it’s about all word’s

Rusia (2): hubungan pendidikan RI-Rusia

Posted on: August 7, 2012

Usia Sudaryanto sudah kepala tujuh. Wajahnya dipenuhi kerut. Namun tubuhnya tetap tegar. Semangatnya masih menyala ketika berbicara tentang tumpah darah kelahirannya, Indonesia.

Tak nampak dendam, justru kecintaan yang dia tunjukkan meskipun mengalami nasib tragis tak bisa pulang ke Tanah Air seperti halnya banyak dialami para eks mahasiswa ikatan dinas (mahid) di era Presiden Sukarno.

Sudaryanto dan banyak eks mahid dipaksa tak bisa pulang pasca peristiwa 1965 karena paspor RI-nya dicabut penguasa. Sikap politik terhadap rezim Suharto menyebabkan status kewarganegaraan mereka dicabut. Kata pulang harus diganti berkunjung. Bukan warga negara tapi turis.

Profesor Sudaryanto sudah lebih dari 40 tahun dia tercatat sebagai warga negara Rusia sejak ontran-ontran misterius di penghujung September 1965. Meski terbuang dengan ketidaktahuan, Sudaryanto tetap mencintai Indonesia.

Beberapa kali ada kabut di mata Sudaryanto saat dia mengisahkan hidupnya di sudut sofa Wisma Dubes RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarusia yang hanya sepelemparan batu dari Kedutaan Besar RI.

Pada 15 Juni 2012 saya bersama rekan media lain dalam studi banding Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) dan Gerakan Ekayastra Unmada beruntung bisa bersua sang profesor.

Dengan setelan jas rapi, profesor di bidang ekonomi itu bertutur akan kisahnya. Sudaryanto muda datang ke Rusia dengan status mahid. Kali pertama menginjakan kaki di Rusia, saat musim dingin pada akhir 1964.

Penuh semangat Sudaryanto merambah negeri Beruang Merah. Maklum, ketika itu, dia baru saja lulus dari jurusan ekonomi, Universitas Diponegoro Semarang. “Yang ada adalah belajar demi nusa dan bangsa.”

Sayang, pergolakan politik akibat gagalnya G 30 S, membuat semuanya berubah. Sebenarnya, dia sempat dipanggil untuk pulang ke Indonesia. Namun, dengan pertimbangan sekolahnya yang baru setengah jalan, dia tidak menggubrisnya. “Saya ingin pulang dengan membawa ijazah.”

Petaka pun terjadi pada 1966. Sebuah surat resmi datang. Sudaryanto harus meneken surat yang menyatakan Soekarno berada di balik G30S/PKI. Dia menolak dan hasilnya paspornya dicabut.

Dengan itu, maka diapun menjadi seorang tanpa warga negara (stateless). Dengan keputusan itu, dia merasa tak pernah bisa tenang. Otomatis, seluruh hubungan dengan keluarganya ikut terputus. Baik itu melalui surat, atau sambungan telepon.

Beruntung, rektor dan teman-temannya di Universitas Koperasi Rusia mempunyai kepedulian tinggi. Dia pun dibantu mengurus segala administrasi. Hingga akhirnya, dia memperoleh status baru, menjadi warga negara Uni Soviet.

Praktis pasca G30S/PKI hubungan pendidikan antara negeri Beruang Merah dan Garuda putus total. Mereka, eks mahid ataupun para peneliti Indonesia (indonesianis) hanya bisa menatap Nusantara dari kejauhan.

Natal 1991, Uni Soviet bubar menandai kebangkrutan komunis. Indonesia menjadi satu negara pertama yang mengakui Federasi Rusia sebagai negara merdeka dan berdaulat pengganti sah Uni Soviet.

Tak disangka, berselang tujuh tahun kemudian, di tahun Macan, tepat pada hari Kebangkitan Isa Almasih, 21 Mei 1998, Presiden Soeharto tumbang dari puncak kekuasaan.

Sementara itu, jauh dari Jakarta, dubes RI sejak 1993, Rahmat Witoelar yang menggantikan Djanwar Marah Djani melihat peluang memperbaiki hubungan pendidikan kedua negara. Bayangkan pada 1996, hanya ada dua mahasiswa Indonesia yang belajar di Rusia.

***

Medio 1997, Enjay Diana, putra petani, pekerja serabutan sekaligus pembimbing Pramuka di sejumlah SD dan SMP Pacet-Cipanas Jawa Barat mendengar kabar adanya beasiswa di Rusia. “September 1997 saya pergi ke Moskow, mencari kehidupan yang baru. Kali aja bisa memperbaiki nasib dengan kuliah.”

Enjay sudah bertekad bulat. Maklum sudah tiga tahun hidupnya wara-wiri tak kunjung arah sejak lulus dari SMA Negeri Cipanas pada 1994. Bersama Enjay ada 10 mahasiswa Indonesia yang berguru ke Rusia.

“Kami berangkat ke Moskow masih menggunakan Aeroflot dari Jakarta, dan setelah itu, Aeroflot tidak terbang lagi ke Jakarta. Saya tiba 2 September, sehari sebelum Moskow berulang tahun ke 850 tahun. Masih hangat. Baru memasuki musim gugur,” tutur pria yang kini menjadi seorang diplomat di KBRI Moskow.

Enjay meski lulusan A1-Fisika mengambil kuliah di Fakultas Philology atau bahasa dan sastra Rusia. Alasannya? Cukup berat belajar ilmu-ilmu murni di Rusia. Butuh setahun bagi Enjay untuk agar bisa memulai kuliah, ada satu tahun kelas pelajaran bahasa Rusia.

“Kelas bahasa ini mirip taman kanak-kanan. Pelan-pelan kami diajari menulis dan membaca Rusia. Masa yang berat namun menyenangkan. Tapi setelah lulus kelas bahasa, alamak tetap saja merasa bodoh ketika berkomunikasi langsung dengan siswa lain,” tuturnya.

Maklum saja, bahasa Rusia termasuk bahasa yang paling sulit setelah Ibrani. Tidak saja karena alfabetnya yang berbeda, tata bahasa dan gramatikanya pun berbeda. Dalam bahasa Rusia terdapat enam nominatif, genetif, datif, kausatif, instrumental, preposisi. Juga terdapat tiga jenis kelamin yaitu netral, feminim dan plural dan masih banyak gramatika yang tidak ada di bahasa Indonesia.

Beruntung Enjay sebagai mahasiswa beasiswa mendapatkan fasilitas asrama. Mau tak mau dia bergaul dan menenggelamkan diri dengan komunitas orang-orang berbahasa Rusia di Universitas Persaudaraan Rusia.

Kampus Universitas Persaudaraan Rusia atau People’s Friendship University of Russia (RUDN) atau dulu dikenal sebagai Universitas Patris Lumumba ternyata memiliki kedekatan sejarah dengan Universitas Gajah Mada.

Kenapa? Karena RUDN yang berdiri 5 Februari 1961, secara resmi diumumkan ke publik oleh Presiden Nikita Khruschev di UGM disaksikan Presiden Soekarno pada 21 Februari 1961. Tujuannya menjadi kampus tempat belajar mahasiswa negara-negara sahabat Uni Soviet.

Pasca pengumuman tersebut, sekitar 2.000 mahasiswa Indonesia, termasuk Sudaryanto berangkat ke Rusia dengan status mahasiswa ikatan dinas (mahid). Tujuannya berguru dan membangun Indonesia. Sayang sejarah berkata lain.

Boleh dikata, generasi Enjay merupakan gelombang kedua mahasiswa Indonesia di Rusia. Yang menurut Presiden Abdurrahman Wachid adalah hubungan yang jujur untuk jangka panjang.

Gus Dur memang akrab dengan Rusia. Dia pembaca karya sastrawan Rusia seperti Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Sikap Gus Dur, diteruskan Megawati Soekarnoputri yang langsung menemui Presiden Vladimir Putin, 21 April 2003.

Sayang hubungan pendidikan Indonesia dan Rusia masih seret. Menurut Penanggung jawab fungsi Sosial dan Budaya KBRI Moskow, Aji M Surya sampai saat ini baru ada 128 mahasiswa Indonesia di Rusia.

“Jumlah mahasiswa dalam batas tertentu akan merefleksikan masa depan hubungan bilateral. Bayangkan, mahasiswa Malaysia di Rusia saja 3000, masa kita hanya 128,” ujarnya.

Menurut pria asli Yogyakarta itu satu hal yang membuat Rusia belum menjadi tujuan belajar mahasiswa Indonesia adalah nilai beasiswa yang terlalu kecil, kuantitasnya pun hanya 50 beasiswa tiap tahun.

Jangan bandingkan beasiswa di Rusia seperti di Amerika atau di Australia. Saya yang sempat menikmati belajar di Australia Barat sampai terkaget-kaget dengan kondisi kawan-kawan di Rusia.

Menurut Nanda Putri Uzhara yang belajar di RUDN, beasiswa yang diterima mahasiswa Indonesia hanya mencapai 1100 Rubel atau setara Rp330.000. “Hanya cukup buat beli pulsa (400 Rubel), tiket bus dan metro (600 Rubel).”

Lebih payah lagi, lanjutnya, di sini kami tidak dapat bekerja karena visa yang hanya untuk belajar bukan bekerja. Untungnya, KBRI Moskow sangat membantu mahasiswa-mahasiswi Indonesia dengan pekerjaan sebagai penerjemah atau menjadi tour guide bagi rombongan dari Indonesia.

Maklum, meskipun berstatus mahasiswa beasiswa mereka masih diwajibkan membayar asrama senilai 700 Rubel atau setara Rp210.000, juga 8000 Rubel atau Rp2,4 juta untuk biaya asuransi.

Beruntung, menurut Aji, Wakil Menteri Pendidikan bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryati sudah memberikan komitmen untuk membantu peningkatan hubungan pendidikan RI-Rusia. Salah satunya membantu pembiayaan.

Meski demikian, sang wamen menurut Aji, meminta agar mahasiswa Indonesia tidak hanya belajar soal ilmu murni tapi juga ilmu seni di Rusia. “KBRI segera mengajukan proposal beasiswa tersebut. Kita perlu melakukan diversifikasi sumber ilmu pengetahuan agar terhindar dari kebangkrutan peradaban.”

*Meranti Barat, 4 Juli 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2012
M T W T F S S
« Jun   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: