it’s about all word’s

Rusia (7): Kuburan menarik Moskow

Posted on: August 7, 2012

Rembulan penanda bulan puasa umat Islam datang, sudah menanti di depan mata. Hanya sejumlah jari sebelah tangan. Nyadran atau berkunjung ke kubur sanak keluarga bagi masyarakat Jawa menjadi kegiatan rutin yang tak dilewatkan, termasuk saya tentunya.

Ahli bahasa Jawa, seorang imam Serikat Jesuit, Petrus Josephus Zoetmulder yang tinggal di Yogyakarta, mengajar di UGM dan menutup mata di Muntilan punya thesis menarik perihal ritual nyadran ini.

Dalam Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983), menurutnya, Nyadran berasal dari kata Sraddha, bahasa Sansekerta berasal dari budaya Hindu sejak masa Majapahit. Kegiatan mengunjungi makam leluhur untuk membersihkan makam dan menabur bunga pertama kali dilaksanakan untuk mengenang wafatnya Ratu Tribhuwana Tungga Dewi pada 1352.

Setelah agama Islam masuk ke tanah Jawa, upacara Sraddha tetap dilaksanakan, namun oleh Sunan Kalijaga dikemas dalam nuansa islami dan suasana penuh silaturrahmi yang diadakan tiap bulan Ruwah.

Nah lalu apa hubungannya Nyadran dengan Moskow? Tak lebih tak kurang bicara soal kuburan di negeri Beruang Merah yang unik nyeni tak bikin ngeri. Berkunjung di kuburan, ibu kota Rusia itu justru memberi insprasi.

Kebetulan, diplomat senior KBRI Rusia yang mantan wartawan Tempo di Yogyakarta, M Aji Surya yang mengiming-imingi saya untuk pesiar ke kuburan sejak hari pertama menginjakkan kaki ke Bandara Internasional Domodedovo Moscow. “Saya jamin, ini wisata menarik!”

Saya sempat berpikir mungkin kuburan di Rusia mirip kompleks ‘rumah masa depan’ orang-orang kaya Indonesia di San Diego Hill, Karawang yang harganya sungguh jumawa. Puluhan hingga ratusan juta! Atau malah mirip kuburan tentara Belanda (kerkoff) yang bersih teratur dengan rumput rapi bin mulus.

Sempat terpikir juga makam Rusia bernuansa megah mistis mirip Astana Giribangun tempat jasad Pak Harto dan Bu Tien berdampingan. Atau mirip Imogiri tempat para Sultan Mataram beristirahat dengan tenang.

Atau malah jangan-jangan mirip musoleum Lenin di Lapangan Merah yang dijaga serius mbak-mbak polisi yang siap menyemprit dan menegur para wisatawan jika asyik bertengger di tonggak atau pagar rantai musoleum.

Ternyata, bayangan saya seluruhnya salah! Kuburan Novodevichye Kladbishche di bilangan Luznetsky Proezd sungguh asyik. Berpagar tinggi berkelir merah kokoh bernuansa barok yang dibangun pada abad ke-16. Isinya justru mirip galeri pameran seni patung dan kriya.

Makam Novodevichye yang terletak di barat daya kota Moskwa itu dibangun pada 1898 atas desain arsitek Ivan Mashkov menjadi bagian dari Monastery Novodevichye, merupakan tempat tinggal para agamawan Kristen Ortodoks sekaligus penjara orang-orang besar zaman Peter the Great.

Karena kebutuhan yang mendesak, Pemerintah Soviet—yang komunis–memperluasnya menjadi 7 hektar pada 1949 dan karena unik penuh sejarah, UNESCO menjadikan Novodevichye menjadi monumen sejarah budaya.

Novodevichye Kladbishche memang merupakan kumpulan makam orang-orang terkenal dengan berbagai profesi. Mulai dari jenderal, politisi, agen rahasia, sutradara, penulis, sineas, selebritas, pelawak, musikus, diplomat, tokoh masyarakat, ilmuan, pujangga, jurnalis, pelukis, pematung, arsitek, olahragawan, pemusik, aktor dan sutradara.

Setidaknya, di komplek makam ini terdapat 252 orang terkenal yang berbaring selamanya a.l. ibu negara Raisa Gorbachev, Nadezda Alliluyeva (istri Stalin), kosmonot Pavel Belyayev, aktor Boris Bruinov, pelukis Isaac Levitan, anarkis Peter Kropotkin, peraih Nobel Lev Davidovich Landau, perancang pesawat Tupolev, penulis Antony P Chekov, sastrawan Nikolai Gogol, presiden Nikita Sergeyevich Khrushchev dan Boris Yeltsin hingga seniman macam konduktor Mstislav Leopoldovich Rostropovich.

Semua jadi satu dan merupakan orang-orang terhormat yang berjasa bagi Nusa dan Bangsa—Rusia tentu saja. Boleh dikata—tidak seperti di Indonesia–pahlawan di tempat ini bukan orang yang mati di medan perang saja. Seorang pelatih sepak bola klub Spartak Moskow bahkan terbaring di tempat ini dihangati belasan syal warna-warni tim.

Soal nyeni? Jelas itu yang membuat tempat ini jadi tempat favorit wisata karena nisan atau kijing di tempat ini bukan sekadar tonggak kaku, kotak atau salib. Nisan di tempat ini justru lebih tepat disebut monumen. Ujudnya patung diri, roket, rudal, payung terjun, bola dunia dan macam-macam.

Bahkan, boleh saya nilai. Sulit menemukan nisan dengan tanda salib yang biasa digunakan oleh masyarakat Kristen Ortodoks. Sebuah makam—yang mungkin seorang seniman—malah berupa pasangan lelaki dan wanita yang nyaris polos, asyik bermesraaan.

Ada pula biduanita yang digambarkan terbaring pasrah minta dikecup. Ada juga balerina GC. Ulanova yang tetap menghibur dengan pahatan batu warna putih bersih yang menjulur ke atas. Dengan tangan di atas, rok mini plus ujung jari kaki yang menahan tubuh. Seorang komedian, Yuri W. Nikulin malah duduk santai menjepit rokok ditemani anjingnya.

Makam presiden Boris Yeltsin bahkan tak megah-megah amat. Namanya pun tak besar-besar ditoreh. Bentuknya bahkan lebih mirip onggokan batu besar berkelir warna bendera Rusia. Padahal jika diteliti, nisan itu terbuat dari beberapa marmer pilihan yang disatukan dan dipahat dengan halus.

Khusus bagian tengahnya ditanam batu-batu kecil berwarna biru seperti sebuah mozaik yang ada di berbagai adikarya zaman pertengahan. Nama Boris, hanya kecil ditorehkan di bagian kanan belakang.

Semuanya menyatu dengan taman dengan bebungaan, pohon-pohon tinggi hijau melambai. Sejumlah bangku juga disediakan. Soal kebersihan. Tak usah ditanya. Kuburan ini nyaman membuat betah duduk berlama-lama di dalamnya.

Karena lebih tepat disebut monumen. Harga nisan di tempat ini sungguh mencengangkan. Mulai dari ‘cuma’ US$2.000 hingga ada yang kabarnya bisa mencapai ratusan ribu dolar. Tergantung tingkat kesulitan pembuatan dan bahan dasarnya. Karena bersejarah dan mahal, selain berpagar tinggi. Makam ini dijaga ketat petugas keamanan yang tegap lagi sigap, sayang gagap berbahasa Inggris.

Dengan segala keunikan tersebut. Kompleks makam di Tanah Air sah-sah saja merasa inferior. Toh, meski demikian masih ada satu hal yang bisa disamai bahkan dilampaui oleh kompleks kuburan di Indonesia tak lain tak bukan adalah soal harum jambannya yang akrab menyengat. Selamat menjalankan ritual nyadran.

*Meranti Barat, 15 Juli 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2012
M T W T F S S
« Jun   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: