dengan Indonesia, Carr yang lahir 28 September 1947 di Matraville pinggiran Sydney justru memiliki catatan kurang mulus dalam memandang Indonesia sebagai tetangga Asia yang terbesar dan terdekat.

Bagi warga Indonesia yang pernah tinggal di Australia ketika Bom Bali I meluluhlantakan Legian, Kuta pada 12 Oktober 2002, sosok Carr justru menjadi sosok yang menebarkan khawatir bagi pemilik paspor berlogo Garuda.

Kenapa? Karena Carr sebagai politisi justru memanfaatkan Bom Bali sebagai bagian dari pencitraan. Sikapnya tak konsisten. Setidaknya hal ini tercatat dalam biografinya Bob Carr: The Reluctant Leader yang ditulis sejarahwan sekaligus aktivis Partai Buruh Australia, Marilyn Dodkin.

Tercatat 14 hari setelah bom meledak dan kemarahan melingkupi warga Australia kepada teroris Muslim yang berujung penyerangan terhadap masjid dan pusat Islam di New South Wales, Carr menegaskan pentingnya toleransi bagi warga kulit putih Australia.

“Kita tidak harus dan tidak akan membiarkan itu harmoni yang sudah susah payah kita perjuangkan untuk menjadi korban lain dari situasi yang sudah mengakibatkan cukup korban,” ujarnya.

Namun, hanya tiga bulan setelah kejadian Bom Bali, Carr pada mementum Hari Australia justru membuat pidato mengejutkan Indonesia karena mematik bara curiga Australia atas tetangganya dengan menggunakan analogi peristiwa Perang Dunia II.

“Kita kehilangan 88 orang di Bali … bayangkan dampak pada Australia sebagai berita yang datang pada Februari 1942 bahwa tentara 20.000 tentara telah terbang untuk perang di Asia. Pemerintah tidak bisa memberitahu keluarga mereka atas nasib anak laki-laki mereka. Ini adalah ketakutan akan masa depan Australia, terhadap invasi atas Tanah ini,” ujarnya saat itu.

Carr jelas tidak bermain dengan pidatonya, sebagai mantan jurnalis, politisi bergelar sarjana sejarah dari Universitas New South Wales dia tahu betul sudah puluhan tahun masih lekat mispersepsi di kalangan publik Australia bahwa Indonesia merupakan ancaman secara militer bagi keamanan negara mereka.

Dengan sikap Julia Gillard yang memiliki kecenderungan kurang bersahabat dengan Indonesia seperti memaksa Indonesia untuk menyediakan lokasi penampungan pengungsi, munculnya Carr sebagai Menlu cukup mengkhawatirkan ketika perdagangan bebas ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Agreement (AANZFTA) benar-benar berjalan atas prinsip kesetaraan dan win-win.

*Kebetulan saya ada di Perth, WA saat Bom Bali I untuk program pendek di Curtin University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2012
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: