it’s about all word’s

Krisis Bahrain: Proposal Arab Saudi bikin Iran meradang

Posted on: May 29, 2012

Timur Tengah belum lelah bergolak. Bahrain kini menjadi pusat perhatian setelah Arab Saudi ingin menggabungkan Riyadh-Manama sesuai dengan rencana menyatukan enam negara Arab anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (GCC).

Negara-negara GCC adalah Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab dan Oman yang oleh Raja Saudi Abdullah bin Abdul Aziz dikatakan sebagai upaya Arab menghadapi ancaman regional.

Tanda-tanda agresivitas Riyadh menjadi komandan Arab sebetulnya telah dibaca oleh peneliti ilmu politik Universitas Vermont, F. Gregory Gause III dalam artikel bertajuk Saudi Arabia in the New Middle East yang diterbitkan Council on Foreign Relations Press pada akhir tahun lalu.

Hal ini tak lepas dari tewasnya figur penting Liga Arab diktator Libya, Muammar Kaddafi dan tumbangnya diktator Mesir Hosni Mubarak, kekuatan minyak dan ikatan kuat Arab Saudi dengan Amerika Serikat.

Gause melihat tidak mengherankan jika Arab Saudi sebagai inisator negara-negara Teluk yang dibangun pada 1981, kini mengambil peran pemimpin geopolitik di wilayah Timur Tengah yang kosong.

Tentu saja pihak yang paling gembira dengan keputusan menyatukan enam negara Arab adalah Bahrain. Perdana Menteri Bahrain Pangeran Khalifa bin Salman al-Khalifa yang direpotkan oleh demonstrasi berlarut-larut langsung berseri-seri dengan rencana tersebut. Maklum Bahrain adalah langkah pertama penyatuan tersebut.

Bahrain yang diperintah Raja Hamad bin Isa Al Khalifa memang dipusingkan oleh ketidakpuasan mayoritas Syiah. Keluarga Khalifa, yang telah memerintah Bahrain sejak abad ke-18, adalah Muslim Sunni dan telah lama memiliki hubungan yang kurang mulus dengan mayoritas Syiah negara itu.

Demi melanggengkan kekuasaan, Raja Hamad bin Isa Al Khalifa merekrut orang asing untuk menjadi polisi daripada memberikan kepercayaan bagi warga Syiah untuk mengenakan seragam dan membawa senjata.

Total penduduk kerajaan kepulauan ini berjumlah 1,3 juta orang, separuhnya adalah orang Bahrain, sisanya adalah pekerja asing. Syiah membentuk 70% dari populasi. Visi PGCC menghadapi ancaman regional jelas membuat Iran sebagai raksasa Syiah meradang.

Bahrain memang persoalan pelik akibat segregasi Arab Saudi dan Iran. Kedua negara telah berdebat sejak Revolusi Iran 1979 yang menciptakan sebuah teokrasi muslim Syiah di Teheran versus monarki Sunni yang sangat konservatif di Riyadh.

Permusuhan itu terlihat dalam dukungan Arab Saudi untuk Irak selama perang dengan Iran dan diperuncing dengan pengiriman tentara ke Bahrain. Sementara, Iran mendukung Hizbullah di Libanon untuk mengganggu Israel.

Tak heran rencana integrasi Riyadh-Manama membuat Ketua Mahkamah Agung Iran Ayatullah Sadeq Amoli Larijani meradang. Dia menilai proposal Arab Saudi yang ingin menggabungkan Riyadh-Manama adalah “permainan berbahaya.”

Maklum bukan kali ini saja integrasi negara-negara Timur Tengah. Pada 22 Februari 1958, Mesir dan Suriah di bawah Presiden Suriah, Shukri al-Kuwatli, dan Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser melebur menjadi suatu aliansi negara Arab bersatu yang gagal.

Sementara Liga Arab yang dibentuk 22 Maret 1945 kini mulai kehilangan integritasnya karena sejak diktator Libya, Muammar Kaddafi tewas dan Liga dikendalikan Arab Saudi sebagai rezim Sunni justru bertindak agresif atas negara-negara Syiah.

Sebut saja saat Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman dan Qatar pada Februari 2011 mengirim tentara dan mesiu ke Manama yang kelimpungan oleh aksi demonstrasi di Pearl Square atau menunggangi tim pemantau untuk menggusur Presiden Suriah Bashar al-Assad yang merupakan rezim Syiah di negeri mayoritas Sunni.

Yang jadi pertanyaan besar kenapa Amerika Serikat yang gemar turut campur urusan negeri orang hanya diam. Ternyata seperti halnya Mesir yang penting bagi Israel bergerak di Timur Tengah, Bahrain adalah pion penting bagi Amerika Serikat karena menjadi rumah bagi Armada ke V Angkatan Laut AS.

Barack Obama bahkan harus menjilat janjinya mengerem langkah agresif Paman Sam terbukti pada 11 Mei lalu, Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa Washington akan melanjutkan penjualan senjata ke Manama.

Bagaimana Inggris? Mengutip surat kabar The Observer yang mengutip dokumen pemerintah, Garda Nasional Arab Saudi dan polisi Uni Emirat Arab sebelum masuk ke Bahrain dilatih oleh militer Inggris. Didukung AS dan Inggris, pantas saja kalau Arab Saudi percaya diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2012
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: