it’s about all word’s

Duel memanen bibit musisi tahun naga

Posted on: April 10, 2012

Tahun naga 2012 memang cukup panas bagi dunia pertunjukan. Artis asing berjejalan antri menghibur pecinta musik Tanah Air. Diam-diam, industri dalam negeri juga tak berdiam diri mencari bibit-bibit baru.

Tidak bisa dibantah ajang pencarian bakat di Indonesia merupakan kesempatan bakat-bakat terpendam muncul ke permukaan. Simak saja era 1970-an hingga 1980-an ketika musisi Indonesia betul-betul merajai panggung pertunjukan.

Pada genre pop, Radio Prambors pernah memiliki Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang menghasilkan legenda Chrisye dan James F Sundah sementara di ajang Festival Rock Indonesia yang dihelat Log Zhelebour atau Ong Oen Log menghasilkan El Palmas, Kaisar, Power Metal, Gank Pegangsaan, Boomerang, dan Jamrud.

Saya mencatat setidaknya sepanjang tahun ini ada tiga ajang pencarian bakat musisi masa depan Indonesia. Lagi-lagi masih didukung industri rokok. Djarum lewat jalur LA Indifest, Sampoerna melalui Wanted dan Gudang Garam seperti bangkit dari kubur melaju dengan Gudang Garam Intermusic Rockstars.

Saya sebut kebangkitan karena, kali terakhir Gudang Garam menggeluti festival musik rock adalah ketika mendukung Festival Musik Rock pada 2007. Kali ini untuk kebangkitannya pasca menarik diri dari Java Rockinland, Gudang Garam International menggandeng raksasa label musik Sony Music Entertainment Indonesia menggelar ajang pencarian pemusik rock di delapan kota Sumatra-Jawa.

Menurut Brand Manager Gudang Garam International Chandra Gunawan, rocker yang terpilih tidak hanya berkesempatan manggung bersama musisi cadas papan atas Indonesia, tapi juga berkesempatan membuat rekaman dan kontrak bersama Sony Music.

“Pada dasarnya kami ingin mewujudkan impian bibit rocker Indonesia. Jalur cepat untuk terkenal sekaligus kesempatan langka manggung dengan rocker sekaliber Abdee Slank dan Eno Netral,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Ajang pencarian bakat sekaligus konser dilakukan di Malang, Semarang, Purwokerto, Medan, Palembang, Tasikmalaya, Bandung dan Jakarta. Proses kegiatan dibagi menjadi tahap registrasi, tahap audisi studio, grand final wilayah dan pemilihan pemenang dilanjutkan rekaman album kompilasi.

Untuk masing-masing kota disediakan drop box atau tempat pengambilan formulir dan juga sebagai tempat untuk memasukkan formulir registrasi dan CD demo peserta. Formulir pendaftaran juga dapat diunduh melalui laman http://www.ggintermusic.com

“Sistem kami permudah karena misi kami untuk menumbuhkan bibit-bibit rockers, kami menyediakan fasilitas gratis studio bagi 50 peserta pendaftar pertama di tiap kota yang belum memiliki CD demo,” tutur Chandra.

Sementara Wanted, tempat lahirnya D’Masive dan Geisha ajang tahunan yang digelar A Mild, untuk tahun ini mencoba mengusung konsep berbeda. Tahun ini mereka menggelar ajang pencarian grup band berbakat ini akan melibatkan 30 kota yang berada di 10 wilayah di Indonesia.

Sembilan kota tersebut adalah Medan, Pekanbaru, Palembang, Bandung, Yogyakarta, Banjarmasin, Makassar, Surabaya, dan Tangerang. Dari ke sembilan kota tersebut akan ada satu yang akan mengikuti jejak grup band Geisha dan D’Masive.

Livia Yosetya selaku Brand Manager A Mild juga menambahkan, akan ada sharing session yang sudah dimulai dari Medan beberapa waktu lalu. Kini, giliran Jakarta yang kebagian untuk mendapatkan masukan dari musisi senior dalam Sharing Session.

“Melalui Wanted Sharing Session kami memberikan pembekalan mengenai industri kepada komunitas musik dan calon peserta Wanted 2012. Dengan begitu peserta maupun pemenang Wanted nanti akan menjadi musisi yang patut diperhitungkan,” katanya.

Juri yang akan terlibat dalam acara tersebut adalah Adib Hidayat, Yanto ‘Trinity’, Uki ‘Petepan’ termasuk beberapa juri tamu yang masih dirahasiakan. Musica Studio tetap menjadi rekanan album, namun terjadi perubahan music director a.l. Krisna J. Sadrach (Sucker Head), Bongky Marcel, dan Parlin ‘Pay’ Burman Siburian.

“Grup band terdiri dari laki-laki atau perempuan, para personel yang usianya 18-30 tahun, tidak tergabung dalam perusahaan label manapun dan juga memiliki satu lagu yang diciptakan sendiri,” ujar Livia menyebutkan persyaratan untuk menjadi peserta Wanted 2012 itu.

Seperti halnya Gudang Garam Intermusic Rockstars, Wanted menyediakan sejumlah dropbox agar peserta dapat menyertakan CD demo hingga awal Mei atau memasukkan karyanya sendiri melalui PO BOX Wanted JKT 10.000.

Sementara Djarum melaju dengan konsep berbeda, yaitu LA Light Indiefest: Meet The Label yang memberikan kesempatan buat kamu penyanyi solo, duo, maupun band bertemu dan perform langsung di depan A&R label-label besar seperti E-Motion, Seven, Universal, sampai Warner musik.

Jubir Djarum, Budi Darmawan menuturkan untuk tahun ini pihak Djarum akan menyeleksi peserta yang mengirimkan contoh materi untuk didapatkan 50 peserta terbaik yang berhak tampil di hadapan label. “Yang terpilih akan diberi kesempatan bikin single dan promosi.”

Menurut wartawan senior, pengamat musik dan pencari bakat, Denny Sakrie ajang pencarian bakat LA Lights Indiefest memiliki konsep sempurna dari sebuah ajang tempat bakat-bakat bermusik Tanah Air mengasah taring.

Dia melihat Indiefest adalah satu contoh ajang musik berkonsep yang mengakomodir kebebasan bermusik, sesuai dengan semangat Freedom of Expression yang menghasilkan potensi-potensi bermusik Indonesia.

“Ajang ini menjadi penyemangat pemusik-pemusik muda Tanah Air untuk tampil dengan gaya mereka masing-masing,” paparnya.

Denny mencatat sederet band mencuat yang lahir dari ajang ini membawa aliran musik yang beragam seperti The Banery, Gecko, Popradio, The Cadenzza, Self Respect hingga Bottlesmoker yang telah tenar di luar negeri.

Dia mencontohkan ajang musik yang menjunjung semangat kebebasan bermusik. Misalnya South by Southwest Festival atau SXSW yang pertama kali digelar pada 1987 di Austin Texas.

Ajang musik indie yang digelar selama lima hari itu sudah dicatat sebagai konser tahunan musik indie yang diikuti oleh berbagai band dari penjuru negara. Jumlah panggungnya tak main-main 80 panggung.

Sementara konser tertua yang menggelar semangat anti kemapanan tren bermusik adalah Monterey Pop Festival di Monterey, California pada 18 Juni 1968 yang menghasilkan musisi indie sekaligus menjadi acuan sebuah konser berkonsep yang berkelas, salah satunya Woodstock, Lollapalooza, Bonnaroo, Coachella, Detroit Electronic Music Festival, Jazzfest maupun Summerfest.

Dia berharap ajang LA Lights Indiefest bisa terus digelar karena ajang ini tak sekadar menampilkan sebuah pesta musik pangung dengan pengisi acara yang variatif lewat berbagai genre tetapi juga memberikan fasilitas musisi berbakat dengan label lewat program meet the labels.

“Ajang LA Lights Indiefest memberikan sebuah fase selanjutnya setelah fase berkreativitas menjadi sebuah karya utuh yang bisa bertahan di kuping masyarakat dan jamannya,” tuturnya.

Tentu saja maraknya festival musik dapat berimbas pada peningkatan kualitas dan keberagaman musik Tanah Air yang menunggu waktu kembali bangkit setelah terpuruk akibat kasus yang membelit bisnis rekaman dan content provider. Semoga saja.

Advertisements

1 Response to "Duel memanen bibit musisi tahun naga"

tanggal audisi di medan kapan ya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2012
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d bloggers like this: