it’s about all word’s

Rusia (5): Suka duka pelajar Ri

Posted on: August 7, 2012

Menjadi mahasiswa di Rusia diakui sungguh berat. Tak hanya soal iklim yang sangat ekstrim. Bahasa dan aksara yang berbeda, dan tentunya beasiswa yang minim membuat sejumlah pelajar Indonesia di Rusia harus jungkir balik demi cita-cita membawa pulang ijazah ke Tanah Air.

Simak saja pengalaman Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Moskow, Rio Abadi Putra. Mahasiswa kelas magister Ilmu Hukum Internasional di Universitas Persaudaraan Rusia atau People’s Friendship University of Russia (RUDN). Demi gelar, Rio rela melakukan apa saja termasuk menjadi tukang pijit!

Eits jangan cepat berpikir negatif! Klien lajang asal Bangka ini adalah rekan-rekan sesama mahasiswa di kampus dan di asrama. Tak jarang, para diplomat di KBRI Moskow. Sekali pijit, Rio menerima honor sebesar 300 Rubel atau setara Rp90.000 dari rekan mahasiswa dan penghuni asrama. Sementara, upah yang diterima dari diplomat bisa mencapai 700 Rubel.

“Dari situ saya bisa mencukupi kebutuhan hidup saya di Rusia,” kata anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Surya Bakti dan Chotijah tersebut.

Setiap bulan, dari hasil memijit, jebolan Fakultas Hukum Universitas Pancasila Jakarta itu bisa mendapatkan penghasilan rata-rata 4.300 Rubel hingga 4.500 Rubel. Sementara dari beasiswa, Rio juga mendapatkan uang bulanan sebesar US$35, setara dengan 1.200 Rubel.

Kerja keras memang sudah mendarah daging bagi Rio. Mengandalkan orang tua? Jelas tak mungkin. Sehari-hari ayah Rio adalah sopir taxi di Bandara Depati Amir Bangka. Sementara sang ibu Chotijah, adalah ibu rumah tangga yang membantu perekonomian keluarga dengan cara berjualan makanan.

Sejak masih di Bangka, Rio dan saudara-saudaranya selalu membantu sang ibu berjualan gorengan. Dari hasil berjualan gorengan itulah, Rio dan saudaranya belajar menabung. “Sementara penghasilan ayah hanya cukup untuk makan dan biaya pendidikan anak-anaknya.”

***

Kerja sampingan memang menjadi kewajiban tidak tertulis bagi mahasiswa Indonesia di Rusia. Kenapa? Beasiswa pemerintah Rusia kecil. Menurut Nanda Putri Uzhara yang belajar sastra Rusia di RUDN, beasiswa yang diterima mahasiswa Indonesia hanya mencapai 1100 Rubel atau setara Rp330.000.

“Hanya cukup buat beli pulsa (400 Rubel), tiket bus dan metro (600 Rubel),” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 30 April 1986 tersebut.

Lebih payah lagi, lanjutnya, di sini kami tidak dapat bekerja karena visa yang hanya untuk belajar bukan bekerja. Untungnya, KBRI Moskow sangat membantu mahasiswa-mahasiswi Indonesia dengan pekerjaan sebagai penerjemah atau menjadi tour guide bagi rombongan dari Indonesia.

Maklum, meskipun berstatus mahasiswa beasiswa mereka masih diwajibkan membayar asrama senilai 700 Rubel atau setara Rp210.000, juga 8000 Rubel atau Rp2,4 juta untuk biaya asuransi. Untuk itu perlu sedikit jungkir balik.

Menurut anak keempat dari lima bersaudara pasangan Aswan Uzhara dan Djubaedah Uzhara tersebut setiap musim panas—sekitar Juli-Agustus–pihak kampus menyediakan kesempatan bagi mahasiswa untuk bekerja.

“Kerjanya seperti ngecet. Lalu menyemen. Yah kerjaan bangunan gitu deh. Tapi bukan ngebangun asrama yah. Renovasi lah. Renovasi bangunan kampus. Seperti asrama dan kelas-kelas kampus RUDN,” tuturnya.

Renovasi memang rutin dilakukan RUDN yang dikenal sebagai kampus besar dari sisi nama dan ukuran. Beberapa jebolannya yang terkenal seperti tokoh Iran Ali Khamenei dan pentolan Venezuela Hugo Chavez.

Kampus RUDN memiliki 57 program studi dengan 7.000 staf dan 35.000 mahasiswa. Masih kalah dengan dengan Universitas Gajah Mada yang memiliki sekitar 50.000 mahasiswa. Namun soal kondisi bangunan kampus sebagai institusi belajar mengajar yang nyaman dan berwibawa, bolehlah UGM belajar pada RUDN.

Jam kerja mahasiswa untuk pekerjaan renovasi atau stroyotryad dimulai dari jam 9.00 hingga sore jam 18.00. Bayaran tergantung jam kerja yang dilakukan mahasiswa. Selain itu mereka mendapat kupon makan siang untuk makan di kantin kampus. Mahasiswa juga mendapat baju untuk bekerja.

Nanda mengaku, kerja renovasi di kampus tak terlalu berat. “Sambil menyelam minum air lah.” Karena dari pekerjaan ini dia bisa meraup sekitar 25.000 Rubel yang cukup untuk dua bulan hidup di Moskow.

Cerita lebih beragam soal jungkir balik dialami Andre Septiyanto. Pria asal Malang, Jawa Timur ini sudah memperoleh gelar dokter dengan spesialis penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran North West Medical University yang dulu bernama St. Petersburg I. I. Mechnikov State Medical Academy (SPSMA).

Jebolan SMA 5 Malang itu pertama kali menginjak Rusia pada 2006 dan mengaku sudah menjajal banyak pekerjaan paruh waktu. Mulai dari kasir di Cafe Bistro, distributor operator MTS—salah satu raksasa selular di Rusia, broker produk Apple dan tentunya kerja kasar membangun taman.

“Tapi sehari tok wes ra kuat (tapi sehari saja sudah tidak kuat),” tutur anak pertama dari pasangan Sudarso dan Yunaeti Rahayu, yang telah melepas masa lajang dengan menyunting perempuan asli Tatarstan tersebut.

Andre mengaku menjalani kerja paruh waktu paling adalah menjadi Costumer Service perusahaan Online Internet cukup terkenal di Rusia hingga dirinya diangkat menjadi manager bagian namun terpaksa ditinggalkannya karena mengganggu kuliah.

Pekerjaan lain tentu saja membantu pihak KBRI ketika ada delegasi asal Indonesia yang datang. “Tidak banyak tapi lumayan buat tambahan uang saku. Yang penting tidak mengganggu jadwal kuliah.”

Rio, Nanda dan Andre mungkin jauh lebih beruntung dibandingkan Enjay Diana, jebolan Fakultas Philology atau bahasa dan sastra Rusia di RUDN yang kini menjadi diplomat di KBRI Moskow.

Jebolan SMA Negeri Cipanas, Jawa Barat itu datang ke Moskow sebagai generasi gelombang kedua pelajar RI tahun 1997. Menurut pria yang kemudian menyunting Nuning Sahfitri itu, saat itu, Rusia masih dalam kondisi miskin dan ‘gawat’. Tiap 100 meter ada polisi atau tentara yang menanyakan surat-surat.

Mengutip Goskomstat Rossii, Rossiiskiy Statisticheskiy Yezhegodnik 2001, 2003, Rossia v Tsifrakh 2002, era 1997 hingga 1998 adalah kondisi ekonomi terburuk Rusia pasca bubarnya Uni Soviet.

Praktis kehidupan Enjay benar-benar sulit. Hanya mengandalkan beasiswa dan kerja paruh waktu dari KBRI yang datang tak tentu. Kondisi masyarakat Rusia sebagai pewaris Uni Soviet juga masih cukup tertutup. Orang asing masih sosok yang dicurigai.

“Selama kuliah tidak bisa nyambi kerja. Saat itu sangat sulit nyambi kerja untuk orang asing. Paling kalau ada tamu dari Indonesia diminta mengantar dan ada yang ngasih untuk nambah makan,” tuturnya.

Putra pasangan Baden bin H Junaedi dan Yuningsih itu mengaku pernah kerja menukang di KBRI. Saat itu dia diminta mengecat, pasang AC dan pasang keramik saat libur kuliah musim panas.

Sayang, dengar punya dengar, ijazah dari Rusia membutuhkan proses penyetaraan yang menyita waktu, tenaga dan kesabaran. Toh dengan segala kesulitan tersebut. Para pelajar tersebut tetap berharap untuk pulang membangun Tanah Air. ‘Khoroso ve Gosti Lucshe Doma” “sangat baik bertamu, tapi itu lebih baik di rumah sendiri”

*Meranti Barat, 12 Juli 2012

Advertisements

1 Response to "Rusia (5): Suka duka pelajar Ri"

jgn pulang deh.,, mending masuk kerja di eropa ato uni eropa laenny dgn ijasah rusia lebih dihargai daripada di indon.. hahahahha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2012
M T W T F S S
« Jun   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: