it’s about all word’s

Rusia (7): Moskow: Metropol seni, budaya dan politik

Posted on: August 7, 2012

Udara segar menyambut saya ketika mendarat di Bandara Domodedovo, Moskow, 15 Juni lalu. Cuaca kurang cerah di musim panas Rusia yang seharusnya semarak oleh matahari yang bersinar 18 jam sehari.

Sebagai salah satu kota termahal di dunia, Moskow sungguh unik. Bukan memamerkan bangunan modern berkilau, justru gedung-gedung klasik yang cantik. Satu hal yang menunjukkan Moskow merupakan metropol adalah kemacetan!

Pusat politik, ekonomi, budaya, keagaam, perputaran uang di tepi bengawan Moskwa ini memang kota tua sejak pangeran Yuri Dolgorukiy dari Rostov mulai memerintahkan membangun Kremlin atau benteng kayu pada 1156. Jauh lebih tua dibandingkan dengan Kerajaan Majapahit yang baru berdiri pada 1293.

Sebagai ibu kota, Moskow adalah pusat penghasil ilmuwan, sastrawan dan tentu saja konglomerat. Toh meski kaya raya, Moskow tetap tampil bersahaja. Bangunan-bangunan tua terawat dan dipertahankan bentuknya oleh pemerintah kota.

Pusat wisata tentu saja di seputaran Lapangan Merah yang memisahkan Kremlin atau benteng dari istana kenegaraan tempat tinggal Presiden Rusia, dengan Kitaigorod atau GUM, pusat perbelanjaan di Moskow.

Lapangan Merah adalah alun alun kota tempat segala aktifitas warga Moscow dilakukan, mulai upacara kenegaraan, karnaval, jalan jalan sore dan juga tempat para remaja di kota ini duduk-duduk mandi matahari dan tentu saja pacaran.

Saya sungguh beruntung datang ke Moskow ketika Musim Panas. Masa ketika perempuan-perempuan Moskow suka rela memamerkan tubuh indah mereka untuk disengat sinar matahari yang selama musim dingin sulit didapat.

Etalase Moskow

Boleh dikata, berkunjung ke Lapangan Merah berarti sudah menyambangi ke hampir seluruh obyek wisata di kota Moscow. Cukup jalan kaki santai sudah bisa menyesap sejarah Moscow yang dengan segala cara dipertahankan.

Nama Lapangan Merah diambil berdasarkan warna batu bata pada dinding dan bangunan yang mengelilingi lapangan ini. Ada juga yang menghubungkan dengan warna kebesaran komunis yang berkuasa saat itu.

Tetapi, ada juga yang mengatakan berasal dari kata krasnaya yang berarti “Merah” atau “Indah”, untuk menggambarkan keindahan Gereja St Basil yang juga berada di tepi lapangan merah ini.

Pada tepi lapangan merah terdapat Lenin Mussoleum, Katedral St Basil dan tentu saja Istana Negara Kremlin tempat presiden Rusia bertugas. Ada juga kuburan atau tempat abu para tokoh Rusia dan api abadi.

Katedral St Basil adalah bekas bangunan katedral yang sekarang terkenal sebagai identitas kota Moscow. Bangunan ini tidak begitu besar dan ruang didalamnya sangat sempit dan sebenarnya lebih cocok dikatakan sebagai katedral pribadi karena hanya bisa memuat beberapa orang saja.

Bangunan ini dibangun saat kekuasaan Ivan IV atau yang lebih dikenal sebagai Ivan The Terible antara 1555 – 1561. Mirip Taj Mahal, konon, arsitek pembuatnya Postnik Yakovlev dibutakan dengan bola mata dicungkil oleh Ivan The Terible agar tak bisa melihat hasil karyanya dan membuat bangunan sejenis yang lebih besar lagi.

Sementara Kremlin juga tak kalah uniknya. Dengan 20 menara, Kremlin sungguh menarik, terutama menara Spasskaya yang memiliki tinggi 71 meter. Sebetulnya terdapat tur mengelilingi Kremlin yang memiliki luas 27,5 hektare tersebut, sayang rombongan kami terlambat datang.

Bagi yang merasa sebagai penyuka mal, jangan lewatkan berkunjung ke GUM. Pusat belanja di Kitaigorod ini adalah mal raksasa yang dibangun pada 1890-an oleh duet arsitek dan ahli teknik, Alexander Pomerantsev dan Vladimir Shukhov.

Mal klasik ini sungguh asyik karena memiliki atap rangka baja dan kaca. Jembatan-jembatan membuat suasana mal sungguh semarak. Tak heran, banyak pengantin baru berwara-wiri di GUM untuk berfoto.

Bagi penggila arsitektur, dipastikan tak bosan-bosannya memandangi atap rangka GUM yang luar biasa. Dengan diameter 14 meter, rangka terlihat ringan padahal konstruksinya sungguh perkasa karena disusun dari 50.000 keping metal

Rangka kaca melengkung GUM didesain Shukhov untuk mampu menahan beban tumpukan salju ataupun menahan beban 20.000 panel kaca. Jika ditotal, atap kaca GUM memiliki berat total mencapai 743 ton!

Namun, Moskow bukan hanya lapangan Merah. Ada juga Katedral Christ the Saviour yang merupakan gereja Ortodok Barat tertinggi di dunia di tepi Sungai Moskwa, beberapa blok di barat Kremlin. Begitu pula Bolshoi Theater, Gedung KGB, Gorky Park dan lain lain.

Jika suka yang modern, bisa berkunjung ke Menara Ostankino yang merupakan pemancar televisi dan radio di sana. Tingginya mencapai 540 meter. Tower karya Nikolai Nikitin ini menjadi menara nomor tiga tertinggi di dunia setelah Burj Dubai.

Namun bagi para wisatawan, ke Moskow tak akan lengkap jika tak menyambangi Old Arbat. Ini adalah nama jalan yang paling terkenal buat para turis. Lokasinya di belakang Kantor Kementerian Luar Negeri Rusia. Lagi-lagi, didominasi bangunan-bangunan kuno peninggalan abad ke-20.

Berbelanja di Arbat cukup menyenangkan. Beberapa penjualnya malah ada yang bisa merayu Anda dengan kata-kata. “Murah” atau “Indonesia bagus”. Tentu saja meski umumnya pertokoan, Anda bisa menawar harga.

Satu hal yang membuat saya menyesal adalah tak sempat menyusuri Stasiun metro di Moskow yang merupakan stasiun yang terindah di dunia, sehingga mirip istana bawah tanah. Dengar punya dengar sistem transportasi yang dibangun pada masa Stalin itu luar biasa indah. Suatu hari, saya harus kembali!

*Timoho, 3 Juli 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2012
M T W T F S S
« Jun   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: