it’s about all word’s

Totalitas Kamboja jadi tuan rumah KTT Asean

Posted on: April 10, 2012

Masih jelas terbayang ingatan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi menutup Konferensi Tingkat Tinggi ke-19 Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara atau KTT ke-19 ASEAN dan pertemuan terkait lainnya di Bali Nusa Dua Convention Center, 19 November 2011.

Presiden SBY, selaku Ketua ASEAN 2011, kemudian secara simbolis menyerahkan palu sidang kepada PM Kamboja Hun Sen yang akan menjadi Ketua ASEAN 2012. Tepuk tangan dan taburan kilau lampu kamera meriah mengiringi prosesi tersebut.

Saya menepuk punggung pewarta senior televisi dan radio Buyon, Chantha Lach. Sejumlah rekan peliput Asean, termasuk saya lalu bergantian menyalami mantan polisi di masa perang sipil itu dengan hangat untuk mengucapkan selamat.

“PM Hun Sen berjanji akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya, doakan tidak ada WC pengungsi di tenda wartawan,” ujarnya penuh arti, lalu kami tertawa bersama mengingat KTT Asean ke-18 di Jakarta Convention Center yang penuh helaan napas wartawan peliput.

Bisa disimpulkan tak hanya metropolitan Jakarta yang gagap dengan digelarnya KTT Asean. Ibukota Kamboja, Phnom Phen yang menjadi tuan rumah KTT Asean mulai 2-4 April dengan segala keterbatasannya pun demikian.

Jika Jakarta yang dijubeli 10 juta penduduk—belum termasuk pekerja yang masuk dari pinggiran Jakarta tiap jam kerja—kerepotan, pantas dimaklumi jika Phnom Phen yang hanya memiliki tak lebih dari 3 juta penduduk—total penduduk Kamboja hanya 14 jiwa—kembang kempis menghadapi ajang besar ini.

Meski susah, Kamboja mengulangi niat Hun Sen dan Lach mereka bertekad memberikan servis terbaik bagi perhelatan akbar yang dihadiri 20 pemimpin DARI bangsa-bangsa Asia Tenggara ini.

Sejak Januari lalu, Pemkot Phnom Phen bekerja keras memperindah kota yang didominasi arsitektur bergaya Prancis tersebut. Departemen Sosial, Veteran dan Rehabilitasi Pemuda membersihkan jalanan kota.

Mengutip The Phnom Penh Post, 477 pengemis dan 440 pekerja seks komersil diamankan dalam upaya untuk “membuat kota indah”. Menurut Kepala Kesehatan Masyarakat Pemkot Phnom Phen, Yo Sopheak mereka yang diangkut ditampung departemen rehabilitasi untuk menerima pelatihan dalam rangka untuk bekerja dan menghidupi diri sendiri.

“Distrik Daun Penh di Phnom Penh memiliki jumlah pengemis terbesar, [langkah ini dilakukan] dalam upaya untuk menjaga ketertiban umum dan membuat kota yang indah untuk Asean, kami telah menciduk mereka untuk pelatihan,” katanya.

Sopheak mengakui para penghuni jalanan itu dilatih berbagai keterampilan seperti menjadi penata rambut dan menjahit, namun kadang mereka hanya kembali ke situasi yang sama.

Satu alasan mengapa Pemkot bersikap tegas karena para pengemis mengganggu warga dan wisatawan dan membuat kota “berantakan”. “Lebih baik bahwa “mereka menemukan pekerjaan atau usaha untuk mendukung diri mereka sendiri.”

Moth Yong Sony, wakil gubernur kabupaten Daun Penh menegaskan pentingnya untuk memastikan Daun Penh, tempat-tempat seperti tepi sungai, hotel, pasar malam indah selama KTT Asean digelar.

“Kabupaten ini akan terus membersihkan diri [pengemis dan jalan berbasis seks kerja] dan mengirim mereka ke departemen urusan sosial,” katanya.

Bersih-bersih jalanan tak hanya giat dilakukan, sejumlah perbaikan, pengecatan giat dilakukan untuk menyegarkan Phnom Phen yang memiliki luas 678.46 kilometer per segi itu.

Demi keamanan KTT Asean ke-20, menurut kepala polisi Touch Narath seperti dikutip dari Xinhua dikerahkan 5000 polisi-tentara. Polisi-tentara berpatroli bersiaga tak kurang dari setiap 100 meter di jalan utama dekat tempat pertemuan.

Ajang KTT Asean sendiri digelar di Peace Palace, salah satu gedung perkantoran terbesar untuk rapat-rapat pemerintah di Kamboja. Manajer umum wakil media center Phos Sovann bertutur persiapan dilakukan sejak lima bulan lalu dan menerima banyak subsidi dari pemerintah Kamboja.

Namun, tak mau kalah dengan penyelenggaraan di Jakarta, perencanaan ala kadarnya, keterbatasan tenaga dan sumberdaya membuat mereka kelabakan. KTT Asean ke-20 di KAmboja diserbu peliput dari berbagai arah. Tak hanya jurnalis Asean, namun dari China, Jepang, Korea Selatan, Eropa hingga AS.

Pertemuan ke-20 Asean kali ini mengagendakan pembahasan beberapa dokumen a.l. Deklarasi ASEAN Phnom Penh: Satu Komunitas, Satu Nasib; Deklarasi Para Pemimpin ASEAN tentang ASEAN Bebas Narkotika 2015; dan Berkas Konsep tentang Gerakan Global Moderat.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang puyeng dengan rencana kenaikan tarif BBM dipastikan tidak hadir, dan menugaskan Wakil Presiden Boediono menghadiri pertemuan puncak negara-negara Asia Tenggara itu.

Hingga 30 Maret 2012 sudah ada lebih dari 800 wartawan dari 696 media yang menyerbu Phnom Phen! Phos mengaku pusing tujuh keliling karena sejauh ini hanya ada 32 komputer yang disediakan di media center.

“Kami tak menyangka begitu banyak media yang meliput ajang ini!” ujar Phos yang bekerja habis-habisan menghadapi denging nyamuk-nyamuk pers yang mengeluhkan kondisi pusat media.

Tak hanya Phos yang keringatan, bersamanya hanya ada 30 mahasiswa Kamboja sebagai relawan, terutama yang bertanggung jawab atas pengambilan foto dan terjemahan ikut-ikutan puyeng. Sayang, saya belum bisa menghubungi Chanta yang sedang meliput di perbatasan KAmboja_Thailand.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2012
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d bloggers like this: