it’s about all word’s

M. Aji Surya: Diplomat yang gemar menulis

Posted on: May 29, 2012

Jujur harus saya akui saya belum pernah bertemu diplomat bernama lengkap Muhamad Aji Surya atau akrab disapa Aji. Berkali-kali janji bertemu ketika dia pulang kampung ke Indonesia harus gagal karena jadwal kami yang tak pernah mufakat.

Hubungan kami lebih banyak dilakukan melalui pesan BlackBerry atau melalui surat elektronik. Kami berhubungan karena Aji adalah penanggung jawab Divisi Penerangan, Sosial, Budaya dan Pendidikan KBRI.

Belakangan saya baru tahu Aji adalah asli produk Kota Gudeg, Yogyakarta. Dia warga Ibukota Republik Indonesia di masa revolusi kemerdekaan. Anak dari Sapari itu lahir di desa Gentan, Kaliurang kilometer 10 beberapa waktu setelah terjadinya pergolakan PKI di Tanah Air.

“Saya orang Jogja, anak petani gurem. Ibu saya tidak lulus sekolah dasar. Tanggal lahir saya 22 September, Virgo,” ujar pria yang memperistri Eva Surya dan dikaruniai satu anak Marisa Surya.

Meski demikian dia mengaku sudah tercerabut dari akar Yogyakarta. “Saya dipesantrenkan secara paksa. Biar jadi kyai. Ternyata jadinya wartawan terus diplomat! Mungkin orang tua saya nyesel”

Lulus dari Sekolah Dasar, dia melanjutkan ke Pondok Pesantren Pabelan, Muntilan. Setelah lima tahun nyantri di Karesidenan Kedu tersebut dia lalu pindah ke Pondok Modern Gontor, Jatim selama dua tahun hingga diwisuda oleh K.H. Imam Zarkasyi.

Satu tahun dilewatinya di SMP dan setahun di SMA. Medio 1980-an, dia mulai mengenyam pendidikan hukum di Universitas Islam Indonesia (UII) dan di Sastra UGM. Pendidikan jenjang berikutnya diselesaikan di Universitas Indonesia.

Terdampar jadi wartawan majalah Tempo untuk sesaat, Aji kemudian memilih berlabuh ke Pejambon atau markas Departemen Luar Negeri. Penempatan pertamanya di kota sunyi, Bonn, ibukota Jerman lalu ke Paris, Prancis.

Meski demikian, jiwa wartawannya untuk bercerita lewat kata tidak pernah berhenti dan sering dituangkannya dalam opini serta features di berbagai media Tanah Air. “Saya kan wartawan. Saya hanya nulis yang saya tahu. Mentrasfernya dalam jajaran kata-kata.”

Setelah bertugas melanglangbuana mengikuti berbagai pertemuan internasional atas nama negara, pimpinannya menugaskan dia ke kota ujung dunia, Moskow, Federasi Rusia. Negara eksotik dengan masyarakatnya yang berkembang dinamis.

Lagi-lagi penempatannya itu mendorongnya untuk kembali mengeksplorasi warna-warni Rusia dan tulisannya kembali menghiasi media massa yang kemudian dibukukan a.l. Vodka, Cinta dan Bunga (VCB), Moskow-Petersburg-Vladivostok (MPV), Seruling Diplomat (CD) dan Panduan Hemat Keliling Rusia..

Mendekati ujung penugasannya, M. Aji Surya meluncurkan buku kelimanya bertajuk Segenggam Cinta dari Moskwa yang dicetak Kompas. Buku yang dilahirkan kali ini adalah kumpulan tulisan yang dimuat dalam rubrik khusus Rakyat Merdeka Online (RMOL) berjudul From Moscow With Love.

Sebagai diplomat, Aji Surya memiliki rubrik khusus di RMOL bersama beberapa penulis lain seperti Dahlan Iskan (Manufacturing Hope), Adhie M. Massardie (Tebas) dan Rizal Ramli (Sang Penerobos).

Boleh dibilang buku setebal 248 halaman tersebut adalah pengakuan bagaimana penulis terus terbelalak dengan aneka perubahan unik yang terjadi di negeri mantan komunis itu. Bahkan dia kini sedang mempersiapkan buku keenamnya.

Lewat kolom tersebut, Aji Surya menorehkan berbagai kisah yang dilihat, didengar, diamati ataupun dialaminya. Mulai soal budaya, perubahan sosial, politik hingga soal kemanusiaan. Semua dicoba direkam dan diramu sehingga menjadi sebuah buku yang ringan dan enak dibaca oleh siapapun.

Menurut pengagum Dan Brown itu, Rusia yang merupakan negara ketiga tempat dia ditugaskan adalah sebuah negeri yang sangat gemerlap dengan berbagai warna yang susah ditemui di negeri lain.

Bahkan, meski telah ditulis dalam empat buku terdahulunya, ternyata negeri yang dahulu dijuluki Beruang Merah ini tidak pernah habis digali. Bahkan kalaupun diberi waktu tinggal lebih lama, maka warna warni Rusia tidak pernah habis dikuliti.

“Itu semua karena Rusia merupakan negara besar yang suka berzigzagria dari waktu ke waktu. Jatuh bangun tanpa mengenal lelah menuju kematangan yang bentuk dan warnanya belum terperikan,” ujarnya.

Diantara cerita yang cukup menonjol dalam buku tersebut adalah kisah tentang manusia Indonesia di Rusia yang tercampakkan oleh zaman. Mereka hidup dalam keadaan sulit dan dilematis. Pulang ke Indonesia tak memiliki penghasilan, menetap di Rusia dalam keadaan sulit, sedangkan usianya sudah di atas 70 tahun.

Mereka adalah para eks mahasiswa ikatan dinas yang dikirim Pemerintah Soekarno di akhir tahun 1950-an sampai dengan 1960-an namun dijegal pulang karena keadaan politik saat itu.

Rusia juga diwarnai dengan sejuta keunikan, seperti soal satpam yang tidak mengenal kompromi, vodka yang bisa menjadi teman sekaligus pembunuh, fenomena makmum di depan imam, pencarian kiblat filsafat.

Termasuk makin merajanya kapitalisme dan masih banyak lagi lainnya. Uniknya, di akhir setiap tulisan, pembaca akan mendapatkan sebuah pelajaran berharga, bukan sekedar cerita tanpa makna.

Menurut Ketua Mahkamah Konstitusi, Moh Mahfud MD yang memberikan prolog dalam buku ini, pesan utama yang dapat diistimbaht (digali) dari buku tersebut adalah ajakan penulis agar kita semua bisa belajar dan melihat Rusia dengan cara baru, yakni cara pandang yang berbeda dengan sebelumnya (1990-an).

Menariknya, ajakan penulis tersebut disajikan dalam bentuk paparan fakta dan cerita-cerita nyata dengan gaya bahasa penulisan yang mengalir, lincah dan enak dibaca sehingga tidak membosankan.

“Selain itu, pembaca juga akan bisa memahami tugas-tugas seorang diplomat seperti yang diperankan oleh penulis,” tutur dosen M Aji Surya di UII.

Sementara itu, Dubes RI untuk Rusia dan Belarusia, Djauhari Oratmangun menyambut positif terbitnya buku anak buahnya ini. Menurutnya, membaca buku ini seperti menonton siaran langsung pertandingan bola di teve menyaksikan Messi “Si Kutu” yang lincah menggiring bola, mengobrak-abrik pertahanan lawan, membobol gawang dan menciptakan gol.

“Keunikan buku ini adalah kecerdikan penulis dalam mengamati, merekam, mencatat serta memilih kata yang diramu begitu rupa sehingga enak dibaca, mudah dicerna, mengobrak-abrik pertahanan pembaca mengenai stigmatisasi Rusia yang kemudian berakhir dengan “gol” berupa pemahaman tentang Rusia,” kata jebolan FE UGM tersebut.

M. Aji Surya yang bertugas di Moskow sejak 2008 akan mengakhiri tugasnya akhir September ini. Sang diplomat penulis tersebut masih merahasiakan buku keenam dan skrip film bersama Wulan Guritno yang sedang dikerjakannya di malam-malam yang dingin Rusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2012
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: