it’s about all word’s

Perjalanan protestanisme ke Jawa

Posted on: August 7, 2012

Judul: Pangumbaran Ing Bang Wetan: The Dutch Reformed Church In Late Eighteenth Century Java—An Eastern Adventure
Penulis: Yusak Soleiman
Penerbit: BPK Gunung Mulia
Terbitan: April 2012
Tebal: 264 halaman

Pangumbaran Ing Bang Wetan: The Dutch Reformed Church In Late Eighteenth Century Java—An Eastern Adventure merupakan buku hasil penelitian Yusak Soleiman tehadap catatan sejarah gereja pada masa kolonial, rentang abad ke-18 dan 19 yang dilakukan di Belanda dan sejumlah tempat di Indonesia.

Reformasi Protestan lahir sebagai sebuah upaya untuk mereformasi Gereja Katolik, diprakarsai oleh umat Katolik Eropa Barat yang menentang hal-hal yang menurut anggapan mereka adalah doktrin-doktrin palsu dan malapraktik gerejawi.

Menariknya, seperti halnya, Katolik Roma yang disebarkan oleh kolonialisme Spanyol dan Portugis, Kristen Protestan disebarkan oleh misi dagang Belanda tak heran gereja-gereja Indonesia, terutama di wilayah Timur dan Jawa secara sosial politik banyak dipengaruhi oleh Belanda.

Buku yang ditulis dalam Bahasa Inggris tersebut terbagi ke dalam 9 bab pembahasan, diantaranya mengupas tentang hubungan gereja dan negara di abad 18 serta perjalanan gereja pada masa Dutch East India Company (VOC). Melalui telaan dokumen yang tekun, penulis merekonstruksi perkembangan Kristen di Indonesia.

Pada bab pertama disertasinya, Yusak menggambarkan Protestan di Belanda yang lahir karena keinginan untuk memperbaiki Katolik. Reformasi ini dibawa oleh John Calvin. Dia juga menjelaskan tentang seluk-beluk bergereja. Bab 1 berisi tentang Protestan yang dibawa oleh VOC ke Nederland Indie (Nusantara).

Barulah pada Bab 3 ia menelusuri topik yang dibahasnya, yaitu Semarang dan daerah sekitarnya yang manjadi pusat perkembangan Protestan di Timur (dilihat dari Batavia sebagai pusat VOC) yang awalnya dilakukan oleh VOC.

Misi Protestan tergambar dengan berbagai kegiatan mengurusi orang-orang miskin, anak yatim piatu, dan mengembangkan kasih. Hal ini tertuang dalam bab tujuh hingga Bab terakhir dari buku setebal 264 halaman ini.

Pada bab awal, penulis menulis perkembangan Protestanisme sendiri tak lepas dari kondisi politik di Belanda, ketika pada abad ke-17, agama Katolik yang semula menjadi agama resmi negara diganti dengan agama Kristen Protestan. Pemerintah Belanda melarang pelaksanaan ibadah agama Katholik di muka umum dan menerapkan anti Katolik, termasuk di tanah-tanah jajahannya.

VOC yang terbentuk pada 1602 mendapat kekuasaan dan tanggung jawab memajukan agama, membiayai pendirian sekolah-sekolah dan membiayai upaya menerjemahkan injil ke dalam bahasa setempat. Dua aliran Kristen pertama adalah Lutheran dan Calvinis.

Dengan catatan sejarah yang lengkap, penulis mencatat komunitas orang-orang Kristen terutama terdapat di ketiga kota besar di pantai Utara : Surabaya, Semarang dan Batavia. Tetapi ada juga yang hidup di pedusunan, misalnya sebagai pengusaha di bidang perkebunan dan tuan tanah.

Meski demikian hingga sekitar 1815, penganut-penganut agama Kristen masih didominasi dari golongan orang yang bukan-Jawa : orang-orang Belanda serta keturunan mereka, dan sejumlah orang yang berasal dari Indonesia Timur yang telah bersentuhan dengan agama Kristen sejak 1500-an.

Dalam buku ini terlihat penulis fokus melihat Semarang sebagai pusat pembahasan persebaran Kristen di Jawa yang memang berbeda karakternya dengan wilayah Indonesia Timur. Semarang menjadi ladang Kekristenan akibat kondisinya yang aman pada era 1750-1790.

Pasca Perjanjian Giyanti, Kristen dapat berkembang karena adanya gereja dan dibantu oleh negara. Hal ini diperlunak lagi dengan pergantian Raja di Yogyakarta dan pemberontakan Trunojoyo pada 1670.

Hal menarik berhasil ditemukan penulis adalah tentang para misionaris waktu itu tidak dipersiapkan untuk berbahasa Jawa. Sebaliknya, “misionaris” di Semarang waktu itu hanya paham bahasa Melayu.

Dari data-data yang tersirat dalam pustaka ini persebaran Kristen di Jawa termasuk lambat, sayang penulis kurang mengkritisi faktor politik ekspansif VOC dalam melakukan penaklukan yang membuat penganut Kristen berjarak dengan masyarakat lokal yang telah beragama Islam ataupun animisme.

Tak heran, sampai tahun 1700-an, orang Jawa atau Sunda yang beragama Kristen boleh dikatakan sangat kecil, hanya berjumlah puluhan terdiri dari perempuan-perempuan mantan budak ataupun anak-anak pribumi yang diadopsi keluarga Belanda.

Umumnya jemaat-jemaat Kristen di kota-kota besar, dan orang-orang Kristen yang tersebar di pedalaman menyendiri di balik benteng VOC dan tidak merasa terpanggil untuk menyebarkan Injil kepada massa orang pribumi di sekitar mereka.

Praktis bab-bab awal lebih banyak berbicara tentang perkembangan Kristen di Jawa, alur buku terasa kering karena lebih banyak berbicara dengan angka sekaligus minim narasi. Paragraf demi paragraf terasa hambar.

Meski demikian bab paling menarik adalah bab tujuh hingga terakhir yang banyak berbicara tentang misi-misi sosial Kristen yang secara aktif menyasar kaum anak-anak terlantar maupun kaum papa di sekitar lingkungan gereja.
Kegiatan sosial yang secara nyata dilakukan di awal abad 20 ini menurut penulis merupakan media persebaran Kristen yang lebih efektif dan efisien dibandingkan pada masa-masa persebaran Kristen sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2012
M T W T F S S
« Jun   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: